AS Desak Resolusi Baru untuk Pasukan PBB di Libanon | Fokus | DW | 22.08.2006
  1. Inhalt
  2. Navigation
  3. Weitere Inhalte
  4. Metanavigation
  5. Suche
  6. Choose from 30 Languages

Fokus

AS Desak Resolusi Baru untuk Pasukan PBB di Libanon

Penjaga perdamaian atau pencipta perdamaian? Sementara ini itulah masalah yang menjadi pertanyaan utama misi pasukan PBB UNIFIL.

Pasukan Perdamaian Prancis yang tiba di Libanon Sabtu (19/08) lalu

Pasukan Perdamaian Prancis yang tiba di Libanon Sabtu (19/08) lalu

Penjabaran tugas di Libanon Selatan bagi banyak negara masih tetap belum jelas. Oleh sebab itu, perencana misi perdamaian di New York masih sia-sia menunggu janji positif yang konkrit dan tepat bagi pengiriman pasukan pelopor secepatnya. Sekarang, hanya dari Italia datang kesediaan mengambil alih pimpinan, dan sanggup mengirim 2.000 sampai 3.000 tentaranya.

Sementara itu, Amerika Serikat melakukan tekanan. Duta Besarnya untuk PBB John Bolton mengatakan di New York:

Semua masih berada di tahap persiapan, dan itulah yang terbaik yang dapat saya katakan. Tapi saya pikir tidak ada keraguan, kepentingan mendesak pengiriman tersebut. Dan waktunya sudah kritis.”

Amerika Serikat sendiri tidak ingin terlibat dalam memperkuat pasukan UNIFIL. Tapi di Washington orang tahu, apa yang diinginkan Roma atau Madrid: Sebuah mandat yang jelas, yang menurut istilah PBB mandat yang kokoh. Defisit resolusi pertama harus diperbaiki, demikian Bolton. Harus ada resolusi kedua dan dengan tugas yang jelas.

Pelucutan senjata Hisbullah yang tidak disinggung langsung dalam Resolusi PBB 1701 harus dicantumkan – secepat mungkin.”

Dengan begitu, Amerika Serikat menginginkan lebih dari sekedar tugas penjaga perdamaian: Bukan hanya menjaga dan mendampingi gencatan senjata yang rapuh melainkan pencipta perdamaian dengan mandat yang kokoh. Menciptakan perdamaian juga dengan senjata seperti yang diijinkan sesuai bab 7 Piagam PBB.

Bolton: Mengapa negara-negara ragu sudah jelas. Situasinya sangat berbahaya, gencatan senjata tidak stabil. Itulah salah satu alasan mengapa kami dan lainnya setuju dengan mandat yang kokoh. Dan mengapa resolusi ini harus diolah lebih lanjut.”

Jaminan keamanan bagi UNIFIL dalam tugas di Libanon Selatan tanpa pelucutan senjata milisi Hisbullah, sejauh ini gagal ditegaskan dalam penjabaran tugas. Sekali lagi ditegaskan Bolton:

"Selama pejuang Hisbullah tetap bersenjata, di Selatan atau di bagian manapun negara itu, apakah senjatanya tampak atau disembunyikan di bawah kasur, selama itu pula pasukan PBB dan pasukan Libanon mudah terluka.“

Oleh sebab itu hanya proses kedua, yang hanya memiliki kerugian. Di Dewan Keamanan PBB, diperlukan waktu pembahasan. Waktu yang sangat sempit bagi masyarakat di Libanon Selatan. Dan mandat yang kokoh meningkatkan risiko tempur bagi pasukan PBB. Sebuah risiko yang ditakutkan banyak pihak.