1. Buka konten
  2. Buka menu utama
  3. Buka situs DW lainnya

Prospek Keamanan Memburuk, Asia Genjot Pembelian Senjata

Hendra Pasuhuk sumber: Reuters)
28 Mei 2025

Pengeluaran untuk persenjataan meningkat pesat di beberapa negara Asia, kata laporan terbaru Asia-Pacific Regional Security Assessment dari International Institute for Strategic Studies (IISS) di London.

https://p.dw.com/p/4v11l
Beberapa tentara Vietnam tengah mengamati drone militer yang ditampilkan dalam Pameran senjata di Hanoi, Vietnam, 2022
Pameran senjata di Hanoi, Vietnam, Desember 2022Foto: Nhac Nguyen/AFP

Pengeluaran untuk persenjataan dan penelitian meningkat di beberapa negara Asia saat mereka menanggapi prospek keamanan yang memburuk dengan memperluas kemitraan industri luar negeri sambil mencoba meningkatkan industri pertahanan mereka sendiri, demikian temuan sebuah studi baru.

Laporan tahunan Asia-Pacific Regional Security Assessment (Penilaian Keamanan Regional Asia-Pasifik) yang dirilis hari Rabu (28/5) oleh International Institute for Strategic Studies (IISS) yang berpusat di London mengatakan bahwa bantuan industri dari luar tetap penting, bahkan ketika negara-negara regional pada akhirnya bertujuan untuk mandiri.

"Konflik terkini di Ukraina dan Timur Tengah, ditambah dengan memburuknya persaingan strategis AS-Cina dan memburuknya lanskap keamanan Asia-Pasifik, dapat memicu meningkatnya gelombang kemitraan industri pertahanan," kata laporan itu.

Selanjutnya disebutkan: "Dinamika keamanan kompetitif atas titik-titik api yang memanas ... memicu kebutuhan untuk mengembangkan kemampuan militer guna mengatasinya."

Kapal Perang Cina Shandong di dekat perairan Taiwan
Kapal Perang Cina Shandong di dekat perairan TaiwanFoto: Eastern Theatre Command/Handout/REUTERS

Terutama Asia Tenggara masih tergantung pada impor senjata

Belanja untuk pengadaan pertahanan serta penelitian dan pengembangan di Asia naik USD2,7 miliar antara tahun 2022 dan 2024, dan mencapai nilai USD10,5 miliar di negara-negara utama Asia Tenggara, yakni Indonesia, Malaysia, Filipina, Singapura, Thailand, dan Vietnam.

Negara-negara tersebut menghabiskan rata-rata 1,5% PDB untuk pertahanan pada tahun 2024, satu angka yang relatif konstan selama dekade terakhir.

Studi yang dirilis menjelang pertemuan pertahanan tahunan Shangri-La Dialogue akhir pekan ini di Singapura, mengatakan negara-negara Asia-Pasifik masih bergantung pada impor untuk sebagian besar senjata dan peralatan utamanya.

Barang-barang tersebut berkisar dari kapal selam dan pesawat tempur hingga pesawat tanpa awak, rudal, dan peralatan elektronik canggih untuk pengawasan dan pengumpulan intelijen.

Pertemuan informal para pejabat pertahanan dan militer dunia di Singapura diperkirakan akan didominasi oleh ketidakpastian yang berasal dari konflik Ukraina yang berkepanjangan, kebijakan keamanan pemerintahan Trump, dan ketegangan regional atas Taiwan dan jalur air sibuk di Laut Cina Selatan.

Presiden Indonesia Prabowo saat berpidato di Shangri-La Dialogue, 1 Juni 2024
Prabowo di forum Shangri-La Dialogue, 1 Juni 2024Foto: Nhac Nguyen/AFP/Getty Images

Arab Saudi dan UEA ingin bangun industri senjata sendiri

Arab Saudi dan Uni Emirat Arab (UEA) semakin aktif dan membuat terobosan, kata studi tersebut, meskipun perusahaan-perusahaan Eropa memiliki kehadiran regional yang menonjol dan berkembang, melalui transfer teknologi, usaha patungan, dan kesepakatan perakitan berlisensi.

UEA sekarang mengoperasikan jaringan kolaborator yang beragam, seperti raksasa senjata NORINCO milik Cina dan pesaingnya, Hindustan Aeronautics milik India.

Operasi pengembangan bersama tidak selalu mudah, kata penelitian tersebut, menawarkan pelajaran dari kolaborasi dua dekade India dengan Rusia untuk memproduksi rudal antikapal supersonik BrahMos.

Sementara senjata yang ditakuti itu digunakan oleh India, ekspornya terhambat oleh kurangnya strategi yang jelas, dengan pengiriman ke pelanggan pihak ketiga pertamanya, Filipina, baru dimulai pada tahun 2024, tambah studi tersebut.

Disebutkan juga, hubungan Rusia-Cina yang lebih erat dapat semakin mempersulit pengembangan senjata tersebut, terutama jika Moskow memilih untuk memprioritaskan hubungan dengan Beijing untuk mengembangkan rudal versi hipersonik.

Editor: Yuniman Farid

Ayo berlangganan newsletter mingguan Wednesday Bite. Recharge pengetahuanmu di tengah minggu, biar topik obrolan makin seru!

Lewatkan bagian berikutnya Topik terkait