App Feminis Buatan Indonesia Bidik Film Seksis dan Bias Gender | INDONESIA: Laporan topik-topik yang menjadi berita utama | DW | 22.02.2019
  1. Inhalt
  2. Navigation
  3. Weitere Inhalte
  4. Metanavigation
  5. Suche
  6. Choose from 30 Languages
Iklan

Hak Perempuan

App Feminis Buatan Indonesia Bidik Film Seksis dan Bias Gender

Sebuah aplikasi ponsel memungkinkan penonton menilai film berdasarkan kadar seksisme terhadap perempuan. Melalui app tersebut, industri film diharapkan bisa lebih peka terhadap problematika perempuan di Indonesia.

Sebuah aplikasi ponsel bernama Mango Meter yang diluncurkan di Jakarta membuka kesempatan bagi penonton buat melaporkan konten bermuatan seksisme di dalam film. Pendiri app menyebut produk mereka sebagai "aplikasi penilaian film bagi feminis yang pertama" di tanah air.

Didukung oleh yayasan Friedrich-Ebert asal Jerman, Mango Meter adalah karya enam orang perempuan yang ingin menggugat penyajian karakter atau cerita perempuan yang "problematis" di duni sinema Indonesia.

Baca juga: Bagaimana Skor Indonesia di Indeks Kesetaraan Gender 2018?

"Film adalah media yang sangat berpengaruh, tapi sifatnya problematis jika menyangkut prasangka terhadap perempuan," kata Devi Asmarani, salah seorang pendiri Mango Meter kepada Reuters. "Jadi kami mengembangkan aplikasi penilaian film seperti Rotten Tomatoes, tapi lewat kacamata seorang feminis. Jadi kita bisa memicu diskursus yang lebih besar tentang seksisme dan misogini di dalam film."

Melalui aplikasi ini, penonton bisa memberikan penilaian terhadap film-film Hollywood, India, Cina, Bangladesh dan film dari sejumlah negara lain dengan menjawab pertanyaan seputar keterwakilan perempuan, seksualitas dan interseksionalitas.

Berdasarkan hasil penilaian penonton, Mango Meter memberikan peringkat antara satu hingga lima gambar mangga, bergantung pada seberapa seksis atau feminis film tersebut.

Tonton video 03:06

Algoritma Internet Bias Gender dan Seksisme

"Kami melihat apakah film tersebut menggunakan pemahaman kecantikan ala barat, membahas kelompok yang termarjinalkan atau apakah film itu ikut membahas konflik antar kelas sosial," kata Asmarani, salah seorang penggagas yang juga pemimpin redaksi sebuah majalah perempuan di Indonesia.

Saat ini dunia sinema Indonesia dinilai masih menganaktirikan perempuan. Hanya segelintir sutradara atau penulis naskah yang berjenis kelamin perempuan. Kondisi ini bertambah runyam dengan adanya prasangka yang membatu tentang perempuan "yang cendrung problematis," kata Asmarani lagi.

Baca juga: Mendukung RUU PKS: Kesetaraan, Perlindungan Korban dan Cita-cita Keadilan Gender

"Narasi yang menempatkan perilaku agresif seperti membuntuti atau penggunaan kekerasan sebagai sesuatu yang diterima (masyarakat) memiliki konsekuensi nyata," imbuh dia lagi.

Saat ini cuma beberapa negara di Asia yang melarang pria membuntuti perempuan. Di India misalnya sejumlah kelompok perempuan menuding industri film Bollywood mengagungkan tindak kejahatan yang berujung pada kekerasan. Perempuan di negara berpopulasi terbesar kedua di dunia itu juga telah mengawali gerakan untuk mengidentifikasi ujaran seksis pada lagu.

Mango Meter bisa membantu memperluas perdebatan tentang perempuan, klaim Asmarani. "Dengan cara itu, mungkin kita bisa menggerakkan industri film agar mau mendengar kekhawatiran ini dan melakukan sesuatu terhadapnya," kata dia.

rzn/ap (rtr)

Laporan Pilihan

Audio dan Video Terkait