Arroyo Selamat dari Pemecatan | Fokus | DW | 24.08.2006
  1. Inhalt
  2. Navigation
  3. Weitere Inhalte
  4. Metanavigation
  5. Suche
  6. Choose from 30 Languages

Fokus

Arroyo Selamat dari Pemecatan

Presiden Arroyo kembali lolos dari lubang jarum. Tetapi para oposan bersumpah akan terus berusaha menggusur Arroyo yang dituduh korup dan melakukan pelanggaran HAM

Demo Anti Arroyo

Demo Anti Arroyo

Gloria Macapagal Arroyo, masih bisa bernafas lega di atas kursi kepresidenan Republik Filipina. Dalam pemungutan suara yang digelar para oposan untuk mengimpeach alias memecatnya dari posisi presiden, ia unggul mutlak. Arroyo memperoleh 173 suara, sementara para penentangnya cuma meraup 32 suara. Ada 31 orang anggota Kongres yang memboikot, atau telat memberikan suara. Tetapi itu tak berpengaruh sama sekali. Karena menurut undang-undang, presiden baru bisa dipecat secara sah, jika upaya pemecatannya didukung 158 suara, atau duapertiga dari 236 anggota kongres.

Namun bukan berarti Arroyo aman di kursinya. Karena para oposan serta lawan politik Arroyo akan terus berusaha menggusurnya. Para oposan kini akan berjuang habis-habisan dalam Pemilu para anggota Kongres tahun depan. Dikatakan Ramon Casiple, direktur eksekutif Institute for Political and Electoral Reform, Filipina:

"Semuanya belum berubah. Krisis masih berlangsung. Kaum posisi akan terus berusaha menyingkirkan Arroyo. Dan semuanya akan bergeser ke Pemilu Kongres tahun 2007. Kaum oposisi akan berusaha untuk memperoleh banyak kursi, agar mendapat suara yang cukup untuk kembali melakukan impeachment tahun depan. Karena sekarang ini, Kongres dikuasai orang-orang Arroyo".

Sekarang ini Kongres memang dikuasai orang-orang Arroyo. Namun sebetulnya, menurut survey, sebagian besar rakyat Filipina tak lagi menyukai Arroyo.

"Jelas mereka berpeluang besar. Menurut survey, dua pertiga orang Filipina menginginkan mundurnya Arroyo. Ini merupakan angka dukungan paling rendah terhadap seorang presiden Filipina dalam sejarah. Arroyo lebih tidak populer bahkan dibandingkan diktator Marcos. Jika rakyat benar-benar menunjukannya dalam pemilu depan, Arroyo pasti bisa digusur dari kursinya."

Awalnya, Arroyo kurang populer, karena hasil Pemilu 2004 dituding tidak sah. Namun dukungan terhadap Arroyo makin ambruk, terutama oleh urusan korupsi. Arroyo bahkan menjegal sebuah upaya penyelidikan terhadap korupsi yang dilakukan keluarganya. Kembali Casiple:

"Sudah ada tuduhan korupsi yang sedianya akan diselidiki oleh Senat. Tetapi Arroyo menjegalnya. Misalnya kasus sejumlah proyek yang melibatkan suami Arroyo dan sejumlah temannya".

Masalah lain yang menggerus popularitas Arroyo, menyangkut hak asasi manusia. Di satu sisi, Arroyo dipuji karena menghapuskan hukuman mati. Di lain sisi, justru di masa kekuasannya begitu banyak pembunuhan politik. Yang jadi korban terutama para aktifis politik berhaluan kiri, dan para wartawan. Lebih jauh, Ramon Casiple:

"Selama 3 tahun terakhir ini angka pembunuhan politik meningkat tajam. Terutama terhadap para wartawan, dan mereka yang dituduh pemberontak kiri atau anggota partai komunis. Menurut catatan organisasi keluarga para korban, angka pembunuhan politik selama 4 tahun terakhir kekuasaan Arroyo mencapai 700. Ini melampaui rekor sebelumnya, yang tercatat ketika diktator Marcos habis-habisan memerangi pemberontak komunis dulu. Setidaknya dalam jumlah korban per tahun."

Menurut Ramon Casiple, mundurnya presiden Arroyo dengan satu atau lain cara tetapi tidak dengan kekerasan, adalah satu-satunya cara menyelamatkan Filipina. Kalau tidak, negeri itu akan terus digunjang krisis dan ketidak pastian hingga tahun 210 nanti, saat masa jabatan Arroyo secara resmi berakhir.