1. Buka konten
  2. Buka menu utama
  3. Buka situs DW lainnya
Gambar ilustrasi ganggang
Gambar ilustrasi ganggangFoto: imageBROKER/picture-alliance

Atasi Wabah Ganggang di Bretagne

Friederike Hofmann
29 Januari 2022

Lapisan alga hijau yang sampa setebal 40 cm jadi ancaman bagi kesehatan. Selama proses membusuk, alga hijau melepas hidrogen sulfida yang beracun ke udara.

https://www.dw.com/id/atasi-wabah-ganggan/a-60590732

André Ollivro bergegas mengukur berapa kadar hidrogen sulfida di udara. Ternyata konsentrasinya 497 parts per milion (ppm), atau bagian per sejuta. Gas itu keluar dari massa berbau busuk yang berada di atas pasir.

Ia menjelaskan, "Mulai 25 ppm kita harus pergi, terlalu berbahaya. Harus pakai masker, dan tidak boleh lama-lama di sini." Ini kondisi menyeramkan, dan dari teluk cantik dekat Saint-Brieuc di Bretagne tidak banyak yang tersisa. Pantai ditutup. Di mana-mana di kawasan itu terdapat alga hijau yang membusuk

Jumlah alga hijau kini melonjak drastis

André Ollivro, yang sekarang pensiunan menjelaskan, "Kalau baru tiba, alga ini seperti selada dan tidak beracun. Tapi kalau tergeletak di pantai, dan membusuk di bawah lapisan yang kering, maka proses pembusukan dimulai dan 20 jenis gas terlepas." Alga hijau sudah ada di sini sejak dulu, tapi akibat perubahan iklim dan tingginya beban nitrat di dalam air, jumlahnya melonjak drastis. 

Mengekang Pertumbuhan Alga dengan Sistem Bonus

"Ini terkait dengan banyaknya peternakan babi, unggas dan hewan lain di sini, dan lokasinya yang saling berdekatan." Begitu ditambahkan André Ollivro.

Lewat sungai-sungai ini, nitrat mengalir ke lautan. Itu berasal dari kotoran hewan serta pupuk dari lahan pertanian intensif di kawasan ini. Semua itu mendorong perkembangan drastis alga di teluk-teluk berair dangkal.

Peternakan dan pertanian organik membantu cegah polusi

Lahan peternakan dan pertanian Yann Yobés berlokasi 10 km dari teluk. Ia mengubah produksinya menjadi 100% organik. Sapi-sapinya sekarang hanya makan rumput dan jerami. Selain itu, pupuk buatan jadi tabu. Bagi pertaniannya yang berskala kecil, perubahan mudah dilakukan.

Semakin besar skala pertanian, semakin besar pula polusinya. Yann Yobe yakin akan hal itu. Tapi tanpa pemberian insentif tidak akan ada banyak perubahan. Ia berujar, "Orang harus memberikan kompensasi bagi petani yang mengusahakan perubahan. Sekarang itu belum terjadi." 

Sekitar 80 km dari sana, di Saint Michel en Grève, sistem itu sedang diusahakan. Di sini, 30 tahun yang lalu, terdapat kasus kematian pertama yang dikaitan dengan alga hijau. Walikota François Ponchon beserta sejumlah petani kini berusaha mengembangkan sistem bonus. Mereka yang mau beralih ke pertanian organik akan mendapat uang. Dua pertiga petani bersedia ikut serta.

Sekarang, di daerah pantai alga masih dibersihkan setiap hari. Tapi situasinya sudah jauh lebih baik. 10 tahun lalu, yang diangkut lebih dari 20.000 ton per tahun. Sekarang, kurang dari setengahnya. 

"Kami ingin, agar di sini kembali bersih, seperti sebelum tahun 70-an. Itu lebih baik bagi semua orang. Untuk kesehatan, untuk pariwisata, dan untuk keanekaragaman hayati." Demikian dinyatakan walikota Francois Ponchon. Dulu, Saint Michel en Grève adalah salah satu pantai yang paling parah dipenuhi alga, sekarang kehidupan perlahan kembali lagi. 

"Hentikan Banjir Hijau" kritik politisi

André Ollivro kerap berunding dengan rekan-rekan kampanyenya dari organisasi bernama Hentikan Banjir Hijau. Mereka mengkritik para politisi yang dinilai tidak mengambil langkah apapun selama beberapa dasawarsa. Berbagai rencana untuk melindungi warga dari alga hijau tidak ada efeknya. 

"Tidak ada pelaksanaannya," kata André Ollivro. Tidak ada yang mau adakan perubahan, karena pasti pertanian dan warga tidak bisa menghindar dari perubahan pula.

Tapi dia juga meraih sedikit kesuksesan. Kementerian Pertanian Perancis kini memutuskan akan menangani sendiri alga hijau. Sehingga André Ollivro tetap punya harapan, satu saat nanti, teluknya akan kembali bebas dari cemaran alga. (ml/yp)