Asian Games 2018: Terlalu Terbiasa Melompat | Olahraga | DW | 27.08.2018
  1. Inhalt
  2. Navigation
  3. Weitere Inhalte
  4. Metanavigation
  5. Suche
  6. Choose from 30 Languages
Iklan

Asian games 2018

Asian Games 2018: Terlalu Terbiasa Melompat

Pesta pembukaan Asian Games gegap gempita. Medali demi medali dikumpulkan. Tiket penutupan pun tandas. Namun bagaimana soal pretasi olahraganya di Indonesia? Simak opini Andibachtiar Yusuf.

Indonesia membuka gelaran ‘Olimpiade-nya' bangsa Asia dengan sempurna. Pemberitaan nasional maupun internasional kompak memuji, para netizen yang biasa rewel dan cerewet sepakat menasbihkan Asian Games ke 8 di Jakarta dan Palembang ini berhasil menampilkan upacara pembukaan yang luar biasa.

Walau kemudian muncul perdebatan yang sama sekali tidak penting soal  ‘apakah presiden kita Joko Widodo sungguhan ngebut naik motor atau ia menggunakan peran pengganti' saya rasa sungguh benar jika kita harus senang bisa menampilkan pesta pembukaan yang mengasyikkan mata.

Penulis: Andibachtiar Yusuf

Penulis: Andibachtiar Yusuf

Hanya beberapa jam sesudah acara yang dipuja-puji itu, tiket upacara penutupan tandas tak bersisa. Tak ada lagi cerita keluhan harga tiket pembukaan yang mahal atau hal yang lain yang membuat seolah Asian Games adalah gelaran level kecamatan.

Lalu, sudah puncakkah pencapaian kita? "Kalau cuma bikin upacara pembukaan yang bagus sih gak susah, kasi aja uang yang banyak dan waktu persiapan cukup, uang aja kok jawabannya. Masalahnya, ada gak uang pembinaan atau sistem pembinaan olahraga yang cukup buat perkembangan atlet-atlet kita?” cetus Santun Frederik di laman media sosialnya.

Indonesia menargetkan 20 medali emas pada gelaran Asian Games ini, tujuannya tentu agar bisa berada pada level elite Asia. Dikabarkan 1356 anggota kontingen olahraga Indonesia dikirimkan ke ajang ini yang 938 di antaranya adalah para atlet yang akan berlaga.

Dari 40 cabang olahraga yang akan dipertandingkan, Indonesia hanya memburu belasan cabang saja untuk merenggut 20 medali emas itu. Sebagian besar pun adalah olahraga-olahraga penilaian yang bergantung pada keputusan juri untuk bisa memenangkan pertandingan itu.

Menaruh harap ke lumbung emas

Kita memang punya Aero Sutan Aswar, yang disebut sebagai juara dunia jet ski World Finals 2014. Darinya, peluang Indonesia mendapatkan tambahan medali emas memang jadi bertambah. Masuknya cabang olahraganya dan juga paralayang ke Asian Games pun memang bagian dari hak prerogatif tuan rumah untuk mengusulkan cabang olahraga tertentu pada kejuaraan.

Cabang olahraga lumbung emas macam renang dan atletik sama sekali tidak menjadi tambatan harapan Indonesia meraih emas. Padahal kedua olahraga inilah yang praktis paling banyak menyumbangkan emas pada gelaran olahraga apapun. Kita seolah sadar diri bahwa kemampuan kita memang masih jauh di bawah negara-negara lain di Asia.

Jauh? Iya….padahal ukuran fisik sama, masalahnya Indonesia nyaris tak pernah menyiapkan pembinaan olahraganya dengan benar. Aero si juara dunia itu mengembangkan dirinya sendiri tanpa bantuan pemerintah pada awalnya. Ketika sudah jadi juara dunia berkat kerja keras dirinya dan orang tuanya yang lintang pukang memodali, barulah pemerintah datang dan mendorongnya masuk ajang Asian Games.

Atletik adalah olahraga  yang digemari bangsa, banyak sekali gelaran kejuaraannya, namun pembinaannya terbengkalai tak jelas kemana.

Keduanya memang tahu diri, sepakbola hanya menargetkan semifinal. Itu pun dengan pemikiran bahwa kita pernah berada di sana di tahun 1986. Pembinaan sepakbola jelas mandek, turnamen-turnamen usia muda atau remaja memang banyak ditemukan, namun apakah para pemain itu dibina dengan benar lewat level SSB (Sekolah Sepakbola) dan kemudian akademi? Tentu tidak.

Atletik lebih parah lagi

Saya bahkan tak yakin kalau kita punya klub atletik sungguhan. Klub yang selalu mengirimkan atletnya berkompetisi di segala kejuaraan nasional maupun internasional.

Klub macam Santa Monica yang pernah melahirkan Carl Lewis misalnya. Klub seperti Scarborough Optimist Track Club yang pernah melahirkan Tony Sharpe atau klub-klub lain yang bahkan saya yakin tak banyak dari pelari hore yang rutin meramaikan lomba-lomba lari itu sadar akan keberadaannya.

Olahraga kita sudah lama mandeg memang, kita terlalu terbiasa mengejar hasil jadi sesaat. Kita lupa bahwa dalam segala hal selalu ada proses, dan dalam olahraga proses adalah juga pembinaan berkelanjutan dari masa kanak-kanak, remaja sampai dewasa. Fasilitas olahraga yang juga memadai, yang saya berani bertaruh bahkan dibanding Singapura atau Kroasia yang berukuran mini itu saja kita kalah jauh.

Membina dan mengembangkan pun butuh biaya, pemerintah jelas punya peran besar di sana. Negara juga yang seharusnya memulai hal-hal macam ini, sementara federasi olahraga melakukan kompetisi dan menyiapkan kurikulumnya. Tetapi….rasanya kita sudah terlalu biasa loncat pagar, semua mau cepat saja, tak heran di negara kita ada yang namanya korupsi sebagai kiat cepat kaya.

 

@andibachtiar

Penulis dan seniman

 

*Setiap tulisan yang dimuat dalam #DWNesia menjadi tanggung jawab penulis.

Laporan Pilihan

Audio dan Video Terkait