1. Buka konten
  2. Buka menu utama
  3. Buka situs DW lainnya

Aung San Suu Kyi Terancam Kembali Ditahan

18 November 2010

Beberapa hari setelah dibebaskan tokoh oposisi Myanmar, Aung San Suu Kyi kembali terancam hukuman baru. Junta militer mengumumkan akan menghukum siapa pun yang melaporkan keluhan palsu mengenai pemilu.

https://p.dw.com/p/QD9s
Aung San Suu Kyi
Aung San Suu KyiFoto: AP

Peraih hadiah Nobel Perdamaian Aung San Suu Kyi dalam wawancara dengan BBC mengatakan, "Sejauh yang saya dengar, banyak pertanyaan mengenai keadilan pemilu. Terdapat tuduhan kecurangan pemilu. Komite yang dibentuk oleh Liga Nasional untuk Demokrasi, akan menyelidiki semua kasus dan akan mempublikasikan laporannya."

Terutama apa yang disebut pemberian suara yang dilakukan sebelum pemilu yang menguntungkan perolehan suara partai militer dalam pemilu, yang dikritik oleh partai-partai oposisi. Dalam penghitungan suara pada hari pemilihan umum (07/11), tiba-tiba ditemukan beberapa karung kertas suara, yang sebagian besar berasal dari pegawai negeri yang diperintahkan untuk memberikan suaranya sebelum hari pemungutan suara.

Aung San Suu Kyi menyatakan sama sekali tidak khawatir dirinya ditahan lagi. Suu Kyi mengatakan bahwa dirinya ingin melanjutkan kerja politiknya.

"Saya tidak takut, artinya saya tidak akan membatasi kerja politik saya, karena ketakutan akan ditahan lagi. Ancaman ini selalu ada. Dan saya tentu ingin menghindarinya karena menjadi tahanan rumah tidak akan bisa bekerja seperti dalam kebebasan," tuturnya.

Sejak pembebasannya, Aung San Suu Kyi sudah melakukan sejumlah pembicaraan dengan para pemimpin politik dari partai-partai oposisi. Menurut Suu Kyi, ia sedang menyiapkan kebangkitan kembali Liga Nasional untuk Demokrasi sebagai partai, yang sebelumnya telah dibubarkan. Selain itu Suu Kyi juga mengupayakan perundingan dengan militer, untuk mencapai reformasi damai bagi demokratisasi di Myanmar.

"Saya tidak ingin menggulingkan militer. Saya lebih ingin agar mereka membangun profesionalitas dan patriotisme sejati. Saya ingin agar mereka melakukan yang terbaik untuk negara dan yang diinginkan rakyat. Rakyat ingin standar hidup yang lebih baik, keamanan dan kebebasan. Militer selama ini menggunakan alasan keamanan untuk merampok kebebasan rakyat," Suu Kyi menjelaskan.

Setelah dibebaskan, ia juga sempat mengunjungi panti perawatan pasien HIV/AIDS yang dikelola oleh Liga Nasional untuk Demokrasi. Menurut perkiraan PBB, lebih dari 270 ribu orang di Myanmar terinfeksi virus HIV dan hanya sedikit pasien AIDS yang memiliki akses pengobatan.

Akhir pekan lalu (14/11), Aung San Suu Kyi dibebaskan setelah lebih dari tujuh tahun menjadi tahanan rumah. Dalam 21 tahun terakhir ini, Aung San Suu Kyi menghabiskan lebih dari 15 tahun dalam tahanan.

Bernd Musch-Borrowska/Luky Setyarini

Editor: Agus Setiawan