Aristides Katoppo: ″Selain Nurani, Jurnalis Juga Harus Punya Nyali″ | INDONESIA: Laporan topik-topik yang menjadi berita utama | DW | 13.02.2019
  1. Inhalt
  2. Navigation
  3. Weitere Inhalte
  4. Metanavigation
  5. Suche
  6. Choose from 30 Languages

Pers dan Jurnalisme

Aristides Katoppo: "Selain Nurani, Jurnalis Juga Harus Punya Nyali"

Jurnalistik yang baik perlu nalar, naluri dan nurani. Tapi itu saja tidak cukup. "Jurnalis juga harus punya nyali untuk mengungkapkan kebenaran," kata tokoh pers kawakan Aristides Katoppo.

"Saya jadi wartawan tahun 1957, di masa yang sangat bebas. Ketika itu Indonesia menganut sistem pemerintahan parlementer, di mana pers sangat bebas mengkritik kebijakan penguasa, termasuk militer. Tetapi kemudian Soekarno memperkenalkan sistem demokrasi terpimpin," kata wartawan senior Aristides Katoppo yang sering dipanggil Tides.

Sistem yang cukup liberal dengan pers yang bebas mulai dikikis, karena Indonesia dianggap belum siap menuju ke sana. Pada era ini, pers harus mengurus izin-izin untuk ini dan itu, dan pelaku media harus menerima sistem pers terpimpin.

Aristides Katoppo Senior Journalist in Indonesien (DW/H. Pasuhuk)

"Jurnalis juga harus punya nyali mengungkapkan sebuah kebenaran.."

"Kemudian demokrasi terpimpin digantikan oleh apa yang disebut Orde Baru, atau Orde Suharto, yang lebih ketat lagi, karena dipimpin oleh militer, di mana dibaliknya ada nilai-nilai militerisme. Itu suatu tantangan berat bagi pers. Pada masa pemerintahan Suharto juga banyak koran-koran yang diberedel, termasuk koran kami Sinar Harapan," lanjut Tides.

"Tapi menurut saya, dan ini hal penting yang sering kita lupakan, pers Indonesia sejak awalnya sudah memiliki rasa kebangsaan yang tinggi. Juga melalui berbagai era perubahan politik dan teknologi."

Wartawan harus berani ungkapkan kebenaran

Di era teknologi baru sekarang ini, segala sesuatu memang berubah, termasuk hubungan antara produsen dan konsumen berita. Semua batas-batas menjadi samar. Di lain pihak, teknologi memungkinkan komunikasi yang sangat cepat. Sehingga segala hal yang dulu kelihatan pasti, kini menjadi tidak tentu. Karena pers secara tradisional dimulai dari media cetak, maka ada juga yang lalu mengatakan, ini adalah era "the death of the newspaper".

Aristides Katoppo Senior Journalist in Indonesien (DW/H. Pasuhuk)

"Saya percaya pers Indonesia punya rasa kebangsaan yang tinggi.."

"Sebenarnya yang lebih berbahaya, bukan "the death of the newspaper", melainkan "the death of journalism," kata Tides. Jurnalisme itu ada prinsip-prinsipmya, seperti menyatakan fakta, berimbang, check and recheck. Selain itu, ada nilai-nilai dibaliknya, yang disepakati bersama di kalangan pers. Misalnya tidak boleh berbohong, tidak boleh menurunkan berita yang tidak jelas sumbernya, atau tidak diverifikasi atau dikonfirmasi," kata tokoh yang masih menyebut dirinya sebagai seorang "praktisi pers" ini.

Lalu apa pandangannya tentang perkembangan media di tengah riuh rendahnya persaingan politik belakangan ini? Tides mengungkapkan 4 N yang perlu dimiliki seorang jurnalis: Nalar, Naluri, Nurani dan Nyali untuk mengungkapkan sebuah kebenaran.

Lebih jauh dengan Aristides Katoppo, lihat video di bawah ini.

Tonton video 04:00
Live
04:00 menit

Aristides Katoppo Tentang Pers dan Jurnalisme di Indonesia

(hp/ts)

 

 

Audio dan Video Terkait