Bantuan Kemanusian di Sri Lanka Terancam | Sosial | DW | 20.09.2006
  1. Inhalt
  2. Navigation
  3. Weitere Inhalte
  4. Metanavigation
  5. Suche
  6. Choose from 30 Languages

Sosial

Bantuan Kemanusian di Sri Lanka Terancam

Pemerintah Srilanka menuding organisasi bantuan sebagai kedok untuk meraup keuntungan, bekerja tidak efisien dan berpihak kepada pemberontak.

Warga yang bermukim di kamp pengungsi Kantale, Sri Lanka

Warga yang bermukim di kamp pengungsi Kantale, Sri Lanka

Pertempuran antara kelompok macan Tamil dan tentara pemerintah Sri Lanka menyebabkan lebih dari 200.000 orang mengungsi sejak awal tahun ini. Keadaannya amat memprihatinkan, apalagi setelah perang saudara dan wilayah mereka diterjang Tsunami, kini pecah kembali perang. Masyarakat Mutturs di timur laut Sri Lanka misalnya, dimana bulan Agustus lalu terjadi perang paling hebat sejak lima tahun terakhir.

Sampai beberapa waktu lalu, organisasi bantuan Prancis AFC membantu para korban Tsunami dengan pemasokan saluran air bersih di Muttur. Setelah pertempuran baru-baru ini serta pembantaian masal pekerja ACF, mennyebabkan organisasi ini menarik para petugas bantuannya. Pemerintah tidak berbuat apa-apa, demikian keluhan warga, yang menggantungkan harapan pada organisasi-organisasi bantuan.

Beberapa minggu terakhir ini, pemerintah Sri Lanka melancarkan kampanye anti pekerja bantuan asing. Dalam harian Sri Lanka, organisasi-organisasi asing tersebut dituding hanya sebagai kedok untuk meraup keuntungan, bekerja tak efisien dan berpihak kepada pemberontak. Demikian dikatakan Jehan Parera, seorang aktifis perdamaian.

Nampaknya keadaan makin memburuk. Sebelumnya tak pernah dilancarkan kampanye propaganda yang menjurus. Sekarang, terutama media-media pemerintah mencoba mencemarkan organisasi bantuan kemanusiaan.

Pemerintah Sri Lanka berupaya untuk mencegah semua organisasi bantuan memasuki daerah daerah yang dikuasai para pemberontak, termasuk Palang Merah, Perserikatan Bangsa-Bangsa hingga organisasi swasta. Dorothe Nett dari organisasi bantuan kelaparan Jerman yang bertugas di Kolombo menerangkan.

Saat ini proyek-proyek bantuan kami terancam, terutama yang berlokasi di utara dan Timur laur Sri Lanka, karena kami sebagian tak bisa memasok material dan bahan pangan. Penduduk juga telah diusir meninggalkan kampungnya karena kami tak bisa memasok material dan bahan pangan. Saat ini kami sangat dipersulit untuk masuk kawasan tersebut. Kami tidak tahu, berapa banyak korban perang dan berapa banyak yang masih membutuhkan bantuan.”

Setelah pembunuhan bermotif politik dan korban sipil berjatuhan, organisasi bantuan meyakini, Pemerintah Sri Lanka berusaha menutupi situasi di kawasan perang.

Sebaiknya pemerintah Srilanka berdalih, pengusiran itu dikarenakan alasan keamanan mereka. Palita Kohona yang memimpin sekrtariat perdamain pemerintah Sri Lanka mendukung banyak yang berkedok bantuan untuk mendukung pemberontak LTTE.

LTTE di masa lalut elah menggunakan organisasi bantuan untuk menyelundupkan bantuan militer asing. Karena itu kementrian pertahanan harus melancarkan tindakan keamanan. Dengan itu, organisasi yang benar benar mengmban tugasnya dapat tetap meneruskan tugasnya. Kerja mereka amat kami harapkan dan kami mendukungnya.”

Komunitas internasional telah berkali-kali memperingatkan pemerintah Sri Lanka: bila organisasi bantuan tidak dapat bekerja dengan bebas, maka mereka akan mempertimbangkan untuk menghentikan bantuannya