Ban Ki Moon Berbeda Dengan Kofi Annan? | Fokus | DW | 07.12.2006
  1. Inhalt
  2. Navigation
  3. Weitere Inhalte
  4. Metanavigation
  5. Suche
  6. Choose from 30 Languages

Fokus

Ban Ki Moon Berbeda Dengan Kofi Annan?

Kanselir Angela Merkel menerima calon Sekjen PBB mendatang, Ban Ki Moon di kantornya. Tema pembicaraan mereka diperkirakan berkisar mengenai berbagai krisis internasional, proses reformasi PBB dan Korea Utara.

Ban Ki Moon hendak menjadi orang yang banyak bekerja dan bukan banyak bicara. Hendak menyelesaikan tugasnya tanpa banyak gembar-gembor.

Apa yang kedengarannya seperti kritik terhadap pendahulunya, menimbulkan keresahan bagi yang lainnya. Apakah orang baru ini akan menjadi seorang sekretaris pendiam yang diinginkan oleh AS, dan bukannya lagi seorang pemimpin?
Ban Ki Moon orang Asia kedua yang memegang jabatan sekjen PBB tidak jemu-jemunya mempropagandakan sikap menahan diri dan kesederhanaan sebagai kiat keberhasilan.

Menurut Ban Ki Moon: "Ini mungkin gaya baru bagi PBB, tetapi kesederhanaan hendaknya tidak disalah-artikan sebagai kurangnya kemampuan untuk memimpin atau kurangnya sikap tegas."

Sejak pertengahan November Ban Ki Moon yang sebelumnya menjadi menlu Korea Selatan, aktif di balik layar dengan sebuah tim penasehat kepercayaannya. Hal mana membuat orang mengerutkan kening, karena tim itu hanya terdiri dari warga Korea Selatan dan AS. Tetapi berbeda dengan Annan, ia benar-benar menyiapkan masa peralihan dan dapat mengatur personalia utamanya, pada saat pergantian tanggal 1 Januari 2007 nanti.

Ban menganggap dirinya dituntut menjadi pembawa keharmonisan yang optimis. Mengingat kedua pihak yang mendukungnya, yaitu Washington dan Beijing, menghendaki jabatan tinggi sebagai imbalan, untuk menggantikan para pengikut setia Annan pada akhir tahun nanti.
Yang lainnya, mulai dari Eropa sampai Afrika akan melihat kawasan mana yang akan lebih diperhatikan. Agenda kerjanya masih belum banyak berbeda dengan Annan, kecuali bahwa Korea didahulukan dari Sudan.

Ban Ki Moon mengatakan: "Peran dan kewajiban saya bukan hanya menyangkut Korea Utara. Saya akan berusaha menempatkan semua tema, Iran, Darfur, Timur Tengah atau konflik-konflik di Afrika dalam agenda kerja saya."

Demikian dikatakan sekjen PBB mendatang. Dengan sendirinya Ban Ki Moon menganggap dirinya sebagai pakar dalam soal sengketa atom dengan Pyongyang. Tentunya ia menilai, dalam soal Darfur orang tidak boleh bersikap ragu-ragu. Tetapi perhatian diplomat berusia 62 tahun itu akan dipusatkan pada konflik Timur Tengah, dan ia akan menghidupkan lagi kuartet Timur Tengah melampaui sengketa dengan Iran, untuk membantu pihak yang paling memerlukannya.

Bukan hanya kata-kata muluk tetapi juga pembaruan besar kiranya tidak akan banyak keluar dari tingkat 38 markas besar PBB di East River, New York itu. Menghimpun kekuatan badan-badan PBB, mengkatrol segi informasi yang sudah usang, memasuki Abad 21. Presentasi dan bukan visi. Itulah sinyal yang diisyaratkan oleh Ban Ki Moon.

Konfrontasi akan dihindarkan tetapi bila diperlukan ia akan bersikap ulet dalam berbagai hal.