1. Buka konten
  2. Buka menu utama
  3. Buka situs DW lainnya
Foto: DW/F. Essen

Ayi Tarya: Kesehatan Terumbu Karang di Indonesia

Carissa Paramita
19 April 2013

Ayi Tarya, seorang peneliti Indonesia asal Bandung, kini tengah bekerjasama dengan Pusat Leibniz untuk Ekologi Tropis Kelautan (ZMT) di Bremen, Jerman, untuk menyelamatkan terumbu karang di Indonesia.

https://www.dw.com/id/ayi-tarya-kesehatan-terumbu-karang-di-indonesia/a-16756413

Perubahan iklim dan kerusakan lingkungan dapat menyebabkan matinya terumbu karang. Itu sudah bukan rahasia lagi. Kalangan peneliti baru-baru ini mengembangkan cara untuk memonitor kondisi kesehatan terumbu karang yang menjadi habitat hewan laut, yakni dengan memonitor tingkat pendaran cahaya fluoresen yang dikeluarkan oleh terumbu karang. Kegiatan monitor semacam ini sangat bermanfaat di tengah upaya rehabilitasi terumbu karang atau bagi kawasan konservasi terumbu karang.

Namun Ayi justru berupaya memonitor penyebab matinya terumbu karang. Dengan mengatasi masalah di tingkat hulu, pemandangan rusaknya terumbu karang yang kini semakin lazim dijumpai di perairan Indonesia menurutnya dapat dihindari.

Indonesien Terumbu Karang Korallenrieff
ZMT mendokumentasikan terumbu karang yang mati di perairan IndonesiaFoto: ZMT Bremen

Mengatasi dari Hulu

Kesehatan terumbu karang terancam salah satunya karena air sungai yang mengandung polutan. Bersama ZMT, Ayi berusaha memahami dan mengerti bagaimana proses morfologi di laguna Segara Anakan di Pulau Sempu, Jawa Timur. "Dimana posisi nantinya terjadi pendangkalan, dan dimana terjadinya erosi, itu bisa sebagai bahan dasar untuk proteksi atau manajemen terumbu karang kedepannya seperti apa," jelasnya.


Masalah utamanya adalah sedimentasi. Dari tahun ke tahun, luas area laguna Segara Anakan semakin mengecil. Menurut Ayi dari zaman penjajahan Belanda itu sudah mulai terjadi dan saat ini keadaannya semakin kritis. "Akan tetapi tindakan secara tata lingkungan dari pemerintah Indonesia mungkin masih belum optimal," kritiknya.

Sedangkan di Berau, Kalimantan Timur, daerah penelitian Ayi terdahulu, masalahnya terletak pada daerah hulu. Erosi akibat penebangan hutan menghasilkan materi yang terbawa air hujan masuk ke sungai dan kemudian ke muara, hingga berujung pada akumulasi sedimen di terumbu karang.

Indonesien ADCP Forschungsgerät
Acoustic Doppler Current Profiler untuk mengukur kecepatan arusFoto: DW/F. Essen

Nyaman di Bremen

Dengan daerah-daerah penelitian di Indonesia, kenapa Ayi justru bekerja untuk institusi Jerman? "Bagi saya sebagai seorang peneliti dari Indonesia adalah bagaimana ZMT men-support secara finansial untuk penelitian, dan yang kedua instrumen dan kelengkapan untuk penelitian. Saya rasa di sini sangat lengkap sekali fasilitas perlengkapan dan sangat menunjang sekali bagi para peneliti. Yang saya sering gunakan adalah ADCP atau Acoustic Doppler Current Profiler yaitu alat untuk mengukur kecepatan arus," jawabnya.

Ayi pun tidak keberatan tinggal di Bremen, karena istri dan anak perempuannya ikut tinggal di kota yang terletak di bagian barat laut Jerman tersebut. Ia paling suka fasilitas jalur sepeda di Bremen yang menurutnya tidak terlalu besar, sehingga dalam rentang waktu 30 menit sudah bisa sampai di tujuan