1. Buka konten
  2. Buka menu utama
  3. Buka situs DW lainnya
Karyawan Lieferando naik sepeda di Berlin
Foto ilustrasi karyawan layanan pesan antarFoto: Elliot Douglas/DW
EkonomiJerman

Bahayanya Kerja sebagai Karyawan Jasa Layanan Pesan Antar

19 Mei 2022

Seperti di Indonesia, jasa layanan pesan antar juga terus booming di Jerman. Walau beberapa startup layanan pesan antar baru meraup angka investasi yang besar, banyak karyawannya yang merasa dirugikan.

https://www.dw.com/id/bahayanya-kerja-sebagai-karyawan-jasa-layanan-pesan-antar/a-61843726

Bisnis layanan pesan antar makanan mulai populer di Berlin sejak 10 tahun yang lalu. Awalnya, bisnis seperti Lieferheld yang berbasis di Berlin menyediakan platform bagi orang untuk memesan makanan restoran dan karyawan restoran yang mengantar makanannya.

Mulai sekitar tahun 2013, model ini digantikan oleh layanan online dan berbasis aplikasi yang mempekerjakan pegawai antar makanan mereka sendiri. Hal ini memungkinkan pelanggan untuk memesan dari restoran yang tidak mempekerjakan staf pengantar makanan dan secara bersamaan menciptakan ribuan lapangan kerja yang menawarkan jadwal fleksibel dan membutuhkan pelatihan yang sangat sedikit.

Sekarang pasar bisnis tersebut berkembang melampaui layanan pesan antar makanan dan bahan makanan. Mayd yang berbasis di Jerman, mulai mengirimkan obat-obatan ke rumah warga tahun lalu dan telah beroperasi di 25 kota di Jerman, serta mempekerjakan 900 orang.

"Kami akan aktif di seluruh Jerman pada akhir tahun ini," kata Hanno Heintzenberg, salah satu pendiri Mayd, menambahkan bahwa perusahaan juga memiliki rencana untuk berekspansi ke Austria dan Prancis.

Perusahaan lain bernama Dropp, menggunakan model serupa untuk mengirimkan produk e-commerce kepada pelanggan di Berlin.

Model bisnis yang dipertanyakan

Argumen umum yang dibuat untuk membelastartuppesan antar barang atau makanan berbasis aplikasi adalah bahwa mereka menciptakan lapangan kerja. Saat diminta komentar tentang sejumlah masalah karyawan, juru bicara Gorillas, layanan pesan antar belanjaan yang berbasis di Berlin, dengan cepat menunjukkan bahwa sejak 2020 Gorillas telah mempekerjakan 15.000 orang.

Kini ada puluhan ribu karyawan layanan pesan antar di Berlin. Peluang kerja ini, dengan jadwal fleksibel dan tanpa persyaratan bahasa Jerman, memang memberikan penghasilan bagi banyak mahasiswa asing Jerman. Namun, banyak laporan tentang masalah terkait pekerjaan, seperti gaji yang kurang, dan pembubaran serikat pekerja menunjukkan bahwa pekerjaan yang diciptakan oleh perusahaan layanan antar mungkin bersifat eksploitatif terhadap pekerja mereka.

Masalah karyawan

Tidak sedikit dari masalah karyawan layanan pesan antar adalah risiko cedera serius atau kematian. Di Jerman, kebanyakan karyawan layanan pesan antar menggunakan sepeda, bukan motor seperti di Indonesia. Survei terhadap karyawan layanan pesan antar dengan sepeda secara teratur menemukan bahwa sekitar setengah dari mereka mengalami cedera serius terkait lalu lintas setiap tahunnya.

Selain risiko kecelakaan lalu lintas, banyak pengendara sepeda layanan antar melaporkan cedera muskuloskeletal akibat membawa beban berat di punggung mereka dari waktu ke waktu.

Masalah berikutnya adalah status karyawan, yakni pekerja tetap atau lepas. Sebagian besar adalah pekerja lepas. "Ya, para karyawan ini dieksploitasi dengan upah yang relatif rendah," kata Johannes Kiess, Wakil Direktur Institut Penelitian Demokrasi Else-Frenkel-Brunswik di Universitas Leipzig. "Mereka diperlakukan sebagai sesuatu yang bisa dibuang."

'Kurangnya investasi yang serius'

Tahun 2021, sekelompok karyawan Gorillas mengorganisir aksi mogok untuk memprotes gaji yang hilang, pemutusan hubungan kerja mendadak, dan masalah lainnya. Hampir setahun kemudian, masalah pembayaran masih menjadi masalah bagi sejumlah karyawan Gorilas.

Gorillas memberikan pernyataan ini tentang masalah penggajian: "Seperti di perusahaan besar dengan banyak karyawan … mungkin ada kesalahan penggajian sesekali dalam kasus-kasus individual … Saat ini, sekitar 1% hingga 4% dari penggajian dipengaruhi oleh kesalahan, yang kami coba perbaiki dalam tepat waktu."

Namun, mantan manajer operasional pegawai Gorillas (memilih untuk anonim agar melindungi kontak yang masih bekerja untuk perusahaan), mengatakan Gorillas sangat kekurangan staf sejak dia mulai bekerja di sana setahun yang lalu.

Timnya menerima rata-rata 900 pengaduan tentang kesalahan pembayaran setiap bulannya. Sekitar setengahnya adalah kesalahan perusahaan, ia memperkirakan, sebagian besar adalah akibat dari sistem yang tidak layak lagi digunakan untuk melacak cuti sakit dan hari libur.

"Ada kekurangan investasi yang serius," kata mantan manajer itu. "Bila Anda memiliki 10.000 orang di sebuah perusahaan, Anda tidak dapat membayar orang berdasarkan hitungan dari lembaran Excel."

Dia telah mengusulkan penerapan sistem penggajian SAP untuk memperbaiki masalah pembayaran, tetapi Gorillas tidak mau membayarnya.

Dukung karyawan dan raup keuntungan?

Miguel Judez adalah ahli bioteknologi berusia 27 tahun dari Spanyol yang telah tinggal di Berlin selama enam bulan. Dia hampir menyelesaikan MA dalam ilmu komunikasi dan juga belajar bahasa Jerman di sekolah bahasa. Dia mulai bekerja untuk Flink, aplikasi pengiriman bahan makanan, pada Desember 2021.

"Lebih baik dari yang diharapkan,” kata Judez tentang pengalaman kerjanya selama ini. "Bos saya semua orang baik dan saya mendapat banyak makanan gratis."

Namun, perusahaan layanan pesan antar yang awalnya dipandang positif oleh karyawan cenderung menjadi lebih eksploitatif seiring waktu karena dana investasi mulai menipis dan mereka mencari cara untuk menjadi lebih menguntungkan.

Judez telah melihat sedikit perubahan dalam operasional Flink. Awalnya dia bisa memblokir waktu yang tidak memungkinkannya untuk bekerja, karena ia harus kuliah. Kemudian sistem berubah dan sekarang dia hanya dapat mengatur "pemberitahuan minat" untuk waktu yang dia inginkan untuk bekerja. Perubahan ini bisa menyebabkan karyawan tidak bisa bekerja sesuai jadwal yang ditetapkan oleh Flink, dan dapat menyebabkan absen kerja dan pemutusan hubungan kerja.

Di dunia startup yang didorong oleh investasi, perusahaan yang menjanjikan memenangkan ratusan juta investasi. Gorillas berhasil mengamankan $1 miliar dari dana investasi di tahun pertama. Mayd telah menerima €43 juta pada Januari tahun ini.

Namun, pada akhirnya investasi akan berkurang dan perusahaan perlu meraup keuntungan. "Setelah periode pertumbuhan intensif, fokus Gorillas telah bergeser untuk membangun bisnis yang kuat dan menguntungkan," kata sebuah pernyataan yang diberikan oleh perusahaan. "Lebih dari 25 pusat pemenuhan mikro kami sudah beroperasi secara menguntungkan."

Namun, karyawan yang tidak mampu membayar sewa sementara mereka menunggu pembayaran yang hilang atau sembuh dari cedera, akan berpendapat bahwa profitabilitas datang dengan mengorbankan kualitas hidup mereka. Apakah sebuah perusahaan dapat menawarkan layanan pesan antar dengan harga yang akan dibayar pelanggan, dan juga mendukung karyawan dengan upah dan tunjangan yang layak, masih belum terlihat.

(vlz/ha)