COVID: Akankah Wajib Vaksin Jadi “Pukulan” Bagi Tenaga Medis Jerman? | DUNIA: Informasi terkini dari berbagai penjuru dunia | DW | 17.01.2022

Kunjungi situs baru DW

Silakan kunjungi versi beta situs DW. Feedback Anda akan membantu kami untuk terus memperbaiki situs DW versi baru ini.

  1. Inhalt
  2. Navigation
  3. Weitere Inhalte
  4. Metanavigation
  5. Suche
  6. Choose from 30 Languages
Iklan

Wabah Corona

COVID: Akankah Wajib Vaksin Jadi “Pukulan” Bagi Tenaga Medis Jerman?

Dokter gigi di negara bagian Sachsen, Jerman, khawatir banyak klinik akan tutup ketika vaksinasi COVID-19 menjadi wajib bagi para tenaga kesehatan pada pertengahan Maret. Mengapa demikian?

Saxony

Banyak dokter gigi di Saxony, Jerman, skeptis terhadap mandat vaksin

Asosiasi Dokter Gigi di Sachsen mengirim surat kepada Perdana Menteri Michael Kretschmer pada tanggal 5 Januari dan menulis bahwa mereka sangat prihatin dengan apa yang akan terjadi jika, seperti yang direncanakan, vaksinasi terhadap virus corona menjadi wajib (mandat vaksin) bagi para profesional perawatan kesehatan di seluruh Jerman.

Aturan mandat vaksin yang akan dimulai pada pertengahan Maret, telah disahkan oleh parlemen Jerman (Bundestag) sebelum Natal.

Para penandatangan surat itu mengutip survei terhadap sekitar 2.600 praktik dokter gigi di Sachsen. Sekitar 490 dokter gigi memberikan tanggapan, dan sekitar 25% di antaranya belum divaksinasi; di antara staf operasi mereka, angkanya mencapai 40%.

Asosiasi dokter gigi Sachsen percaya bahwa vaksinasi wajib akan memiliki dampak negatif yang cukup besar pada perawatan medis di negara bagian. "Menurut umpan balik yang kami dapatkan dari para profesional di bidang ini, membuat vaksinasi wajib umumnya tidak akan membuat mereka semua divaksinasi segera, melainkan mendorong mereka yang skeptis terhadap vaksin untuk meninggalkan profesi medis dan akan mengarah pada penutupan praktik,” tulis surat itu. 

Mendorong dokter gigi memasuki masa pensiun

Asosiasi tersebut berpendapat bahwa praktik kedokteran gigi di negara bagian Jerman timur yang berpenduduk sekitar 4 juta jiwa sudah terbebani oleh persyaratan administrasi baru. Di banyak daerah, dokter gigi setidaknya berusia 60 tahun dan mengatakan bahwa mereka hampir tidak dapat mengatasinya lagi.

"Jika peningkatan migrasi staf sekarang diharapkan atau pemilik praktik itu sendiri memiliki sikap negatif terhadap mandat vaksin, ada bahaya praktik ini akan ditutup," asosiasi tersebut memperingatkan.

Paula Piechotta, seorang anggota parlemen Partai Hijau di Bundestag dan dokter yang berbasis di Leipzig menegaskan dalam sebuah wawancara dengan DW, bahwa praktik kedokteran gigi di Sachsen sudah ketinggalan zaman, sering kekurangan sumber daya, dan kewalahan.

Meski demikian, dia yakin hasil survei asosiasi gigi itu tidak boleh dilebih-lebihkan. Hanya seperlima dari 2.600 praktik dokter gigi negara bagian yang merespons, katanya. Dan itu bukanlah dasar yang sah untuk membuat kesimpulan tentang kesiapan vaksinasi di seluruh layanan kesehatan di Sachsen. Dari pengalamannya di rumah sakit di kota-kota besar Sachsen, yaitu Leipzig dan Dresden, penggunaan vaksin di antara staf medis sangat tinggi.

"Para dokter gigi hanya frustrasi dengan situasi perawatan rawat jalan pada umumnya," Piechotta menyimpulkan. Tetapi COVID-19 memang memperburuk situasi yang sudah tegang, katanya.

Orang yang skeptis terhadap vaksin di Sachsen

Tingkat vaksinasi di Saxony lebih rendah daripada di 16 negara bagian Jerman lainnya. Menurut otoritas kesehatan masyarakat Jerman, Institut Robert Koch, hanya sekitar 61,7% dari populasi Sachsen yang divaksinasi lengkap dibandingkan dengan rata-rata nasional 72,5%.

Saxony juga berulang kali menjadi berita utama, ketika mereka yang skeptis terhadap vaksinasi turun ke jalan, menentang pembatasan COVID-19 dan mencela politisi yang mempromosikannya.

Selama gelombang pandemi sebelumnya, Sachsen melaporkan jumlah infeksi baru tertinggi di seluruh Jerman, meski sekarang telah berubah. Penyebaran varian omicron telah melihat peningkatan jumlah infeksi di utara negara itu dan wilayah di dalam dan sekitar Ibukota Jerman, Berlin.

Tetapi ahli epidemiologi memperingatkan bahwa jumlah infeksi yang saat ini lebih rendah di beberapa negara bagian lain mungkin disebabkan oleh tingkat pengujian yang lebih rendah, serta keterlambatan dalam melaporkan angka ke otoritas pusat. Di Sachsen, lebih sedikit tes yang dilakukan daripada di tempat lain di negara ini.

Kenapa beberapa tenaga kesehatan menolak mandat vaksin wajib?

Wolfgang Kreischer, ketua asosiasi dokter umum di Berlin dan Brandenburg, melaporkan dari pengalaman pribadi. Dalam sebuah wawancara dengan DW, Kreischer mengatakan: "Saya tahu banyak klinik di mana semua orang yang bekerja di sana telah divaksinasi; Saya juga mengenal beberapa praktisi yang menentang vaksinasi dan tidak memvaksinasi diri mereka sendiri. Dengan mereka, pasti ada sedikit fatalisme yang terlibat."

Perawat, dokter, dan staf telah bekerja semaksimal mungkin selama pandemi, "tapi semua yang mereka dengar dari politisi hanyalah janji”, kata Kreischer. Ini meningkatkan sikap untuk menolak mendengarkan politisi, tambahnya.

Dia juga mengutip rasa frustrasi mantan Menteri Kesehatan Jerman Jens Spahn dari Partai CDU: "Ada banyak yang mengabaikan perawatan. Bagaimanapun, Spahn berjanji pada saat itu untuk menambah lebih dari 8.000 pekerja perawatan kesehatan. Hal sebaliknya terjadi."

Kreischer mengatakan argumen penting hilang dari perdebatan saat ini tentang mandat vaksin umum: Sudah terlambat untuk membuat perbedaan, karena varian omicron terbukti sangat menular, katanya.

"Tidak membuat perbedaan berarti terhadap penyebaran virus apakah semua orang divaksinasi atau tidak. Anda dapat melindungi diri dengan vaksinasi agar tidak jatuh sakit parah dengan COVID-19. Tetapi melindungi orang lain dengan divaksinasi hampir tidak mungkin lagi karena bahkan orang yang divaksinasi dapat menularkan varian virus.”

pkp/hp

Laporan Pilihan