Bekerja dari Rumah alias Working From Home (WFH): Sebuah Simbol Status Baru? | SOSBUD: Laporan seputar seni, gaya hidup dan sosial | DW | 10.06.2021
  1. Inhalt
  2. Navigation
  3. Weitere Inhalte
  4. Metanavigation
  5. Suche
  6. Choose from 30 Languages
Iklan

Bisnis

Bekerja dari Rumah alias Working From Home (WFH): Sebuah Simbol Status Baru?

Jutaan warga Jerman senang dengan tren WFH dan banyak perusahaan mengatakan bekerja secara fleksibel akan tetap berlanjut setelah pandemi COVID-19. Namun, tren tersebut ternyata punya sisi negatif.

Foto ilustrasi bekerja dari rumah

Foto ilustrasi bekerja dari rumah

Kehidupan bekerja jutaan orang Jerman tampaknya akan menjadi lebih fleksibel setelah pandemi virus corona. Perusahaan besar, terutama, mengungkapkan bahwa mereka akan terus bergantung pada fenomena bekerja dari rumah alias WFH, yang telah dimulai sejak Maret 2020.

Raksasa software SAP salah satunya, akan memberikan pegawainya kebebasan penuh untuk bekerja dari rumah, kantor ataupun di tempat lain di masa mendatang. Kepada kantor berita Reuters, Julia White, kepala pemasaran dan solusi perusahaan tersebut, mengatakan bahwa "kami ingin memberikan pegawai kami pilihan.”

Grup yang terdaftar di Indeks Saham Jerman DAX itu mengirimkan sebuah email kepada sekitar 100 ribu pegawainya pada 1 Juni 2021, menjanjikan sebuah "tempat kerja yang 100% fleksibel dengan tempat kerja berbasis kepercayaan sebagai norma baru.” Dalam sebuah survei karyawan, 94% pegawai mendukung gerakan tersebut, kata White.

Lewat kebijakan ini, SAP selangkah lebih maju daripada banyak perusahaan lain. Deutsche Bank dan Commerzbank, di sisi lain, mengungkapkan bahwa mereka hanya akan mengimplementasikan skema untuk bekerja dari rumah secara parsial.

Daya tarik utama untuk talenta baru

Pendekatan anyar ini adalah sebuah keuntungan besar ketika merekrut talenta baru, kata White, yang juga merupakan anggota dewan direksi dari SAP. White bergabung dengan perusahaan berpusat di Walldorf itu pada bulan Maret, dan menurutnya proses lamarannya berjalan sepenuhnya secara jarak jauh.

"Saya tidak bertemu satu orang pun,” kata warga Amerika itu. "Sebagai seorang ibu tunggal, saya tahu seberapa pentingnya untuk bisa bekerja secara fleksibel.” Baru pada akhir bulan Mei, White pergi ke Walldorf untuk pertama kalinya untuk bertemu dengan sesama anggota direksi, termasuk CEO SAP, Christian Klein.

Remote working atau kerja jarak jauh telah lama menjadi bagian dari perusahaan digital raksasa seperti IBM atau SAP. SAP bahkan telah memulai skema-skema percontohan di London, Sydney, dan Zurich. Kini, raksasa software Jerman itu ingin mendapatkan keuntungan dari tren yang membuat bekerja semakin fleksibel tersebut. Bagaimanapun juga, SAP memiliki teknologi untuk membantu klien yang tertarik, pungkas White.

WFH tidak cocok untuk semua oranag

Tapi tentu tidak semua orang ingin bekerja tanpa kantor, termasuk di perusahaan berteknologi canggih. Dibandingkan jenis pekerjaannya, keadaan rumah seseorang lebih menjadi faktor penentu keberhasilan pergantian tersebut.

Apartemen yang kecil misalnya, dapat membuat bekerja dari rumah, menjaga anak, dan sekolah dari rumah sulit untuk diseimbangkan. Tidak adanya ruang belajar, ruang tamu atau kamar tidur terpisah justru meningkatkan tingkat stres untuk keluarga selama lockdown COVID-19.

Sebuah survei yang dilakukan oleh TU Darmstadt melihat peluang dan risiko perluasan skema kerja dari rumah ini. Para peneliti menemukan bahwa realita bekerja dari rumah seringkali benar-benar berbeda dari yang dipersepsikan, setidaknya oleh 952 pekerja kantoran dari seluruh Jerman yang diwawancarai dalam studi itu.

Studi tersebut juga menemukan bahwa lebih dari sepertiga pekerja mengatakan mereka kurang produktif di rumah dibandingkan di kantor. 

"Cara hidup orang menentukan apakah mereka bisa bekerja dengan baik dari rumah,” kata Andreas Pfnür, Kepala Departemen Manajemen Real Estate dan Manajemen Konstruksi di TU Darmstadt.

"Semakin puas partisipan survei dengan kondisi hidup mereka – baik secara lokasi dan tata letak rumah mereka – semakin puas dan produktif mereka dengan remote working," tambahnya.

Sementara itu, para pegawai lajang dan muda, yang cenderung tinggal di apartemen yang lebih kecil kerap mengeluh soal isolasi dan kurangnya komunikasi dengan kolega. Kurangnya pengembangan profesional yang dirasakan juga menjadi masalah.

"Interaksi sosial langsung dengan rekan kerja, kesempatan untuk belajar dari kolega senior, dan kesempatan karir tidak begitu terasa saat bekerja di rumah,” kata Pfnür. "Oleh karena itu, karyawan muda kehilangan sedikit identifikasi dengan pekerjannya. Ini juga berdampak pada berkurangnya kepuasan hidup.”

Tonton video 04:06

Dampak Corona atas Kesehatan Mental

Bekerja dari rumah sebagai simbol status baru?

Studi TU Darmstadt itu juga menunjukkan bahwa pekerjaan kantor yang tidak bisa di-outsource akan tetap ada, dan perkantoran juga tidak akan hilang dalam waktu dekat.

Para peneliti di TU Darmstadt menemukan bahwa kerangka untuk bekerja dari rumah harus benar-benar tepat: dibutuhkan teknologi yang sesuai dan keputusan untuk bekerja dari rumah harus bersifat sukarela.

"Tanpa proses pergantian yang aktif, risiko-risiko ‘work from home', yang diungkapkan data empiris studi kami, terancam lepas kendali,” kata Pfnür. Sebuah fenomena bisa menyebabkan masalah sosial yang luas "jika otoritas publik dan perusahaan tidak mencegah hal ini.”

"Bekerja dari rumah dapat membuka jalan untuk dua tingkatan dalam masyarakat," tutur Pfnür. Di satu sisi ada karyawan-karyawan dengan pekerjaan menarik, yang bisa menikmati hidup dalam apartemen yang nyaman. Di sisi lain ada mereka yang hidup dalam kondisi kerja yang tidak stabil atau tidak menunjang, yang akan kesulitan membuat bekerja jarak jauh berjalan baik, tambahnya.

"Bekerja dari rumah sedang dalam perjalanan untuk menjadi simbol status bagi para pemenang dunia kerja yang baru," kata Pfnür menyimpulkan.

Ia dan timnya pun ingin menambahkan hasil studi tersebut dengan data dari luar negeri dan mengumpulkan berbagai rekomendasi untuk pengusaha, politik, dan industri real estate serta urban planning.

Ed: vv/gtp

Laporan Pilihan