Azahari Tewas dalam Penyergapan Kepolisian | SOSBUD: Laporan seputar seni, gaya hidup dan sosial | DW | 10.11.2005
  1. Inhalt
  2. Navigation
  3. Weitere Inhalte
  4. Metanavigation
  5. Suche
  6. Choose from 30 Languages
Iklan

Sosbud

Azahari Tewas dalam Penyergapan Kepolisian

Gembong teroris, Azahari dipastikan tewas dalam penyergapan Datasemen Anti Teror Kepolisian Indonesia di Batu, Malang, Jawa Timur. Baku tembak dan ledakan bom mewarnai aksi penyergapan. Penyerbuan dilakukan di sebuah rumah yang telah diintai selama tiga bulan terakhir ini. Kini mayat para teroris itu tengah diidentifikasi.

Foto yang dikeluarkan kepolisian dalam usaha penangkapan Azahari (kiri) dan Noordin M. Top (kanan)

Foto yang dikeluarkan kepolisian dalam usaha penangkapan Azahari (kiri) dan Noordin M. Top (kanan)

Azahari, yang menjadi buronan nomor satu di Asia Tenggara, tewas dalam penyergapan di sebuah rumah di Batu, Malang. Inilah akhir dari perburuan polisi selama bertahun-tahun atas warga Malaysia yang dijuluki Demolition Man itu. Kepastian tewasnya Azahari disampaikan oleh Kepala Kepolisian RI Sutanto kepada pers, beberapa jam sesudah baku tembak.

Kapolri menyatakan, sebelas ledakan bom menandai drama penyergapan sebuah rumah di kompleks Flamboyan Batu, yang disewa para teroris. Sesudah pengepungan selama beberapa waktu, baku tembak antara para teroris dengan polisi meletus. Lamanya sekitar dua jam. Kejadian itu menimbulkan ketakutan warga sekitar, sehingga mereka tidak berani keluar rumah.

Penyergapan Setelah Tiga Bulan Pengintaian

Sudah lebih dari tiga bulan polisi mengintai persembunyian doktor Azahari dan kawan-kawan. Kapolri Sutanto mengatakan, informasi tentang persembunyian Azahari didapat dari salah seorang anggota komplotannya yang lebih dahulu tertangkap, dengan inisial CH.

Kendati kontak senjata sudah usai, mayat Azahari dan kawan-kawannya masih berada di lokasi kejadian. Baru hari ini (10/11) semua mayat itu akan dipindahkan. Menurut Kapolri Sutanto, polisi perlu memastikan faktor keamanannya. Dikuatirkan dalam rumah itu masih terdapat bom-bom yang siap meledak. Karena polisi melihat, tiga mayat dalam rumah itu tergeletak dengan tas ransel di punggung masing-masing. Bisa jadi tas-tas ransel itu berisi bom. Kapolri mengatakan pula, kepolisian akan segera melakukan tes DNA untuk memastikan identitas Azahari.

Selain mereka yang tewas, terdapat sorang anak buah Azahari yang ditangkap dalam keadaan hidup. Fifit Rahmawati kontributor radio 68h di Batu Malang mengatakan, orang tersebut tersebut di bawa ke kepolisian.

Noordin M. Top Masih Buron

Ternyata, penggrebekan di Batu dibarengi penyergapan di Semarang. Di kota ini, sasarannya adalah Noordin M. Top, yang dianggap manusia paling berbahaya nomor dua di Asia Tenggara sesudah Azahari. Sebuah rumah di Jalan Gajah, Pedurungan, yang diduga menjadi persembunyian Noordin digerebek. Noordin M. Top dicurigai sudah dua malam menginap di rumah tersebut. Sayangnya Noordin keburu kabur. Kepolisian hanya menangkap dua komplotannya, Dwi Widianto dan Muji.

Duet Azahari dan Noordin M. Top, bersama jaringan terornya telah berulangkali melakukan serangkaian serangan bom di berbagai tempat di Indonesia. Sejak akhir 2000, Indonesia kerap menajadi bulan-bulanan teroris. Ledakkkan bom di Bali, bom di Hotel JW Marriot dan Kedutaan Besar Australia di Jakarta pada September 2004. Terakhir peledakkan bom kembali terjadi di Bali, Oktober lalu. Kematian si ahli pembuat bom tersebut, mestinya akan menurunkan kekuatan para teroris di Asia Tenggara.