1. Buka konten
  2. Buka menu utama
  3. Buka situs DW lainnya
Lapisan es di Antartika mulai runtuh dan mencair lebih cepat
Lapisan es di Antartika mulai runtuh dan mencair lebih cepatFoto: picture-alliance/dpa/blickwinkel/A. Rose

Nasib Antartika di Tengah Fenomena Perubahan Iklim

Ajit Niranjan
24 Juni 2021

Fenomena perubahan iklim dan rumitnya penegakkan aturan mengancam Antartika, salah satu area terakhir di Bumi yang tidak terjamah oleh industri ekstraktif manusia.

https://www.dw.com/id/bagaimana-nasib-antartika-di-tengah-fenomena-perubahan-iklim/a-58025554

Perjanjian Antartika yang mulai berlaku 60 tahun lalu menyepakat, benua Antartika yang tak dihuni manusia dengan luas dua kali Australia itu bebas dari aktivitas militer dan bebas dari pembuangan limbah nuklir. Mereka yang menandatangani perjanjian itu menyatakan, wilayah kutub selatan yang 98% terdiri dari es dan tidak memiliki penduduk asli, tidak boleh menjadi milik negara manapun dan dikhususkan sebagai tempat penelitian ilmu pengetahuan.

Dalam dekade berikutnya, aturan tambahan untuk menghentikan perusahaan menambang mineral dan melakukan pengeboran minyak mengubah Antartika menjadi cagar alam terbesar di dunia. Namun kini, fenomena perubahan iklim merusak kisah sukses itu.

Sekitar 90% dari air tawar dunia membeku di lapisan es Antartika, dan di saat planet yang kita huni ini memanas, mencairnya gletser di sana dapat membanjiri kota-kota pesisir dari New York hingga Jakarta.

Para pemimpin dunia telah berjanji untuk membatasi pemanasan global hingga jauh di bawah 2 derajat Celcius abad ini. Tetapi menurut kelompok riset Climate Action Tracker yang berbasis di Jerman, saat ini Bumi mengalami kenaikan suhu hampir 3 derajat Celcius. Sebuah studi yang diterbitkan dalam jurnal Nature pada bulan Mei menemukan, kenaikan suhu global 3 derajat Celcius akan menyebabkan "lompatan mendadak" dalam kecepatan hilangnya es Antartika yang pada gilirannya akan memicu kenaikan permukaan laut yang cepat dan tak terbendung.

Studi kedua, yang diterbitkan pada bulan Juni di jurnal Science Advances, menemukan, lapisan es yang menopang Gletser Pulau Pinus seluas 175.000 kilometer persegi, pecah dan mencair lebih cepat. Gletser tersebut bertanggung jawab atas lebih dari seperempat kontribusi Antartika terhadap kenaikan permukaan laut global dan akan mencair lebih cepat jika runtuh ke perairan hangat.

"Jika penurunan cepat lapisan es berlanjut, hal itu dapat membuat gletser semakin tidak stabil, jauh lebih cepat dari yang diperkirakan," demikian bunyi studi tersebut.

Alessandro Antonello, seorang sejarawan di Flinders University di Australia yang telah menulis buku tentang politik lingkungan di Antartika, mengatakan "tantangan lingkungan utama di Antartika saat ini tidak diragukan lagi adalah perubahan iklim."

Namun, dari 54 pihak yang terlibat dalam Perjanjian Antartika, ironisnya 29 di antaranya termasuk negara pencemar terbesar di dunia sepanjang sejarah, seperti AS dan Jerman, serta penghasil emisi yang tumbuh cepat seperti Cina, India, dan Brasil.

Foto satelit salah satu gunung es terbesar di Antartika, A-76, pecah dan mengambang
Foto satelit salah satu gunung es terbesar di Antartika, A-76, pecah dan mengambangFoto: ESA/REUTERS

Menjaga perdamaian di Antartika

Perjanjian Antartika ditandatangani pada tahun 1959 oleh 12 negara yang ilmuwannya telah aktif di wilayah tersebut, dan mulai berlaku dua tahun kemudian. Para pihak sepakat bahwa kawasan itu harus menjadi "cagar alam, yang ditujukan untuk perdamaian dan ilmu pengetahuan." Untuk negara adidaya seperti AS dan Uni Soviet yang saat itu tengah berseteru dalam Perang Dingin, Antartika menjadi tempat kerja sama yang menawarkan jeda langka dari ketegangan yang ada.

Sridhar Anandakrishnan, ahli glasiologi di Penn State University di AS mengatakan, dalam Perjanjian Antartika, "mereka (AS dan Uni Soviet) bisa berbicara secara formal, resmi dan terbuka."

Sementara bagi para ilmuwan, kerja sama yang dimaksud antara lain dapat mengisi bahan bakar pesawat di pangkalan udara negara lain dan saling berbagi temuan ilmiah. Tim ilmuwan di Antartika telah mengumpulkan data iklim sejak ratusan ribu tahun yang lalu dan pada tahun 1985 mereka menemukan lubang berbahaya di lapisan ozon di atasnya.

Semua orang di Antartika ada di sana untuk "alasan altruistik," kata Anandakrishnan, yang telah melakukan 23 ekspedisi ilmiah ke wilayah tersebut sejak tahun 1985. "Kami di sana untuk sesuatu yang kami harap lebih besar dari diri kami sendiri dan untuk melayani masyarakat."

Perjanjian Antartika mengatur bahwa wilayah tersebut hanya ditujukan untuk kegiatan ilmiah
Perjanjian Antartika mengatur bahwa wilayah tersebut hanya ditujukan untuk kegiatan ilmiahFoto: Ashley Cooper/Reuters

Pertambangan, pengeboran, dan penangkapan ikan

Daerah kutub bumi memanas lebih cepat dibanding bagian planet lainnya. Namun tidak seperti Kutub Utara, yang telah menjadi fokus ketegangan geopolitik karena mencairnya es mengungkap kekayaan sumber daya alam, Kutub Selatan memiliki sedikit mineral yang diketahui untuk dieksploitasi selain menyimpan cadangan batu bara dan minyak.

Namun, dengan luasan yang dimiliki Antartika memungkinkan wilayah itu menjadi lokasi bagi lebih banyak sumber daya alam. Lanskap yang ekstrem, lapisan es tebal, cuaca buruk, dan aturan tambahan di tahun 1991 terkait larangan penambangan dan pengeboran telah membuat Antartika bebas dari aktivitas apapun selain eksplorasi ilmiah. Larangan itu baru dapat ditinjau untuk kali pertama pada tahun 2048 mendatang.

Perairan yang rentan

"Kerusakan iklim secara drastis mengubah pemandangan di Antartika, kata Laura Meller, ahli ekologi dan kutub di Greenpeace Nordik. "Kehidupan perairan di sekeliling Antartika, mengalami transformasi drastis."

Spesies seperti Patagonian Toothfish masih diburu di Samudra Selatan di sekitar Antartika. Burung laut seperti elang laut dan petrel di sana juga dijadikan sebagai tangkapan sampingan.

Penangkapan udang krill juga berkembang pesat. Pada tahun 2019, nelayan menangkap sekitar 400.000 ton krill dari Samudra Selatan. Makhluk-makhluk itu hanya dapat bertahan hidup dalam suhu yang dingin dan merupakan penyangga terhadap perubahan iklim.

Organisme ini menyimpan karbon dioksida dengan memakan fitoplankton yang kaya karbon di permukaan laut dan menghujani pelet tinja yang padat ke dasar lautan, menurut sebuah makalah yang diterbitkan dalam jurnal Nature pada tahun 2019. Proses biologis seperti ini diperkirakan menyimpan 5 hingga 12 gigaton CO2 di lautan setiap tahun.

Awalnya, Perjanjian Antartika hanya melindungi ekosistem darat dan tidak mengatur terkait ekosistem laut. Kemudian peraturan baru mulai berlaku pada tahun 1982 yang menetapkan batas penangkapan udang krill.

Kekhawatiran pun muncul terkait nasib hewan lainnya seperti penguin, yang menghabiskan sebagian besar waktu mereka di laut tetapi datang ke darat untuk berkembang biak. "Ada wilayah abu-abu," kata Ricardo Roura, spesialis wilayah kutub dan penasihat senior untuk Antarctic and Southern Ocean Coalition (ASOC), yang mewakili kelompok konservasi di wilayah tersebut.

Foto seekor penguin di Antartika
Foto seekor penguin di Antartika Foto: picture-alliance/Xinhua/L. Shiping

Nasib Antartika: wisawatan dan sampah

Ketidakpastian hukum juga berlaku untuk sektor pariwisata. Antartika menerima sekitar 70.000 wisatawan setiap tahun. Meskipun jumlah ini relatif rendah untuk ukuran wilayah Antartika, para wisatawan kebanyakan pergi ke beberapa lokasi yang sama, memusatkan dampak yang ada.

Sampah di sana juga disebut tidak akan hilang. Dengan suhu yang dingin dan kering membuat sampah yang ada tetap utuh. Gletser yang mencair kemudian membawa dan menghanyutkan sampah ke lautan.

Para ilmuwan di wilayah tersebut telah mengalami perubahan pola pikir dalam cara mereka menangani limbah, kata Anandakrishnan. "Anda berkata pada diri Anda sendiri, apakah saya benar-benar ingin membuang bungkus permen di sini yang akan mencekik seekor anjing laut sepuluh ribu tahun dari sekarang?"

Namun, seiring bertambahnya jumlah wisatawan, menegakkan aturan Perjanjian Antartika mungkin menjadi semakin rumit. Antartika tidak memiliki pasukan keamanan dan – tanpa pemerintahan yang berdaulat – masih belum jelas siapa yang akan membayar dampak kerusakan yang dilakukan oleh pengunjung asing jika terjadi bencana skala besar seperti tumpahan minyak dari kapal yang bersandar di sana.

Sebagai contoh kerja sama global, Perjanjian Antartika pun masih dinilai belum berimbang. "Itu akan dilihat sebagai globalisasi, seperti apa adanya," pungkas Anandakrishnan.

Ed: rap/as