Australia Khawatir Keselamatan Warganya di Libanon | DUNIA: Informasi terkini dari berbagai penjuru dunia | DW | 28.07.2006
  1. Inhalt
  2. Navigation
  3. Weitere Inhalte
  4. Metanavigation
  5. Suche
  6. Choose from 30 Languages

Dunia

Australia Khawatir Keselamatan Warganya di Libanon

Menteri Pertahanan Australia Brendan Nelson memutuskan untuk menarik 12 tentaranya dari wilayah selatan Libanon.

Aksi protes di Australia menentang serangan Israel di Libanon

Aksi protes di Australia menentang serangan Israel di Libanon

Ke-12 tentara itu ditempatkan di Libanon di bawah payung Perserikatan Bangsa-Bangsa. Nelson menjelaskan:

“Risikonya terlalu besar untuk mempertahankan tentara kami di sana. Oleh karena itu, kami memutuskan untuk menarik 12 tentara kami yang akan dipindahkan ke Beirut. Di sana mereka nantinya bekerja dengan kementerian luar negeri kami.”

Beberapa hari lalu Australia menambah jumlah tentaranya di Libanon untuk membantu proses evakuasi warganya. Namun apakah di masa mendatang Australia ikut dalam misi perdamaian PBB di Timur Tengah, Nelson menuturkan:

“Yang pasti, kami tidak akan mengirimkan tentara ke Timur Tengah, jika keadaannya belum jelas. PBB seharusnya didukung oleh pasukan multinasional, yang diperkuat oleh sebuah resolusi. Saya akan terkejut, jika ternyata Australia mempersiapkan kontingen besar ke Timur Tengah.”

Keraguan Nelson didasari pernyataan Luar Negeri Australia Alexander Downer yang secara tegas mengatakan, bahwa penempatan tentara helm biru ke Timur Tengah sama dengan bunuh diri. Hingga kini, Australia kehilangan seorang warga. Ia adalah putra pasangan suami istri keturunan Israel. Menteri Luar Negeri Australia Alexander Downer mengatakan:

“Laporan bahwa seorang warga Australia tewas dalam pertikaian di Libanon Selatan adalah benar. Ayahnya hidup di Israel, sedangkan ibu dan kakak perempuannya di Sidney. Ia adalah korban jiwa Australia yang pertama. Ia terbunuh saat melaksanakan tugasnya di militer Israel, dan tragisnya tugasnya di militer Israel yang lamanya dua tahun, bulan depan sudah mau tamat.”

Menurut Menteri Luar Negeri Australia Alexander Downer nampaknya sementara ini harapan untuk gencatan senjata sangat kecil. Kemudian Downer menambahkan, Hisbullah seharusnya menghentikan serangan roketnya ke wilayah utara Libanon. Seperti Amerika Serikat, Australia begitu kekeh, bahwa Israel sepantasnya membela diri.

Iklan