Arroyo, Haus Akan Darah Kaum Kiri | Sosial | DW | 15.10.2006
  1. Inhalt
  2. Navigation
  3. Weitere Inhalte
  4. Metanavigation
  5. Suche
  6. Choose from 30 Languages

Sosial

Arroyo, Haus Akan Darah Kaum Kiri

Gloria Macapagal Arroyo adalah simbol bagi Filipina yang konservatif. Simbol, yang coba tetap dipertahankannya melalui manipulasi pemilu tahun 2004. Dan sejak saat itu, Arroyo menjadi haus akan darah kelompok kiri.

Gloria Macapagal Arroyo

Gloria Macapagal Arroyo

Apa yang terjadi lima minggu lalu tidak akan pernah dilupakan oleh Ester Manolo. Pada sebuah malam, ibu dari dua orang anak ini didatangi oleh sejumlah orang berseragam militer. Mereka mengancam. Menodongkan senjata. Menanyakan nama kedua anak Manolo. Memukul keduanya pada wajah dan perut. Dan akhirnya menghilang di kegelapan malam sambil membawa kedua bocah naas tersebut.

Manolo yang berdiri di hadapan koresponden DW, lima minggu setelah kejadian itu, tampak berusaha mengumpulkan keberaniannya untuk menceritakan kembali detail peristiwa penculikan kedua anaknya. Kebingungan dan resah, sang ibu mereka-reka, alasan apa yang membuat orang-orang tak dikenal itu mengambil anaknya. Manolo berpikir, mungkin ada hubungan dengan saudara lelakinya yang beberapa tahun lalu ikut berperang bersama kelompok pemberontak dan sejak saat itu menghilang.

Alfonso Cinco, perwakilan dari LSM HAM, Karapatan, mempekirakan, bahwa kedua anak Manolo kemungkinan besar sudah dibunuh. Lebih lanjut, Cinco mengatakan

“Sejak tahun 2001, angka pembunuhan terhadap politikus di Filipina terus meningkat. Sebagian besar dari pembunuhan itu mengikuti modus yang sama. Baik jenis dari eksekusinya maupun profil para korban hampir semuanya sama. Modusnya adalah, pembunuhan terhadap pemimpin dari organisasi sayap kiri oleh orang yang mengendarai sepeda motor. Tahun 2005 terdapat sebanyak 155 pembunuhan terhadap politikus, sedangkan tahun ini hingga bulan juli saja sudah tercatat 200 pembunuhan.”

Pembunuhan atau penculikan terhadap politikus-politikus dari rantai oposisi memang semakin sering dilakukan. Gambaran yang terjadi dewasa ini di Filipina tidak jauh beda dengan kekejaman di zaman kediktaturan Marcos. Kondisi semacam ini terus memburuk terutama sejak meningkatnya tekanan terhadap Presiden Gloria Macapagal Arroyo lantaran manipulasi yang dilakukannya pada pemilu tahun 2004.

Sedikitnya 800 politisi dari kelompok oposisi kiri terbunuh, sejak Arroyo mengambil-alih kekuasaan dari Joseph Estrada tahun 2001.Tidak hanya itu, hampir 200 politisi lainnya dinyatakan hilang tak berbekas. Baik itu pemerintah, maupun militer menampik tudingan telah terlibat dalam pembunuhan tersebut.

Mengenai program pembersihan musuh politik yang dilakukan pemerintah, Alfonso Cinco mengutarakan:

“Sejumlah petinggi militer Filipina pernah menyerahkan memorandum kepada kami tahun 2004 dan 2005. Di situ mereka mendokumentasikan apa yang disebut konsep untuk mencapai target. Menurut konsep itu, pemerintah dalam rangka program anti pemberontak-nya mengklasifikasikan orang-orang dari sejumlah organisasi politik sebagai kelompok separatis bersenjata. Artinya, para politisi itu sekarang secara resmi menjadi target dari dinas rahasia. Memorandum itu juga menetapkan batas waktu tiga bulan bagi dinas rahasia untuk membersihkan orang yang menjadi targetnya. Siapapun yang tidak berhasil dinetralisasi pandangan politiknya, akan dibunuh.”

Akan tetapi mereka berusaha mencari pembenaran atas kematian sejumlah anggota kelompok oposisi kiri Filipina. Selalu didengung-dengunkan, bahwa Filipina berada dalam keadaan darurat perang. Memang pemerintah di Manila sejak 30 tahun lalu melancarkan perang terhadap kelompok komunis yang menyebut dirinya sebagai Tentara rakyat baru atau NPA.

Namun ironisnya, seperti di Indonesia tahun 60-an, banyak yang termakan oleh doktrin pemerintahan di Manila. Termasuk salah satunya Marit Remonde, kepala sebuah stasiun radio privat yang juga istri dari kepala media masa pemerintah. Remonde, perempuan berdarah Denmark itu mengatakan:

“Siapapun yang memenuhi tugas jurnalistiknya akan memahami, bahwa semua politikus yang dibunuh adalah anggota dari organisasi komunis NPA. NPA atau tentara rakyat memang melancarkan perang dengan pemerintah, dan di setiap peperangan selalu ada yang mati. Bukan saya ingin membenarkan hal itu. Tapi pembunuhan terhadap semua aktifis ini tidak dapat dipisahkan dari peperangan yang dilancarkan NPA melawan pemerintah resmi.”

Secara Tradisional, militer Filipina adalah pihak yang bertanggung.jawab atas pembersihan para musuh negara. Namun menurut Aktifis HAM, Alfonso Cinco, militer kini terbelah di antara dua poros yang saling bertentangan. Di satu sisi, terdapat sejumlah jendral yang merupakan pengikut setia Arroyo, di sisi lain berdiri mereka-mereka yang mendukung demokratisasi di Filipina.