Apakah Jerman Bisa Menarik Investor Baru Setelah Pandemi Corona Terkendali? | NRS-Import | DW | 07.05.2020
  1. Inhalt
  2. Navigation
  3. Weitere Inhalte
  4. Metanavigation
  5. Suche
  6. Choose from 30 Languages
Iklan

Ekonomi

Apakah Jerman Bisa Menarik Investor Baru Setelah Pandemi Corona Terkendali?

Jerman dan beberapa negara lain dipuji atas penanganan pandemi yang dinilai baik. Apakah respons mereka bisa menarik para investor, juga dalam pandemi lain di masa depan?

"Pandemi ini adalah peringatan bagi seluruh dunia, bagi pemerintahan dan bagi para investor," kata Hans Joachim Georg Karl dari lembaga perdagangan dan pembangunan PBB, UNCTAD, kepada DW.

Cara Jerman menangani wabah corona mendapat pujian dari banyak pihak. Beberapa negara lain juga dianggap berhasil mengendalikan pandemi corona, di Asia antara lain Korea Selatan dan Taiwan.

"Beberapa negara seperti Korea Selatan dan Jerman, yang memiliki perencanaan peredaman dan birokrasinya dapat menerapkan langkah-langkah dengan sangat cepat. Ini semacam jaminan kepada investor, bahwa dalam krisis di masa depan negara-negara ini dapat bertindak secara efisien dan cepat," ujarnya..

Dia menambahkan, investor juga cenderung memperhatikan tingkat kepercayaan publik dan kredibilitas penanganan pandemi yang efisien. Karena jika publik meragukan kemampuan pemerintah, sulit mengembalikan kegiatan ekonomi ke tingkat normal.

Foto tenaga kesehatan dengan pakaian pelindung di rumah sakit

Jerman dinilai sebagai salah satu negara yang cukup berhasil mengendalikan wabah corona

Kesiapan menghadapi pandemi

Investor umumnya dulu hanya akan memperhatikan kemungkinan menghemat anggaran, dan jarang melihat sistem perawatan kesehatan di suatu negara, termasuk kemampuannya menangani epidemi. Meskipun sebelum Covid-19 sudah ada wabah corona berbahaya seperti SARS pada tahun 2003.

Menurut Survei Global Investment Competitiveness (GIC) Bank Dunia dari tahun 2017, yang paling disorot para investor dalam mengambil keputusan investasi adalah stabilitas politik dan keamanan di suatu negara serta lingkungan hukum dan regulasinya. Setelah itu soal infrastruktur, kapasitas dan keterampilan tenaga kerja, dan biaya tenaga kerja yang rendah.

"Pandemi ini adalah pengalaman global yang mengguncang, jadi saya kira kesiapan menghadapi pandemi di masa depan juga akan menjadi salah satu faktor yang dipertimbangkan dalam keputusan investasi," kata Sara Johnson, Direktur Eksekutif bidang perekonomian global di IHS Markit kepada kepada DW.

"Pengalaman ini pasti akan membekas di benak siapa pun yang mengalaminya. Pandemi Ini jauh lebih merusak daripada yang pernah dibayangkan dalam beberapa dekade terakhir," tambahnya.

"Ketika perusahaan mencari lokasi baru untuk berinvestasi, mereka mungkin akan melihat terutama ke negara-negara, di mana sudah ada sistem kesehatan yang kuat, banyak penelitian yang dilakukan, dan ada universitas yang bagus," kata Hans Joachim Georg Karl.

Saling menunggu

Kekokohan sistem perawatan kesehatan memang bisa memainkan peran menentukan, ketika investor mencari peluang baru untuk berinvestasi. Namun kebanyakan investor tidak akan buru-buru melakukan investasi saat ini, dan masih akan menunggu perkembangan pandemi selanjutnya.

Apalagi pemerintahan dan banyak perusahaan akan berada dalam tekanan keuangan dan beban utang yang besar. Ini akan membatasi kapasitas mereka melakukan investasi. UNCTAD memperkirakan, investasi asing langsung secara global akan turun 30-40% tahun ini.

"Ini adalah lingkungan yang sangat sulit untuk semua jenis investasi asing. Dunia berada dalam periode output ekonomi yang sangat berkurang, sehingga investasi masa lalu sudah lebih dari cukup untuk menghasilkan apa yang dibutuhkan saat ini. Jadi dalam waktu dekat, perusahaan justru akan mengurangi investasi," kata Sara Johnson dari IHS Markit. (hp/vlz)