1. Buka konten
  2. Buka menu utama
  3. Buka situs DW lainnya
Indonesien Goethe Institut Digital Discourses Seminar
Foto: Goethe-Institut Indonesien
SosialAsia

Bagaimana Jurnalisme di Era Digital?

Fajrie Samahita
30 November 2021

Perubahan digital yang semakin canggih mengubah cara masyarakat mengonsumsi berita serta cara berita diproduksi dan disajikan. Bagaimana digitalisasi memengaruhi jurnalistik?

https://www.dw.com/id/bagaimana-jurnalisme-di-era-digital/a-59975087

Perkembangan jurnalisme semakin dinamis, alasannya tidak menutup kemungkinan karena digitalisasi yang juga semakin canggih. Masyarakat kini bisa menikmati berita yang disajikan secara daring dengan semudah ketukan jari di smartphone. Lalu bagaimana digitalisasi memengaruhi jurnalistik? Apakah ada tempat bagi jurnalisme dalam media sosial? Mungkin kah berita yang disajikan setiap hari akan ditulis dengan Artificial Intelligence?

Goethe-Institut Jakarta bersama Deutsche Welle Indonesia serta Project Multatuli menjawabnya melalui seminar “Digital Discourses” dalamn pertemuan yang diadakan secara hybrid pada 25-26 November 2021 lalu. Seminar yang bertemakan Jurnalisme di Era Digital ini berkonsentrasi pada beberapa topik utama, antara lain bagaimana AI bertanggung jawab dalam jurnalisme lokal, apakah jurnalisme warga menjadi kekuatan rakyat, serta bagaimana jurnalisme hari ini dan kedepannya. Dengan menggandeng sejumlah ahli di bidangnya seperti Prof. Dr. Wiebke Loosen dari Leiblinz Institute, Sophia Smith Galer dari VICE World News, Luh De Suryani dari BaleBengong, dan para pakar lainnya.

Indonesien Goethe Institut Digital Discourses Seminar
Foto: Goethe-Institut Indonesien

Seminar ini dilaksanakan secara daring yang dibagi menjadi 6 panel diskusi dengan topik-topik berbeda, panel terakhir dan sesi networking dilaksanakan secara langsung di Goethe-Haus, Jakarta. Ivonne Kristiani, salah satu tim proyek acara seminar Digital Discourses mengungkap tantangan yang dihadapinya menjadi sebuah kemudahan bagi para peserta, “Konferensi daring tentu memiliki tantangannya sendiri. Tapi dengan diadakan secara daring, konferensi ini bisa menjangkau peserta dari beberapa negara di Asia Tenggara”, kata Ivonne. Dia juga berharap agar seminar Digital Discourses tahun depan bisa Kembali lagi dengan tema dan perspektif baru mengenai efek dari transformasi digital pada kehidupan masyarakat.

Indonesien Goethe Institut Digital Discourses Seminar
Foto: Goethe-Institut Indonesien

Salah satu pembicara dari Deutsche Welle yang membahas tentang “AI dalam Ruang Berita: Teman atau Musuh?”, Sebastian Jannasch juga merasakan adanya pandangan serupa bahwa teknologi AI dapat menjadi dukungan yang berharga bagi jurnalisme jika digunakan dengan cara yang terkendali dan mematuhi aturan etika. Seminar yang diadakan secara daring ini juga memberikan kesempatan besar untuk melihat masa depan jurnalisme dari perspektif yang berbeda, tidak hanya secara profesional tetapi juga regional. Sebastian menambahkan, “Acara ini menunjukkan bahwa ada diskusi yang hidup di mana-mana tentang siapa yang menetapkan aturan ini.”

Indonesien Goethe Institut Digital Discourses Seminar
Foto: Goethe-Institut Indonesien

Tak hanya itu, digitalisasi juga mengubah cara masyarakat mengonsumi berita serta cara berita tersebut diproduksi dan disajikan. Melalui seminar ini, peserta bisa memahami perspektif yang sangat luas dari berbagai ahli terhadap perubahan yang ada dalam jurnalisme dan dinamisme jurnalistik di masa depan. (fs/hp)