Aparat Masih Periksa Status Manusia Perahu di Sabang | Fokus | DW | 25.04.2006
  1. Inhalt
  2. Navigation
  3. Weitere Inhalte
  4. Metanavigation
  5. Suche
  6. Choose from 30 Languages

Fokus

Aparat Masih Periksa Status Manusia Perahu di Sabang

Para pengungsi dari Burma atau Myanmar yang terdampar di pulau Rondo, Sabang, masih ditampung di kompleks Pangkalan Angkatan Laut, Lanal Sabang.

Manusia Perahu Vietnam

Manusia Perahu Vietnam

Komandan Lanal Sabang, Kolonel Laut Aswoto Saranang menyebut, dari 77 warga Burma itu 15 orang mendapat perawatan kesehatan khusus karena sakit. Para manusia perahu itu berlayar dalam kapal yang sangat sempit, dengan tujuan Malaysia, namun terdampar di pulau Rondo yang tak berpenghuni itu.

Aswoto Sanarang mengatakan, Angkatan Laut siap untuk mengawal kapal itu berlayar ke tujuan mereka sebenarnya, Malaysia, atau memulangkannya ke Burma. Namun apapun langkah yang akan diambil, sangat tergantung dari keputusan pemerintah pusat. Terutama menyangkut status mereka.

Pemerintah sendiri sejauh ini masih terus mewawancarai manusia-manusia perahu itu. Sesudah itu, dikatakan Septiawan dari Kantor Imigrasi Aceh, pemerintah akan melakukan pengecekan lebih jauh, untuk memperoleh kejelasan apakah benar mereka adalah pencari suaka yang dikejar-kejar dan keselamatan hidup mereka terancam di negeri asalnya. Baru jika diperoleh bukti-bukti bahwa mereka benar-benar pengungsi yang sah, pemerintah Indonesia bisa menyerahkan mereka kepada Badan PBB untuk urusan pengungsi, UNHCR.

Robert Ashe, Kepala Perwakilan UNHCR di Jakarta menyatakan, hingga sekarang badan PBB itu belum bisa berbuat banyak.

Robert Ashe:

"Sekarang kami baru mengumpulkan keterangan. Kami telah diberitahu tentang kedatangan mereka oleh pemerintah Indonesia, dan nanti akan mendapat informasi yang lebih detil. Tapi sejauh ini kami masih belum memperoleh informasi lebih rinci".

Dalam pengakuan sementara kepada aparat, para manusia perahu itu adalah warga suku minoritas Rohinga yang mengaku ditekan pemerintah militer yang berkuasa secara otoriter di Burma. Karenanya mereka bermaksud meminta suaka politik ke Malaysia, karena sepertiga dari manusia perahu itu memiliki keluarga di Malaysia.

Namun Robert Ashe, menandaskan, UNHCR Jakarta tidak bisa langsung mengambil tindakan begitu saja.

Robert Ashe:

"Kami masih menunggu apa yang akan dikatakan pemerintah Indonesia. Dan jika mereka benar bermaksud mencari suaka, kami akan mewawancarai mereka."

Menurut salah seorang pengungsi, mereka mulai berlayar meninggalkan Burma pada tanggal 15 April. Namun angin dan ambak besar mendamparkan kapal mereka ke Pulau Rondo yang tak berpenghuni.

Di masa lalu, ribuan orang juga berusaha mengungsi dari Vietnam dan Kamboja dengan perahu-perahu kecil, melarikan diri dari penguasa lalim di negeri masing-masing. Sesudah itu, sejumlah orang juga mengungsi dari Afghanistan dan Irak dengan tujuan Australia melalui jalur laut. Sebagian dari rombongan manusia perahu itu dihadang gelombang besar dan cuaca buruk, lalu terdampar di Indonesia. Hal ini sering memunculkan masalah, karena tidak selalu negara tujuan itu bersedia memberikan suaka, dengan berbagai alasan. Sementara Indonesia tidak bisa memulangkan para pengungsi itu ke negeri asal mereka.