Bank Dunia Peringatkan Kekeringan di Afrika | DUNIA: Informasi terkini dari berbagai penjuru dunia | DW | 16.09.2009
  1. Inhalt
  2. Navigation
  3. Weitere Inhalte
  4. Metanavigation
  5. Suche
  6. Choose from 30 Languages
Iklan

Dunia

Bank Dunia Peringatkan Kekeringan di Afrika

Laporan tahunan Bank Dunia tentang perkembangan kali ini mengetengahkan tema dampak perubahan iklim di daerah gurun Afrika. Sejalan dengan temanya, laporan diperkenalkan di ibukota Kenya, Nairobi.

Logo Bank Dunia dan Peta Afrika

Logo Bank Dunia dan Peta Afrika

Untuk pertama kalinya dalam sejarah Bank Dunia, badan internasional itu memilih lokasi di luar Washington untuk memperkenalkan laporannya untuk tahun depan. Pemilihan lokasi sudah merepresentasikan isi laporan. Temanya perubahan iklim dan kekeringan. Untuk itu tidak ada kota yang lebih tepat lagi daripada ibukota Kenya, Nairobi. Sebab di negara Afrika Timur itu, selama tahun ini dan sebagian tahun lalu tidak turun hujan.

Di sungai-sungai hanya sedikit air yang mengalir, sumber air dan sumur kering. Ternak banyak yang mati dan semakin banyak orang di negara itu memerlukan bantuan pangan. Pemimpin kantor Bank Dunia di Kenya, Johannes Zutt mengatakan, "Kekeringan bertambah dalam 10 tahun terakhir akibat perubahan iklim. Dampaknya dapat dilihat jelas. Kami mengalami di Kenya, bahwa tidak adanya air juga berarti tidak adanya bahan pangan dan energi. Karena semuanya tergantung pada curah hujan yang cukup."

Negara Berkembang Tanggung Dampaknya

Menurut perkiraan Bank Dunia, negara berkembang akan menanggung hingga 80% dampak perubahan iklim. Penambahan suhu bumi rata-rata dua derajat di Afrika dan Asia Selatan akan berdampak begitu besar, sehingga perkembangan ekonomi akan berkurang sekitar 5%. Panen akan lebih jarang lagi daripada sekarang. Johannes Zutt mengatakan, warga miskinlah yang akan paling menderita. Mereka tidak dapat hidup tanpa panen, dan konsekuensinya adalah: kelaparan, kurang gizi dan bertambahnya penyakit.

Global Media Forum Teilnehmer Wangari Maathai

Wangari Maathai

Berkaitan dengan itu Bank Dunia menuntut agar emisi gas-gas perusak iklim dikurangi hingga 80%. Untuk itu diperlukan teknologi baru. Aktivis perlindungan lingkungan Kenya dan pemenang Nobel Perdamaian, Wangari Maathai berharap agar pemerintah semua negara berusaha lebih keras untuk mencari sumber energi yang bisa diperbarukan. Menurut Maathai, jika pemerintah mengambil keputusan yang tepat, banyak yang bisa dilaksanakan, karena pemerintahlah yang membuat undang-undang.

Peran Negara Industri Maju dan Negara Berkembang

Wangari Maathai berharap KTT mengenai iklim yang diadakan PBB di Kopenhagen Desember mendatang akan membawa kemajuan. Dalam konferensi itu negara-negara industri maju juga harus memikirkan Afrika dalam pengambilan keputusan, demikian Maathai. Tetapi aktivis pelindung lingkungan itu juga menuntut negara-negara berkembang untuk aktif.

Maathai mengatakan, "Saya yakin, walaupun pemerintah negara lain menolong kita di Kopenhagen, jika kita tidak dapat melakukan hal-hal kecil bagi kita sendiri, kita tetap akan menderita. Dan ternak kita akan mati, dan kemungkinan kita juga akan mati dan melihat kejadian-kejadian yang jauh lebih buruk daripada yang sudah kita alami sekarang.“

Oleh sebab itu tuntutan utama Bank Dunia adalah: bertindak cepat, bertindak bersama dan mengambil tindakan yang berdampak untuk jangka panjang. Kalaupun penambahan rata-rata suhu Bumi sebanyak dua derajat tidak dapat dihindari, setidaknya harus diusahakan agar Bumi tidak tambah panas lagi.

Antje Diekhans / Marjory Linardy

Editor: Asril Ridwan