Perebutkan Nagorno-Karabakh, Armenia dan Azerbaijan Saling Deklarasikan Darurat Perang | DUNIA: Informasi terkini dari berbagai penjuru dunia | DW | 28.09.2020
  1. Inhalt
  2. Navigation
  3. Weitere Inhalte
  4. Metanavigation
  5. Suche
  6. Choose from 30 Languages
Iklan

Konflik Nagorno-Karabakh

Perebutkan Nagorno-Karabakh, Armenia dan Azerbaijan Saling Deklarasikan Darurat Perang

Pertempuran meletus antara Armenia dan Azerbaijan di sekitar wilayah Nagorno-Karabakh hari Minggu (27/09). Kedua belah pihak saling menyalahkan pihak lain telah menyerang lebih dulu dan melakukan mobilisasi perang.

Foto yang dirilis Kementerian Pertahanan Armenia menunjukkan konvoi militer Azerbaijan yang berhasil dihentikan | Nagorno-Karabakh Eskalation (Armenian's Defense Ministry/AP Photo/picture-alliance)

Foto yang dirilis Kementerian Pertahanan Armenia

Armenia dan Azerbaijan hari Minggu (27/09) saling tuduh pihak lain memulai serangan di wilayah sengketa Nagorno-Karabakh.  Sedikitnya 23 orang - baik warga sipil maupun militer - tewas dalam pertempuran yang terjadi hari Minggu (27/09), kata seorang pejabat di Nagorno-Karabakh, wilayah perbatasan yang memisahkan diri dari Azerbaijan tahun 1991 dan mendeklarasikan negara sendiri.

Pejabat Nagorno-Karabakh mengatakan, 16 tentara di pihaknya tewas dalam pertempuran. Komite Palang merah Internasional ICRC menyebutkan penduduk sipil juga menjadi korban. Mayoritas penduduk di Nagorno-Karabakh adalah warga Armenia dan pemerintah lokal mendapat dukungan militer dari Armenia, yang terlibat beberapa kali peperangan dengan Azerbaijan.

Darurat perang di Nagorno-Karabakh

Perdana Menteri Armenia Nikol Pashinyan dalam pidato televisi menyatakan bahwa "rezim otoriter Azerbaijan sekali lagi menyatakan perang terhadap rakyat Armenia."

"Kami berada di ambang perang skala penuh di Kaukasus Selatan, yang mungkin memiliki konsekuensi tak terduga," katanya. "Kami siap untuk perang ini."

Nikol Pashinyan lewat Twitter juga mengatakan Armenia "tidak akan mundur satu milimeter pun" untuk mempertahankan Nagorno-Karabakh.

Armenia kini mengumumkan mobilisasi militer di seluruh negeri. Presiden Rusia Vladimir Putin, setelah berbicara dengan PM Armenia Nikol Pashinyan, menyatakan "keprihatinan serius" atas eskalasi itu. Rusia memiliki pangkalan militer di Armenia dan hingga kini mendukung Armenia dalam sengketa Nagorno-Karabakh.

Sedangkan Azerbaijan didukung oleh Turki. Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan, setelah berbicara lewat telpon dengan Presiden Azerbaizan Ilham Aliyev, mengimbau rakyat Armenia untuk melawan para pemimpinnya, yang telah "menyeret mereka ke dalam malapetaka." Erdogan menegaskan "solidaritas penuh Turki" dengan Azerbaijan.

Armenia dan Azerbaijan saling tuduh

Kementerian Pertahanan Armenia menuduh Azerbaijan lebih dulu  melancarkan serangan bom terhadap sasaran sipil. Militer Armenia lalu menembak jatuh empat helikopter militer Azerbaijan, menghancurkan 15 drone dan 10 tank.

"Seluruh tanggung jawab untuk ini terletak pada kepemimpinan militer-politik Azerbaijan," kata seorang juru bicara Kementerian Pertahanan Armenia.

Video yang dirilis Kementerian Pertahanan Armenia disebut menunjukkan konvoi militer Azerbaijan yang berhasil dihentikan oleh Armenia (Armenian Defense Ministry/Reuters)

Video yang dirilis Kementerian Pertahanan Armenia disebut menunjukkan konvoi militer Azerbaijan yang berhasil dihentikan oleh Armenia

Sedangkan Azerbaijan menuduh pasukan Armenia melancarkan serangan "yang disengaja dan terarah" di Nagorno-Karabakh. "Ada laporan tentang korban tewas dan luka-luka di antara warga sipil dan prajurit militer," kata Presiden Azerbaijan Ilham Aliyev. Minggu (27/09) sore, Azerbaijan mengklaim telah merebut beberapa desa di Nagorno-Karabakh. "Kami telah membebaskan enam desa," kata seorang juru bicara kementerian pertahanan Azerbaijan kepada kantor berita AFP.

Presiden Dewan Eropa Charles Michel mengatakan kekerasan baru itu "menjadi perhatian paling serius" dan menyerukan diakhirinya pertempuran. "Segera kembali ke negosiasi, tanpa prasyarat, adalah satu-satunya jalan ke depan," tulisnya di Twitter.

Menteri Luar Negeri Jerman Heiko Maas juga mendesak kedua pihak kembali ke jalur diplomatik. "Saya meminta kedua pihak yang bertikai untuk segera menghentikan semua pertempuran dan terutama penembakan di desa dan kota," kata Kementerian Luar Negeri di Berlin.

hp/rap (afp, rtr, dpa)

Laporan Pilihan