Ban Ki Moon Menentang Hukuman Mati | Fokus | DW | 25.01.2007
  1. Inhalt
  2. Navigation
  3. Weitere Inhalte
  4. Metanavigation
  5. Suche
  6. Choose from 30 Languages

Fokus

Ban Ki Moon Menentang Hukuman Mati

Dalam kunjungan pertamanya ke Uni Eropa sebagai Sekjen PBB, Ban Ki Moon mengatakan akan mendukung upaya penghapusan hukuman mati.

Sekjen PBB Ban Ki Moon

Sekjen PBB Ban Ki Moon

"Setiap orang memiliki hak atas kehidupan yang layak. Kehidupan manusia harus dihormati dan dilindungi. Saat ini ada upaya dalam masyarakat internasional untuk menghapus hukuman mati. Saya mendukung upaya ini.“

Demikian Ban Ki Moon. Awal Januari lalu, sejumlah pendapatnya mengenai hukuman mati sempat dikritik oleh dunia internasional karena bertentangan dengan konstitusi Perserikatan Bangsa Bangsa. Ketika itu, Ban yang berasal dari Korea Selatan mengatakan, setiap negara anggota PBB harus menentukan sikapnya sendiri terhadap hukuman mati. Korea Selatan, seperti 67 negara lainnya di dunia masih memberlakukan hukuman mati. Sementara, PBB sudah sejak lama berada di pihak yang sama dengan Uni Eropa, yang menentang hukuman itu.

Di Brussel, Sekretaris Jenderal PBB Ban Ki Moon juga menuntut agar pelaku kejahatan perang di wilayah Yugoslavia dulu ditangkap dan digiring ke Mahkamah Internasional Den Haag. Secara tegas, ia meminta agar semua negara bekerja sama dengan Pengadilan Internasional itu. Demikian dikatakannya hari Rabu (24/01) di Brussel setelah melakukan pembicaraan dengan Presiden Komisi Eropa, Jose Manuel Barosso. Mai tahun lalu, Uni Eropa membekukan upaya pendekatan dengan Serbia, karena pemerintahan di Beograd masih belum menyerahkan bekas Jendral Ratko Mladic ke pengadilan di Den Haag. Mladic dituduh melakukan kejahatan terhadap kemanusiaan dalam perang Kosovo. Sampai sekarang Ratko Mladic masih buron.

Seiring seruan itu, Ban Ki Moon juga mengkritik Perserikatan Bangsa Bangsa yang tidak mampu menghindari pembantaian massal di Srebenica pada tahun 1995. Ketika itu pasukan helm biru yang berada di lokasi gagal menghindari pembunuh terhadap ribuan kaum Muslim di Bosnia oleh kelompok Serbia Bosnia. Ban tidak berhenti pada kritik itu, ia juga mengingatkan bahwa PBB gagal menghindari pemusnahan etnis di Ruanda. Menurut Ban, dari sejumlah kegagalan itulah masyarakat internasional menyadari bahwa peristiwa serupa tidak boleh terulang lagi. Dalam pembicaraannya dengan petinggi Uni Eropa, Ban Ki Moon juga menyatakan penghargaannya atas dukungan dan keterlibatan Uni Eropa dalam kegiatan PBB. Ia mengatakan:

"PBB dan Uni Eropa memiliki hubungan kemitraan yang sangat penting. Sebagai Sekretaris Jenderal PBB saya sangat menghargai seluruh dukungan Uni Eropa, bukan saja kepada PBB, melainkan kepada masyarakat internasional.“

Selain iuran keanggotaan yang dibayar oleh masing-masing negara, setiap tahunnya Uni Eropa menyumbang 1 milyar Euro ke PBB.