Arab Saudi: ′Serangan Sabotase′ Rusak Kapal Tanker Minyak | DUNIA: Informasi terkini dari berbagai penjuru dunia | DW | 13.05.2019
  1. Inhalt
  2. Navigation
  3. Weitere Inhalte
  4. Metanavigation
  5. Suche
  6. Choose from 30 Languages
Iklan

Timur Tengah

Arab Saudi: 'Serangan Sabotase' Rusak Kapal Tanker Minyak

Dua kapal tanker minyak mengalami "kerusakan signifikan" dalam insiden di lepas pantai Uni Emirat Arab, demikian menurut menteri energi Saudi. Para pejabat tidak mengatakan siapa yang berada di balik 'sabotase' tersebut.

Arab Saudi mengatakan bahwa dua kapal tanker minyaknya menjadi sasaran dalam "serangan sabotase" di lepas pantai Uni Emirat Arab (UEA).

Peryataan tersebut keluar di tengah meningkatnya ketegangan di kawasan antara Amerika Serikat dan Iran, meskipun tidak ada rincian yang dirilis tentang bentuk sabotase atau siapa yang mungkin bertanggung jawab.

Apa yang terjadi?

Menteri Energi Arab Saudi Khalid al-Falih mengatakan dua dari kapal tanker minyaknya menjadi target "serangan sabotase" di lepas pantai Fujairah. Dia mengatakan bahwa satu kapal tanker sedang dalam perjalanan ke kerajaan untuk dimuat dengan minyak mentah untuk dikirim ke AS. Tidak ada korban jiwa dan tidak ada minyak yang tumpah, tetapi insiden itu menyebabkan "kerusakan signifikan" pada kedua kapal.

Pejabat UEA sebelumnya mengatakan bahwa serangan yang diduga adalah aksi sabotase menargetkan empat kapal.

Iran meminta klarifikasi

Kementerian Luar Negeri Iran menyuarakan keprihatinan atas dugaan serangan terhadap kapal dan mengatakan bahwa lebih banyak informasi harus tersedia tentang apa yang sebenarnya terjadi.

Juru bicara kemenlu Iran, Abbas Mousavi juga memperingatkan terhadap "konspirasi yang didalangi oleh para simpatisan" atau segala upaya untuk merusak keamanan dan stabilitas di wilayah tersebut.

Sekretaris Jenderal Dewan Kerjasama Teluk menyebut insiden itu sebagai "eskalasi serius."

"Tindakan tidak bertanggung jawab seperti itu akan meningkatkan ketegangan dan konflik di wilayah itu dan membuat rakyatnya menghadapi bahaya besar," kata Abdullatif bin Rashid al-Zayani.

Ketegangan di wilayah

AS sebelumnya memperingatkan kapal-kapal di kawasan itu bahwa "Iran atau proksinya" dapat menargetkan lalu lintas maritim. Pekan lalu, AS mengumumkan bahwa mereka mengirim armada kapal induk dan pasukan pengebom ke Timur Tengah untuk mengirim pesan yang "jelas dan tidak salah" ke Iran.

Iran kemudian mengumumkan akan membatalkan sebagian komitmennya pada Perjanjian Nuklir 2015, yang telah dikecam sejak Presiden AS Donald Trump menarik diri dari perjanjian itu setahun yang lalu. AS juga telah meningkatkan sanksi terhadap Iran dan menuding Korps Garda Revolusi Iran sebagai kelompok teroris.

vlz/hp (ap, afp, rtr)

Laporan Pilihan