1. Buka konten
  2. Buka menu utama
  3. Buka situs DW lainnya
SejarahJerman

Bagaimana Arsip Nazi Buka Aib Lama Keluarga Jerman

Suzanne Cords | Ulrike Bornhak
10 Juli 2026

Warga Jerman mendadak berkonfrontasi dengan sejarah kelam keluarga sendiri ketika Arsip Nasional Amerika Serikat merilis dokumen keanggotaan NSDAP. Bagaimana menghadapi kenyataan bahwa kakek atau nenek dulu seorang NAZI?

https://p.dw.com/p/5Gsul
Formulir denazifikasi
Formulit denazifikasi wajib diisi oleh semua warga Jerman setelah runtuhnya rejim NAZI. Di Negara Bagian Hessen, sepertiga anggota parlemen lokal pada dekade 1960an merupakan bekas anggota aktif Nazi. Foto: Arne Dedert/dpa/picture alliance

"Saya selalu mengenal kakek saya sebagai seorang kiri serikat buruh. Dan kini namanya justru muncul dalam arsip anggota NSDAP."

Begitulah Hanno Dannenfeldt berkisah kepada DW. Selama ini, keluarganya mengenal sang kakek dari garis ayah memiliki riwayat yang bersih, tak ternoda keterlibatan dengan rezim Nazi.

Dannenfeldt hanyalah satu di antara tak terhitung banyaknya warga Jerman yang ingin mengetahui apakah anggota keluarganya pernah menjadi bagian dari Partai Buruh Nasional-Sosialis Jerman (NSDAP). Mereka berbondong-bondong mengakses Arsip Nasional Amerika Serikat, ketika kartu-kartu keanggotaan NSDAP dipublikasikan belum lama ini.

Namun yang mereka temui lebih dulu justru rasa frustrasi. Laman arsip itu kerap tak dapat diakses karena dibanjiri pengguna. Kalaupun berhasil masuk, sistem navigasi arsip dibuat rumit dan tidak ramah bagi pencari awam. Untuk menemukan satu nama saja, orang harus menelusuri tumpukan dokumen, lembar demi lembar.

Inisiatif Die Zeit permudah pencarian

Sebab itu, mingguan Jerman "Die Zeit" berinisiatif mengunduh semua rekaman mikrofilm dari Arsip Nasional AS dan mengolahnya demi memudahkan pencarian. Orang cukup memasukkan nama, bila perlu dilengkapi tahun dan tempat lahir, lalu hasil pencarian akan muncul. Layanan berbayar ini kemungkinan juga menarik bagi masyarakat di Amerika Selatan, mengingat banyak tokoh Nazi melarikan diri dan bersembunyi di sana setelah Perang Dunia II. Sayangnya, pengguna harus berlangganan terlebih dahulu untuk bisa mengakses arsip tersebut.

Konfrontasi sejarah bisa menjadi pengalaman yang menyakitkan. Sebab, selembar dokumen dapat seketika mengubah cara seseorang memandang keluarga sendiri setelah puluhan tahun. Di satu sisi, tersimpan kenangan tentang seorang kakek yang penuh kasih dan selalu membawa kegembiraan. Di sisi lain, kini terpampang hitam di atas putih: kakek yang sama pernah menjadi anggota partai Nazi.

Di hampir semua keluarga di Jerman, kejahatan pada masa Nazi jarang dibicarakan secara terbuka, apalagi keterlibatan keluarga sendiri. Sebuah studi menunjukkan lebih dari dua pertiga warga Jerman percaya leluhur mereka bukan pelaku kejahatan Nazi. Hampir 36 persen meyakini anggota keluarganya termasuk korban rezim, sementara lebih dari 30 persen percaya leluhur mereka pernah membantu calon korban Nazi, misalnya dengan menyembunyikan orang-orang Yahudi.

Keyakinan itu sayangnya hanya sedikit bersinggungan dengan kenyataan.

Perlawanan aktif terhadap rezim Nazi dilakukan oleh hanya sekitar satu persen penduduk. Pada 1945, satu dari setiap lima orang dewasa di Jerman—sekitar 8,5 juta orang—tercatat sebagai anggota Partai Nazi. Setidaknya di atas kertas, mereka menjadi bagian dari sistem yang menopang rezim penindasan itu.

Kampanye menentang denazifikasi Partai FDP dalam pemilu 1949
Plakat kampanye Partai Liberal Demokrat (FDP) pada pemilu 1949 yang menuntut agar dihentikannya program denazifikasi, dan pemulihan hak warga sepenuhnya.Foto: public domain/Graphischer Großbetrieb Georg Stritt & Co/Haus der Geschichte, Bonn

"Mereka orang-orang terhormat"

Setelah perang berakhir, keterlibatan pada rejim Nazi disingkirkan dari ingatan. Jerman luluh lantak, diduduki Amerika Serikat, Inggris, Prancis, dan Uni Soviet. Hitler telah bunuh diri demi menghindari pengadilan. Sementara para penjahat perang lain diadili dan dijatuhi hukuman dalam Pengadilan Nürnberg.

"Selalu ada anggapan bahwa para pelaku adalah mereka yang duduk di kursi terdakwa. Akibatnya, masyarakat yang lain seolah tak tersentuh," kata ilmuwan budaya Aleida Assmann kepada DW.

Pandangan itu mulai bergeser ketika warga berprofesi dokter, industrialis, dan pegawai negeri juga diajukan ke pengadilan dan diminta mempertanggungjawabkan perbuatan mereka selama rezim Nazi.

"Saat itu orang-orang berkata, 'Kalau begitu semua orang sekarang diadili. Itu tidak mungkin benar. Mereka kan orang-orang terhormat,'" ujar Christian Staas, kepala rubrik sejarah mingguan Die Zeit. "Sejak saat itu banyak orang Jerman mulai menolak proses-proses hukum tersebut. Sebagian besar melihat diri mereka sebagai korban Nazisme, bukan sebagai pihak yang bersalah."

Karena itulah, banyak yang mengaku tidak mengetahui pembantaian massal terhadap orang Yahudi. Sebagai bagian dari program reedukasi atau pendidikan ulang yang dipaksakan Sekutu, seluruh warga Jerman diwajibkan menonton film dokumenter tentang kamp-kamp konsentrasi. Tujuannya sederhana: menghadang pengingkaran kolektif sebuah bangsa terhadap sejarahnya sendiri. 

Swing Youth: Perlawanan Musikal di Era Nazi Jerman

Pemutihan dosa sejarah

Pada saat yang sama dimulailah proses yang disebut denazifikasi. Setiap warga Jerman harus mengisi formulir panjang berisi data pribadi, riwayat pekerjaan, serta apakah mereka pernah menjadi anggota Partai Nazi.

Hampir semua orang berusaha tampil seolah tak banyak terlibat. Bahkan seorang anggota SS masih bisa dinyatakan "bersih" bila mampu meyakinkan bahwa dia sesungguhnya tidak mendukung ideologi Nazi. Dalih yang kerap muncul misalnya akses pendidikan dan pasar kerja yang kerap menyaratkan keanggotan partai.

Di kalangan masyarakat, surat keterangan hasil denazifikasi dijuluki Persilschein—"surat Persil"—mengacu pada merek deterjen yang terkenal dengan slogan mencuci "lebih putih".

"Putih adalah warna kemurnian, tanpa noda, dan tentu saja lambang ketidakbersalahan," kata Aleida Assmann. Melalui "konsep Persil" itu, orang-orang seolah mencuci bersih rasa bersalah mereka.

Menurut Assmann, Sekutu Barat, terutama Amerika Serikat, lebih berkepentingan membangun kembali Jerman sebagai sebuah negara yang dapat berfungsi.

"Mereka menginginkan garis pemisah yang tegas dan sebuah awal yang baru. Masyarakat Nazi harus diubah menjadi masyarakat demokratis, tetapi dengan orang-orang yang sama. Bagaimana itu bisa dilakukan? Dengan melupakan. Orang berhenti membicarakannya."

Konrad Adenauer, kanselir pertama Republik Federal Jerman, memandang persoalan itu secara pragmatis.

"Orang tidak membuang air kotor bila belum memiliki air yang bersih," katanya, ketika membenarkan diangkatnya bekas anggota Nazi ke dalam pemerintahan baru. 

Tragedi Kristallnacht, Gelombang Teror Anti-Yahudi di Jerman

Warisan lintas generasi

Sesudah perang, Jerman sibuk membangun kembali negeri yang porak-poranda. Pada 1950-an datang Wirtschaftswunder—keajaiban ekonomi—yang membawa kemakmuran baru.

Baru generasi berikutnya mulai mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang tak nyaman soal peran orang tua selama Perang Dunia II.

Salah satu momen yang mencolok terjadi pada tahun 1968, ketika aktivis Beate Klarsfeld menampar wajah Kanselir Kurt Georg Kiesinger sambil berteriak, "Nazi! Nazi!"

Kiesinger merupakan simpatisan dan kader penting Partai Nazi, setia melayani Hitler, dan pada akhir perang memimpin salah satu bagian di lembaga penyiaran Reich.

Tonggak lain datang pada akhir 1970-an lewat serial televisi Holokaus, kata Christian Staas.

Melalui layar televisi, masyarakat mengikuti nasib keluarga Yahudi Weiß. Serial produksi Amerika Serikat itu memicu perdebatan luas mengenai tanggung jawab setiap warga Jerman. Sebab hampir semua orang, dengan satu atau lain cara, menyaksikan deportasi orang-orang Yahudi. 

Antisemitisme: Mengapa Melekat Begitu Kuat?

Arsip NSDAP picu penolakan

Namun kecenderungan untuk merelatifkan sejarah belum benar-benar hilang. Sampai sekarang pun masih terdengar desakan untuk tidak lagi mengungkit masa lalu. Respons serupa juga muncul di keluarga Hanno Dannenfeldt.

Keluarganya memang mengetahui bahwa kakek dari garis ibu pernah menjadi anggota Napola, sekolah berasrama elite tempat rezim Nazi mendidik calon pemimpin politik dan militer.

"Tetapi begitu menyangkut keluarga sendiri, keinginan untuk menggali lebih dalam tiba-tiba mengecil," kata Dannenfeldt.

"Kalau orang dihadapkan pada fakta-fakta itu, pembelaan segera muncul. Dalam kasus kakek saya, alasannya begini: dia masih sangat muda, ayahnya yang memasukkannya ke Napola. Setelah itu dia menjadi suami yang baik, ayah yang baik, kakek yang baik."

Terlambat untuk bertanya kepada saksi

Delapan puluh satu tahun setelah runtuhnya rezim Nazi, hampir mustahil lagi mengetahui alasan para leluhur bergabung dengan Partai NSDAP, apalagi menjawab pertanyaan yang lebih sulit: apakah mereka seorang Nazi fanatik atau sekadar ikut arus?

Menurut Christian Staas, tanggal seseorang bergabung dapat memberi sedikit petunjuk.

"Kalau seseorang menjadi anggota sebelum 1933, sebelum Nazi berkuasa, kita bisa menduga dia memang meyakini ideologi supremasi Arya."

Hanno Dannenfeldt menemukan jejak yang berbeda di keluarganya.

"Kakek buyut saya termasuk orang-orang pertama yang bergabung pada 1933. Ada pula kerabat lain yang baru masuk partai pada 1942 atau 1943."

Kini yang tersisa hanyalah dugaan.

"Mungkin ada tekanan dari lingkungan. Atau seperti buyut saya yang seorang pedagang ternak sekaligus pemilik tanah luas, mungkin dia punya alasan bisnis untuk bergabung." 

Namun satu hal pasti: tak seorang pun dipaksa menjadi anggota, atau didaftarkan tanpa sepengetahuannya—seperti yang selama ini kerap dikisahkan dalam banyak keluarga.

Dannenfeldt menyesalkan fakta-fakta itu baru terungkap sekarang.

"Saya menyesal mengingat semua percakapan yang pernah kami lakukan. Topik ini memang sempat disentuh, tetapi kami tidak punya sesuatu yang bisa dijadikan pegangan. Tidak ada bukti hitam di atas putih seperti kartu anggota yang kini muncul. Padahal yang kita bicarakan adalah salah satu kejahatan terbesar dalam sejarah umat manusia."

Israel memperingati Hari Peringatan Holokaus

Apa pelajaran masa lalu?

Dibandingkan banyak negara lain di dunia, Jerman tergolong konsisten berkonfrontasi dengan sejarah kejahatan NAZI. Seratus ribu batu peringatan kecil ditanam di trotoar-trotoar—mengingatkan orang pada korban Nazisme. Di jantung Berlin berdiri Memorial Holocaust. Di sekolah-sekolah, sejarah Nazi memenuhi bagian besar kurikulum pelajaran.

Namun pada saat yang sama, ekstremisme kanan kembali menguat. Partai populis kanan AfD terus memperbesar pengaruh politiknya.

Hanno Dannenfeldt mengkhawatirkan, mekanisme politik yang dulu melambungkan NSDAP dalam pemilu, perlahan sedang muncul kembali.

"Mungkin ada orang yang berpikir, 'Kalau saya bergabung dengan AfD, karier saya akan lebih mudah.' Mengetahui bahwa keluarga kita sendiri ternyata tidak cukup kuat untuk menolak arus membuat kita berpikir betapa besarnya bahaya yang juga ada hari ini."

Pada akhirnya, seperti dikatakan seorang perempuan yang diwawancarai mingguan Die Zeit, pertanyaan yang sesungguhnya tidak lagi ditujukan kepada masa lalu.

Melainkan kepada diri kita sendiri: "Bagaimana kita akan bertindak ketika keadaan politik berubah? Dan apakah kita memiliki keberanian untuk mengambil konsekuensi demi melindungi nilai-nilai dasar demokrasi?"

Artikel ini pertama kali terbit dalam Bahasa Jerman

Diadaptasi oleh Rizki Nugraha
Editor: Yuniman Farid

Lewatkan bagian berikutnya Topik terkait