Arswendo Atmowiloto, Tokoh Nomor 10 Paling Dikagumi Itu Telah Pergi | KOLOM: Bersama berdialog untuk mencapai pemahaman | DW | 20.07.2019
  1. Inhalt
  2. Navigation
  3. Weitere Inhalte
  4. Metanavigation
  5. Suche
  6. Choose from 30 Languages
Iklan

kolom

Arswendo Atmowiloto, Tokoh Nomor 10 Paling Dikagumi Itu Telah Pergi

Indonesia kehilangan sosok Arswendo Atmowiloto yang mencatat jejak fenomenal di dunia jurnalistik dan sastra Indonesia. Simak opini Monique Rijkers.

Indonesia kehilangan seorang wartawan, penulis novel, penulis buku tentang media massa, penulis skenario dan seorang yang mendadak menjadi tokoh karena ia dipersekusi. Menghina agama seperti yang terjadi pada Ahok bukan kasus pertama yang mengguncang Indonesia. Tahun 1990, Arswendo Atmowiloto dipenjara akibat kasus penghinaan terhadap Nabi Muhammad SAW.

Kasus ini berawal dari angket pembaca tabloid hiburan Monitor tentang tokoh yang paling dikagumi. Pembaca mengirimkan jawaban melalui kartu pos dan hasilnya diterbitkan di tabloid Monitor yang beroplah sekitar 500 ribu eksemplar. Sebagai Pimpinan Redaksi tabloid hiburan Monitor, Arswendo dianggap bertanggung jawab atas hasil angket pembaca “Ini Dia: 50 Tokoh Yang Dikagumi Pembaca Kita” dalam terbitan 15 Oktober 1990 sebab Nabi Muhammad hanya berada di urutan ke-11, Arswendo sendiri berada di nomor 10 dan Presiden Soeharto menjadi sosok yang paling dikagumi oleh orang Indonesia sehingga duduk di posisi puncak.

Tabloid Monitor memuat permintaan maaf pada penerbitan berikutnya namun tidak menurunkan tensi kemarahan masyarakat dan hakim pun menghukum Arswendo lima tahun penjara. Tidak ada yang membela Arswendo selain Gus Dur. Dalam sebuah acara di PBNU tahun 2014, Arswendo berkata, “Bagi saya Gus Dur itu bukan wali, aslinya sampai sekarang pun saya yakin beliau itu dewa, cuma nyamar jadi kiai. Saya tidak habis pikir, apa untungnya membela saya. Toh saya ngga kenal dekat dengan Gus Dur.”

Meski berada di dalam penjara, kreativitas seorang Arswendo tak bisa dibendung. Ia menulis tujuh buah novel, puluhan artikel dan naskah skenario. Tembok penjara juga tak bisa mengikis kekuatan humor Arswendo. Ia memilih judul cerita pendek bercanda seperti “Sudesi” (Sukses Dengan Satu Istri) atau nama penulis yang bernada guyon seperti “Lani Biki” (Laki Bini Bini Laki).

Teralis besi yang mengurungnya tidak mampu membuatnya terpisah dengan Sang Maha Kuasa. Spiritualitas Arswendo terbangun justru saat di dalam penjara. Arswendo menulis kumpulan kisah spiritualnya di dalam penjara menjadi buku berjudul, “Khotbah Di Penjara”.  Pengalaman berbagi bersama dengan para napi, kesaksian dan khotbah yang ia bagikan selama menginap di hotel prodeo menjadi bukti keteguhan iman Arswendo. “Bersaksi adalah mengatakan sesuatu yang dilihat atau dialami, kita semua tahu karena kita mengenal saksi di pengadilan, dan sering juga kita tampil di pengadilan sebagai saksi. Dasar dari bersaksi adalah kejujuran.”

Kebangkitan daya kreasi Arswendo adalah saat ia berhasil memproduksi cerita drama keluarga, “Keluarga Cemara” yang mengubah wajah pertelevisian di Indonesia. Ketika demam sinetron melanda Indonesia dengan kisah-kisah yang jauh dari realita kehidupan masyarakat Indonesia, kehadiran “Keluarga Cemara” yang menampilkan sosok Abah sebagai seorang tukang becak, ibu pembuat opak dengan ketiga putrinya sungguh menghibur dan mendidik. Hingga saat ini daya pikat “Keluarga Cemara” masih menjadi acuan tayangan drama televisi paling bermutu di tanah air. Lagu tema “Keluarga Cemara” yang ditulis Arswendo dan Harry Tjahjono berhasil membuat hangat menyergap setiap hati. “Harta yang paling berharga adalah keluarga. Istana yang paling indah adalah keluarga. Puisi yang paling bermakna adalah keluarga.”

Kini Arswendo yang lahir di Solo, 26 November 1948 sudah tiada. Ia berhasil mengubah wajah media massa di Indonesia melalui kasus “Monitor”. Ariel Heryanto, profesor di Universitas Melbourne, Australia dan penulis buku “Identitas dan Kenikmatan: Politik Budaya Layar Indonesia” dalam sebuah diskusi tentang Islam di Jakarta beberapa bulan lalu menyatakan, “Monitor adalah bacaan yang tidak serius namun bisa membuat orang marah karena menoda agama. Inilah wajah Indonesia. 

Media massa khususnya tabloid tak bisa lagi merdeka memuat dan menampilkan wajah asli masyarakat dengan survei nyeleneh yang semula dianggap menghibur. Media massa sekelas tabloid dengan pembaca kelas menengah ke bawah dengan kejujuran saat menyajikan isi kepala masyarakat menjadi berdosa ketika menampilkan fakta. Tabloid “Monitor” mendadak naik kelas menjadi media massa “politik dan hukum” karena isinya dianggap mempengaruhi stabilitas nasional. Bahkan menjadi menarik karena hasil survei tak serius berdampak pada seruan boikot Monitor dan berujung pada penutupan.

Arswendo menjadi fenomena di dunia sastra berkat Senopati Pamungkas yang menghadirkan tak kurang dari 50 tokoh dengan kekayaan karakter dan penokohan. Sejarah diceritakan kembali dengan pesona yang khas Indonesia yakni silat. Arswendo menjadi fenomena media massa dengan ide angketnya yang tak sengaja justru menorehkan catatan penting kondisi sosial masyarakat Indonesia. Arswendo menjadi fenomena dengan ide drama keluarga sederhana tanpa gincu dan mobil mewah mentereng yang justru mendobrak kepalsuan layar kaca. Arswendo selalu fenomenal. Tokoh nomor 10 yang paling dikagumi masyarakat di tahun 1990 itu kita sudah bersama dengan Tuhan yang ia kenal di penjara Cipinang. Selamat menulis di surga sana, Arswendo Atmowiloto.

Penulis @monique_rijkers adalah wartawan independen, IVLP Alumni, pendiri Hadassah of Indonesia, inisiator Tolerance Film Festival dan inisiator #IAMBRAVEINDONESIA.

*Setiap tulisan yang dimuat dalam #DWNesia menjadi tanggung jawab penulis

*Bagi komentar Anda dalam kolom di bawah ini.

Laporan Pilihan