Bagaimana Teknologi Baru Bisa Kurangi Ketimpangan Sosial | dunia | DW | 12.06.2018
  1. Inhalt
  2. Navigation
  3. Weitere Inhalte
  4. Metanavigation
  5. Suche
  6. Choose from 30 Languages

Global Media Forum 2018

Bagaimana Teknologi Baru Bisa Kurangi Ketimpangan Sosial

Jurang ketimpangan antara kaum kaya dan papa di seluruh dunia semakin lebar. Penggunaan teknologi baru seperti drone atau media sosial untuk mendokumentasikan ketimpangan tersebut justru bisa menjadi solusi.

Unequal Scenes Fotoprojekt von Johnny Miller (Johnny Miller)

Foto karya Johnny Miller

"Masalahnya sudah lama. Hanya teknologinya saja yang baru," kata Jhonny Miller. Sang fotografer menunjukkan gambar vila mewah di pinggiran kawasan kumuh berpenduduk padat yang ia rekam dengan kamera drone. Dalam proyek "Unequal Scenes," ia mengabadikan ketimpangan sosial di Mexico City di Meksiko, Cape Town di Afrika Selatan dan Mumbai di India dari udara.

Miller mengisahkan pertemuannya dengan perwakilan pemerintahan provinsi Cape Town. Saat ia menunjukkan hasil jepretannya itu, "seorang pegawai menangis". Dia berterimakasih karena saya membantu menyuarakan penderitaan masyarakat lokal," tutur pria asal AS tersebut.

Namun jika pemerintah provinsi Cape Town berterimakasih, pemerintah di negara lain malah sebaliknya, merasa terancam oleh karya Miller. "Gambar drone bisa membuat anda merasa tidak nyaman," katanya. Menurut dia kebijakan di banyak negara Afrika yang membatasi penggunaan drone lantaran mengkhawatirkan ketegangan sosial " justru semakin membetoni ketimpangan kemakmuran."

Teknologi baru sebagai terobosan

Jika teknologi baru digunakan secara efektif oleh penduduk yang termarjinalkan, ia bisa menciptakan keajaiban dan mematahkan lingkaran ketimpangan. Hal ini diyakini oleh wartawan Afrika Selatan Yusuf Omar. Dia turut mengembangkan situs Hashtagourstories.com yang menjadi platform bagi jurnalisme warganet di seluruh dunia.

Selama beberapa bulan terakhir Omar berkeliling ke 40 negara untuk melatih warga bercerita menggunakan ponselnya. Termasuk di antaranya sekelompok pemulung asal India yang kini mulai aktif menggunakan Instagram Stories. "Para pemulung mempopulerkan tagar #GSTwaste untuk menceritakan kesehariannya dan bagaimana pajak pertambahan nilai di India mempersulit kehidupan mereka."

Sejak pemerintah mengenakan pajak terhadap sampah daur ulang, harga plastik daur ulang merosot drastis. Akibatnya penghasilan sekitar dua juta warga India yang bekerja untuk industri daur ulang tiba-tiba menyusut dan tidak sedikit yang kehilangan pekerjaan.

Namun berkat Instagram Stories para pemulung, "media-media India mulai mengangkat kisah mereka, organisasi masyarakat dan LSM menekan pemerintah. Akhirnya pemerintah mengurangi pajak atas plastik daur ulang," kata Omar.

Dia meyakini teknologi baru memberikan ruang bersuara bagi masyarakat. Menurutnya hal terbaik dari media sosial adalah sifatnya yang menawarkan kesetaraan persaingan di seluruh dunia. "Kalau anda punya kisah yang kuat, tidak ada yang bisa menghalangi anda membuat cerita itu menjadi viral," ujarnya.

Setiap jurnalis kini memiliki kesempatan serupa dengan warga biasa untuk didengar di media sosial. "Revolusi seluler dalam produk jurnalistik yang ingin memberdayakan masyarakat marjinal sudah dimulai, terlepas dari apakah jurnalis atau politisi suka atau tidak."

Tidak hanya cara penyajian, konten yang dibuat pun berbeda. "Generasi Youtube sudah kenyang mendapat asupan berita buruk atau bad news." Media tradisional menurutnya terlalu fokus mengisahkan "cerita negatif misalnya tentang konflik Israel dan Palestina. Isu itu sudah terlalu banyak dibahas. Pengguna ingin sudut pandang lain yang lebih positif."

 

Laporan Pilihan

Iklan