Ban Ki Moon Sekjen Baru PBB | Fokus | DW | 01.01.2007
  1. Inhalt
  2. Navigation
  3. Weitere Inhalte
  4. Metanavigation
  5. Suche
  6. Choose from 30 Languages

Fokus

Ban Ki Moon Sekjen Baru PBB

Mulai 1 Januari 2007, Ban Ki Moon resmi menjabat sebagai Sekjen PBB di New York. Dia ingin memulai masa kerjanya dengan semangat.

Serah Terima Jabatan Sekjen PBB

Serah Terima Jabatan Sekjen PBB

Tahun Baru, peruntungan baru? Ban Ki Moon, Sekretaris Jenderal baru PBB mungkin membutuhkannya. Tidak hanya karena dia harus lepas dari bayangan Kofi Annan, namun juga karena Ban ingin merapikan jajaran stafnya di markas besar PBB.

Di samping pergantian jajaran pejabat PBB secara hampir menyeluruh, diharapkan juga berembus angin segar di markas besar PBB di New York. Ban mengatakan „Ini akan meningkatkan moral, profesionalitas, dalam tanggung jawab para staf.“

Jika mendengarkan paparannya mengenai kebijakan personalia, Sekjen baru PBB ini terdengar seperti direktur utama: „Saya ingin memperbaiki sistem dalam manajemen sumber daya manusia, di mana saya memberikan kesempatan dengan pelatihan dan mobilitas.”

Kepala administrasi PBB ini tidak memiliki cukup banyak waktu, karena awal bulan ini negara pemilik hak veto Rusia akan menjabat sebagai Ketua Dewan Keamanan organisasi dunia tersebut. Rusia juga akan mengangkat tema lama dalam agenda harian namun dengan desakan baru. Seperti masalah Darfur yang belum terselesaikan hingga Kofi Annan turun dari jabatannya.

Annan menyatakan: „Tanggung jawab untuk melindungi warga merupakan tanggung jawab pemerintah di Khartum. Penolakan pemerintah di Khartum untuk menerima bantuan membawa pemerintah Sudan ke dalam situasi yang sulit.“

Annan mengharapkan Ban untuk terus melakukan tekanan. Di bulan Januari ini, Sekretaris Jenderal baru ini harus menyerahkan laporan pertamanya tentang Sudan.

Walau pun para anggota tetap DK PBB tidak menginginkan, selambatnya di pekan kedua Januari Ban Ki Moon harus kembali mengangkat tema Somalia dalam agenda rapat harian seperti yang tertulis di resolusi terakhir.

Ban juga harus melanjutkan melakukan tekanan terhadap Iran, seperti yang sudah ditetapkan, jika pemerintah di Teheran tidak mematuhi resolusi.

Sebelum mengundurkan diri, Annan sudah menyebutkan hal tersebut dan mengingatkan jangan dilakukan ancaman perang yang akan berdampak bencana.

Reformasi PBB juga merupakan tugas yang tidak mudah. Thomas Matussek, duta besar Jerman di PBB dengan putus asanya mengemukakan: „Kami sudah menjalani 20 bulan tanpa menghasilkan sesuatu dan sedikitnya kemajuan bahkan mengakibatkan rasa frustrasi para anggota.“

Matussek mengingatkan masyarakat dunia untuk tidak melanjutkan perluasan Dewan Keamanan karena dapat merugikan PBB. Komposisi 15 negara anggota DK PBB yang tidak sesuai zaman merusak citra lembaga tertinggi PBB ini terutama di mata negara Arab, ditambah lagi sengketa baru dalam krisis Somalia.

Ban Ki Moon masih punya waktu hingga sidang umum PBB mendatang pada 18 September 2007. Pengamat PBB Profesor Edward Luck yakin, Sekjen baru PBB yang mendapat dukungan dari Cina dan Amerika Serikat ini dapat melanjutkan kerja Annan dengan baik.