1. Buka konten
  2. Buka menu utama
  3. Buka situs DW lainnya

110611 Syrien Gewalt UN

11 Juni 2011

Menurut laporan saksi mata serangan balik helikopter tempur militer Suriah, menewaskan sedikitnya 25 pelaku aksi protes. Serangan itu hendak menunjukkan kepada AS, militer Suriah makin kuat mendukung Presiden Assad.

https://p.dw.com/p/11YoZ
Kamp pengungsi di perbatasan antara Turki dan SuriahFoto: AP

Di Suriah kekerasan terhadap para demonstran masih berlangsung, jumlah korban tewas dan luka-luka terus meningkat. Komisariat Hak Asasi Manusia PBB menyampaikan kecemasan tentang situasi di Suriah. Selain itu diupayakan jalur diplomatis untuk berbicara dengan pimpinan Suriah untuk mengakhiri kekerasan. Tapi Presiden Suriah Bashar al-Assad tidak ingin berbicara. Ketika Sekjen PBB Ban Ki Moon mencoba menelefon ke Damaskus, kepadanya hanya disampaikan, presiden saat ini tidak dapat berbicara. Yang agak lebih berhasil adalah Perdana Menteri Turki Recep Tayyip Erdogan, yang berhasil menghubungi Assad tapi juga hanya dapat menyimpulkan, pimpinan Suriah itu menganggap remeh situasi yang genting. Padahal situasi tetap dramatis. Juru bicara komisariat HAM PBB Rupert Colville melaporkan

"Pemerintah Suriah tidak mengijinkan kami memasuki negara itu. Tapi laporan-laporan yang sampai kepada kami sangat mengkhawatirkan. Dari situ dapat disimpulkan pemerintah Suriah bertindak tidak kenal ampun terhadap penduduk di seluruh negeri."

Sebaliknya pimpinan di Damaskus tetap pada pernyataan, kerusuhan itu disulut oleh kelompok bandit bersenjata untuk membuat negara itu tidak stabil. Reem Haddad, juru bicara kementerian informasi di Damaskus bahkan berasumsi orang-orang yang beberapa hari terakhir melarikan diri dari Suriah ke Turki di sana mungkin hanya mengunjungi saudara atau kerabatnya. Jadi itu hal yang normal.

Dari pihak Turki dilaporkan dibangun beberapa kamp penampungan, antara lain kota tenda yang bisa menampung sampai 5000 orang. Di antara para pengungsi banyak yang berasal dari kota Jisr al-Shogur di utara Suriah, yang sementara ini dikepung militer pendukung Presiden Assad.

Selain itu semakin banyak petunjuk bahwa militer Suriah mendapat dukungan dari mitranya Iran. Dilaporkan terlihat pria-pria berjanggut dalam seragam hitam yang bukan berbahasa Arab. Ribal al-Assad, sepupu Presiden Assad yang masuk kelompok oposisi yakin

"Iran tidak akan pernah membiarkan rezim Suriah ambruk. Suriah secara strategis penting, sebagai garis terdepan pertahanan Iran."

Sementara itu di tingkat internasional tekanan terhadap rezim di Damaskus semakin besar. Jerman, Perancis, Inggris dan Portugal ingin mengajukan gugatan ke Dewan Keamanan PBB mengenai kekerasan di Suriah. Juru bicara komisariat Hak Asasi Manusia mengomentarinya dengan kata-kata

"Akibat perkembangan terakhir dan korban tewas sedemikian banyak adalah penting melancarkan tekanan terhadap rezim tersebut. Komisaris Tinggi untuk Hak Asasi Manusia PBB jelas mengecam bahwa pimpinan Suriah memukuli penduduknya sendiri."

Felix de Cuveland/Dyan Kostermans

Editor: Christa Saloh