Awas, Senjata Ringan | Sosial | DW | 26.06.2006
  1. Inhalt
  2. Navigation
  3. Weitere Inhalte
  4. Metanavigation
  5. Suche
  6. Choose from 30 Languages

Sosial

Awas, Senjata Ringan

Lebih dari 500 ribu orang di seluruh dunia, tewas oleh senjata ringan setiap tahunnya. Banyak diantaranya remaja dan anak-anak.

Anak kecilpun mampu menggunakan senapan Kalaschnikov

Anak kecilpun mampu menggunakan senapan Kalaschnikov

Senin (26/6) ini di New York, berlangsung Konferensi Internasional Senjata Ringan yang kedua. Di Berlin, Organisasi Bantuan Anak-anak PBB, UNICEF dan Pusat Konversi Internasional Bonn BICC, menuntut pengawasan yang lebih ketat terhadap perdagangan senjata ringan

Sekitar 600 juta senjata ringan beredar di seluruh dunia. Sembilan puluh persen korban perang saat ini, terbunuh oleh senapan mesin, pistol atau senjata ringan lainnya. Pasalnya, dalam perang-perang masa kini, bukan hanya tentara reguler yang berhadapan di medan pertempuran, melainkan kelompok pemberontak, milisi dan pasukan liar yang melakukan penjarahan. Perang-perang ini biasanya bermotivasi perebutan kekuasaan internal suatu negara, tuntutan politik atau perebutan wilayah yang kaya akan sumber daya alam. Kebanyakan korbannya adalah warga sipil.

Selain murah, transportasi senjata ringan itu relatif gampang. Cara penggunaannya juga begitu mudah, sehingga anak berusia 10 tahun pun mampu menggunakan senapan Kalaschnikov untuk membunuh orang.

Untuk mengatasi masalah ini, pada tahun 2001 negara anggota PBB menyepakati sebuah program untuk mengawasi peredaran senjata ringan. Di tahun yang sama, UNICEF dan Pusat Konversi Internasional Bonn BICC menuntut pemerintahan, militer dan pakar keamanan di dunia untuk lebih serius membendung banjir senjata ringan di banyak negara. Menurut Ketua BICC, Peter Kroll, perlu dikembangkannya satu standar dan penguatan institusi yang mengawasi senjata ringan termasuk produksi ilegal, kepemilikan, perdagangan, transportasi penyimpanan, pendataan dan kemungkinan melacak perpindahan tangan senjata itu.

Tapi terutama Amerika Serikat dan Rusia menentang program ini, akibatnya sejumlah butir rancangan tidak bisa dimasukkan dalam program itu. Misalnya yang berhubungan dengan kepemilikan senjata oleh warga sipil, penjualan senjata kepada kelompok non pemerintah serta penetapan standar untuk meregulasi penjualan senjata.

Peter Kroll menilai positif, adanya proses kontrol terhadap penjualan ilegal senjata ringan yang didukung secara aktif oleh 150 negara. Banyak negara yang membentuk komisi khusus. Selain itu banyak negara yang menetapkan peraturan nasional untuk mengontrol senjata ringan ini, juga yang dimiliki secara pribadi.

UNICEF menunjuk kepada perang saudara di Kongo sebagai contoh dampak negatif penyebaran senjata ringan. Dalam perang yang sudah menelan korban 4 juta orang itu, sekitar 18.000 anak lelaki dan anak perempuan pernah dipaksa menjadi tentara. Dari seluruh tentara anak-anak itu, UNICEF dan organisasi mitranya, baru dapat mengembalikan 5.800 anak lelaki dan 1.300 anak permpuan ke dalam lingkungan keluarganya.