1. Buka konten
  2. Buka menu utama
  3. Buka situs DW lainnya
Orang-orang menanti untuk bisa membeli bensin di Kolombo, 27 Juni 2022
Orang-orang menanti untuk bisa membeli bensin di Kolombo, 27 Juni 2022Foto: Eranga Jayawardena/AP/picture alliance
PolitikSri Lanka

Bangkrutnya Sri Lanka Jadi Peluang India Geser Pengaruh Cina

1 Juli 2022

Lokasi strategis Sri Lanka telah menarik minat sangat besar dari adidaya regional Cina dan India. Selama ini Beijing meluncurkan berbagai proyek infrastruktur raksasa, tapi situasi di Sri Lanka makin runyam.

https://www.dw.com/id/bangkrutnya-sri-lanka-jadi-peluang-india-perbesar-pengaruh/a-62324626

Sri Lanka hari Jumat (1/7) melaporkan, tingkat inflasi di negara itu pada bulan Juni mencapai 54,6%. Inilah untuk kesembilan kalinya berturut-turut angka inflasi mencatat rekor tertinggi. Keruntuhan ekonomi Sri Lanka kini membuka peluang bagi India untuk memperkuat pengaruhnya dengan menawarkan bantuan keuangan dan material besar-besaran kepada negara tetangganya itu.

Utang pemerintah Sri Lanka mencapai USD 51 miliar dan negara itu tidak mampu lagi melakukan pembayaran bunga utangnya. Sri Lanka telah menangguhkan pembayaran utang luar negeri sebesar USD 7 miliar yang jatuh tempo tahun ini, dari jumlah seluruhnya USD 25 miliar yang harus dilunasi sampai tahun 2026. Saat ini negara itu masih menunggu hasil negosiasi dengan Dana Moneter Internasional IMF mengenai paket penyelamatan.

Cina selama ini merupakan kreditur terbesar ketiga Sri Lanka setelah Jepang dan Bank Pembangunan Asia. Beijing telah menawarkan untuk meminjamkan lebih banyak, tetapi menolak keras untuk menghapus beberapa utang Sri Lanka. Cina kahwatir jika tuntutan itu dipenuhi, peminjam lain di Asia dan Afrika akan menuntut persyaratan bantuan yang sama.

Perdana Menteri Ranil Wickremesinghe, yang menjabat setelah Mahinda Rajapaksa mengundurkan diri mengatakan, Sri Lanka belum bisa mengakses USD 1,5 miliar pinjaman yang ditawarkan Cina, karena Beijing mengajukan persyaratan, Sri Lanka harus memiliki cadangan devisa yang cukup untuk tiga bulan.

Namun Beijing berjanji untuk "memainkan peran positif” dalam pembicaraan Sri Lanka dengan IMF dan menyediakan anggaran sekitar USD 75 juta sebagai bantuan kemanusiaan, kata juru bicara Kementerian Luar Negeri China, Zhao Lijan.

Proyek ambisius pelabuhan Hambantota
Proyek ambisius pelabuhan internasional Hambantota yang bangkrut dan akhirnya disewakan ke Cina untuk masa 99 tahunFoto: Liu Hongru/Xinhua/imago images

Proyek pelabuhan ambisius yang gagal

Sebagai bagian dari proyek Belt and Road Initiative (BRI) yang dicanangkan Presiden Xi Jinping, Cina telah mendanai berbagai proyek infrastruktur di seluruh Asia dan Afrika. Mantan Presiden Sri Lanka Mahinda Rajapaksa telah menerima banyak pinjaman proyek, termasuk utang USD 1,1 miliar untuk membangun pelabuhan di daerah kelahirannya Hambantota, meskipun banyak ahli di Sri Lanka menolak proyek itu.

Ketika pelabuhan laut itu gagal menghasilkan pendapatan devisa yang dibutuhkan untuk membayar kembali pinjaman Cina, Sri Lanka tahun 2017 terpaksa menyerahkan fasilitas Pelabuhan serta ribuan hektar tanah di sekitarnya kepada Beijing untuk masa pengelolaan selama 99 tahun.

"Bagi Beijing, kepentingannya di Sri Lanka dan Samudra Hindia tampaknya lebih bermotivasi ekonomi ketimbang militer", kata Rahul Roy-Chaudhury, analis dari International Institute for Strategic Studies (IISS) yang berbasis di London.

"Di sisi keamanan, bagi Cina itu bukan prioritas, tetapi ini adalah peluang yang muncul bagi Cina untuk meningkatkan pengaruhnya di Asia Selatan dan ... untuk melawan pengaruh India,'' katanya.

"Sri Lanka sendiri, seperti banyak negara lain di kawasan itu, membutuhkan Cina dan India, tambah Roy-Chaudhury. Para pemimpin negara-negara ini harus pro-India dan pro-Cina pada saat yang sama.'

Aksi protes di Kolombo menuntut presiden mundur, 29 Mei 2022
Aksi protes di Kolombo menuntut presiden mundur, 29 Mei 2022Foto: Dinuka Liyanawatte/REUTERS

India kembali rebut pengaruh

India sementara itu telah menyalurkan bantuan beras, susu bubuk, obat-obatan dan bantuan kemanusiaan lainnya bernilai jutaan dolar, termasuk bahan bakar diesel dan bensin. India juga telah memberikan Sri Lanka fasilitas kredit sampai USD 4 miliar, dengan persyaratan ringan.

India baru-baru ini juga berhasil memenangkan beberapa proyek penting di Sri Lanka, yang juga diminati oleh Cina. Pada bulan Maret lalu misalnya, Sri Lanka menyelesaikan usaha patungan dengan India untuk mengembangkan pembangkit listrik tenaga surya. Pada bulan yang sama, Sri Lanka mengakhiri kontrak dengan perusahaan Cina untuk membangun ladang energi angin senilai USD 12 juta dan menawarkannya kepada India.

"Tidak ada yang namanya amal dalam politik internasional,” kata Sreeram Chaulia, direktur School of International Affairs di O.P. Jindal University di Sonipat, India. "Tujuannya (bantuan India) adalah untuk mengusir Cina dari halaman belakangnya dan mengembalikan keseimbangan yang menguntungkan bagi New Delhi.” Sri Lanka selama ini adalah satu satu negara tujuan ekspor utama bagi India.

hp/as (ap, rtr)