Bantuan Internasional Bergerak ke Yogya dan Jateng | Fokus | DW | 28.05.2006
  1. Inhalt
  2. Navigation
  3. Weitere Inhalte
  4. Metanavigation
  5. Suche
  6. Choose from 30 Languages

Fokus

Bantuan Internasional Bergerak ke Yogya dan Jateng

Organisasi bantuan Jerman sudah mempersiapkan pengiriman tim dan bahan bantuan darurat ke kawasan bencana.

default

Ungkapan belasungkawa dan pernyataan simpati datang dari seluruh pelosok dunia, diantaranya dari Sekjen PBB Kofi Annan, Presiden Rusia Vladimir Putin dan Kanselir Jerman Angela Merkel. Bersamaan dengan itu, sejumlah negara dan organisasi kemanusiaan berjanji akan segera memberikan bantuan darurat bagi para korban.

Di Jerman, persiapan untuk mengirimkan tim bantuan darurat ke Yogyakarta sudah dimulai. Badan bantuan Arbeiter Samariter Bund (ASB) memiliki tim tenaga ahli di Sri Lanka. Tim yang terdiri dari tujuh orang tersebut siap diturunkan, kata juru bicara ASB, Edith Wallmeier.

Edith Wallmeier: “Tim ini terdiri dari sejumlah tenaga ahli yang sudah terlatih menangani situasi darurat dan memberi bantuan kemanusiaan. Diantaranya ada tenaga medis, insinyur, pakar geologi dan geografi. Mereka terbiasa membangun kamp penampungan dan membagikan paket bantuan kepada korban selamat sehingga kami sudah siap menghadapi situasi apapun di sana.“

Organisasi Bantuan Samaritan Jerman (ASB)bergerak di bidang bantuan darurat dan pertolongan pertama di dalam maupun luar negeri. Tim darurat ASB sudah terbiasa menangani situasi krisis, misalnya di kawasan perang atau setelah terjadinya bencana alam.

Tim darurat lain yang sudah bertolak dari Jerman Sabtu malam adalah tim medis organisasi bantuan humedica. Pimpinan tim Markus Köhler, yang pernah bekerja di kawasan krisis Sudan dan Somalia menjelaskan, anggota organisasi bantuan humedica memang siap terjun setiap saat.

Markus Köhler: “Kami punya 650 tenaga medis yang terlatih, bila ada situasi darurat akibat bencana kami menghubungi anggota kami. Dari tenaga ahli yang bersedia turun ke lapangan, kami menentukan siapa yang akan berangkat. Dalam tim kami misalnya ada seorang ahli bedah, biasanya ini sangat dibutuhkan setelah bencana gempa bumi.“

Tim Markus Köhler, yang beranggota tiga orang dokter tersebut akan tiba di Indonesia Minggu (28/5) sore. Mereka membawa peralatan bedah dan perlengkapan medis lainnya sesuai dengan standar Organisasi Kesehatan Dunia (WHO). Selain itu, mereka menyiapkan obat-obatan untuk sekitar 3.000 pasien. Markus Köhler menambahkan, ia memperkirakan penugasan di kawasan bencana selama sepuluh hari sampai dua minggu.

Markus Köhler: "Secara umum kami tidak mengirim tim tunggal, memang kami tim pertama yang berangkat dan pengiriman tim lainnya tergantung dari hasil penjajagan kami di tempat kejadian. Kami tidak tahu bagaimana situasi di sana dan berapa banyak tim yang dibutuhkan, angka dan data yang kami terima masih simpang siur.“

Kendala akibat data yang tidak jelas mengenai jumlah korban dan bantuan darurat yang dibutuhkan tak hanya dihadapi organisasi bantuan yang berada di luar Indonesia. Worldvision, sebuah organisasi bantuan internasional, sudah mengirimkan koordinator untuk Indonesia ke kawasan bencana. Staf Worldvision berangkat dari Jakarta, Sabtu (27/5) kemarin. Mereka membawa bahan bantuan bagi 200 keluarga, kata Iris Manner dari Worldvision Germany:

Iris Manner: “Paket bantuan untuk korban gempa bumi terdiri dari obat-obatan, terpal untuk membuat tenda bila dibutuhkan. Selain itu selimut, pakaian, jirigen air dan lain-lain.“

Selain truk dengan bahan bantuan darurat tersebut, Worldvision juga mengirimkan tim untuk mengevaluasi situasi kawasan bencana. Setelah itu, barulah badan bantuan internasional tersebut dapat memperkirakan, bentuk bantuan yang dibutuhkan oleh korban selamat gempa bumi di Yogyakarta. Saat ini, Worldvision Germany baru menyiapkan 100.000 Euro atau sekitar 124 miliar Rupiah untuk dana bantuan darurat.

Iris Manner: “Uang ini akan ini akan digunakan untuk mendukung upaya menyelamatkan nyawa, misalnya untuk bantuan medis dan mendirikan tempat penampungan sementara. Kami mengakses situasi dan mencari tahu apa saja yang dibutuhkan sehingga kami fleksibel dalam menggunakan dana tersebut.“

Selanjutnya Iris Manner menerangkan, setelah bantuan darurat diberikan, dibutuhkan dana untuk menyediakan air minum bersih dan sarana infrastruktur lain yang hancur akibat gempa bumi. (zer)