Dolar, Euro, Yuan: Mana yang Jadi Mata Uang Global Berikutnya? | DUNIA: Informasi terkini dari berbagai penjuru dunia | DW | 15.03.2021
  1. Inhalt
  2. Navigation
  3. Weitere Inhalte
  4. Metanavigation
  5. Suche
  6. Choose from 30 Languages
Iklan

Ekonomi

Dolar, Euro, Yuan: Mana yang Jadi Mata Uang Global Berikutnya?

Hingga kini dolar masih jadi mata uang utama di dunia. Namun sejak Kepresidenan Donald Trump, timbul keraguan apakah masih akan bertahan dalam waktu lama. Mata uang apa yang berpotensi lebih unggul?

Ilustrasi mata uang yuan dan dolar

Ilustrasi mata uang yuan dan dolar

Agar bisa memenuhi syarat sebagai cadangan global, sebuah mata uang harus memenuhi berbagai kriteria, ujar Gertrud Traud, Kepala Ekonom di Bank Landesbank Hessen-Thüringe (Helaba). Di antaranya, mata uang itu harus diterima secara internasional sebagai alat pembayaran, nilainya stabil, dan berlaku sebagai unit hitung atau mata uang jangkar dengan nilai tukar tetap terhadap mata uang lain.

"Kebanyakan dari mereka melihat cadangan devisa," ujar Traud, menjelaskan cadangan mata uang asing yang ditimbun oleh bank sentral sebuah negara untuk dapat melakukan intervensi di pasar valuta asing (misalnya untuk membeli mata uang lokal mereka dan mendukung nilainya).

Dalam hal ini, mata uang Amerika Serikat (AS) terbilang mendominasi, dengan 60% cadangan devisa di seluruh dunia disimpan dalam bentuk dolar AS. Sekitar 20% lainnya disimpan dalam mata uang euro. Selebihnya ada yang disimpan dalam mata uang poundsterling, yen, dan yuan. Cadangan devisa yang disimpan dalam yuan besarannya mencapai sekitar 2%.

Valuta asing selalu berarti dolar?

Selama masa jabatannya sebagai Presiden AS, Donald Trump sering mengeluh bahwa defisit anggaran AS saat ini tidaklah adil. Tetapi ini adalah konsekuensi yang tidak bisa dihindari mengingat tingginya kebijakan belanja pemerintah dan diiringi dengan keringanan pajak secara simultan, menurut Galina Kolev dari Institut Ekonomi Jerman.

Utang nasional negara itu naik 3,2 triliun dolar antara kuartal keempat 2016 dan kuartal keempat 2019. Defisit tersebut juga dibiayai oleh investor asing yang selama ini membeli obligasi pemerintah AS. 

Ilustrasi mata uang dolar AS

Sekitar 60% cadangan devisa negara-negara di dunia saat ini disimpan dalam mata uang dolar AS.

Antara kekuasaan dan kepercayaan

Fakta bahwa dolar mampu mengambil posisi dominan ini disebabkan oleh situasi setelah Perang Dunia Kedua berakhir. Hingga saat itu, mata uang pound Inggris masih menjadi mata uang dunia. Namun, ekonomi di Eropa saat itu sangatlah lemah akibat perang. Pada konferensi di Bretton Woods, AS, para pengambil kebijakan kemudian menetapkan kerangka nilai tukar tetap untuk dolar AS yang akan bertahan selama tiga puluh tahun.

Sejak saat itu sebenarnya tidak ada mata uang cadangan resmi, tetapi dolar terus mendominasi. "Terlepas dari semua pergolakan yang kita alami, dolar adalah nomor satu di dunia dengan stabilitas tinggi," jelas Michael Heise, mantan kepala ekonom di Allianz yang kini menjadi manajer perusahaan pengelola aset di Jerman, HQ Trust. Investasi dalam obligasi pemerintah AS sering dianggap tidak aman, itulah sebabnya banyak investor menginvestasikan uang mereka dalam dolar AS.

Menakar kekuatan mata uang regional euro

"Di dalam Uni Eropa hanya ada beberapa bentuk investasi yang aman seperti obligasi pemerintah.” kata Tobias Heidland, ekonom di Kiel Institute for the World Economy. Namun meurutnya, obligasi pemerintah Jerman atau Belanda tidak dapat sepenuhnya memenuhi permintaan untuk investasi euro yang aman. Harmonisasi di kawasan euro juga dinilai belum berkembang cukup jauh. Namun, hal ini secara bertahap dapat berubah dengan diperkenalkannya obligasi euro yang seragam sebagai bagian dari Dana Rekonstruksi Corona. 

Namun sejauh ini, euro hanya memiliki kepentingan regional. Selain itu, mata uang beberapa negara di barat Afrika juga terkait dengan Eropa karena latar belakang sejarah. Negara-negara ini mematok mata uang mereka ke mata uang umum Eropa melalui bank sentral Prancis.

Bagaimana dengan Cina?

Cina tengah bergelut dengan AS untuk menguasai dunia. Menurut perkiraan terbaru, Republik Rakyat Cina akan menggantikan AS sebagai ekonomi terbesar dunia di awal tahun 2028. Namun demikian, banyak pakar dari negara barat meragukan apakah mata uang nasional yuan (juga renminbi) akan memainkan peran yang lebih penting dalam beberapa tahun mendatang atau bahkan sampai menjadi mata uang cadangan.

Pasar mata uang semakin rigid, kata Adalbert Winkler, profesor di Sekolah Keuangan & Manajemen Frankfurt, dan ini tidak akan berubah dalam waktu dekat. Untuk memenangkan tempat di kancah internasional, yuan pertama-tama dan terutama harus dapat diperdagangkan dengan bebas. Tapi hingga kini masih ada yuan domestik dan yuan yang digunakan dalam perdagangan internasional. Pemerintah Cina tidak ingin kehilangan kendali atas mata uangnya dan itu akan menjadi masalah jika mereka merilis nilai tukar.

Jadi, dolar AS kemungkinan akan tetap menjadi mata uang utama dunia di masa mendatang, meski sebagian besar pakar devisa berasumsi dolar akan melemah mengingat tingginya utang AS - yang kini kembali meningkat akibat paket stimulus pemerintahan Biden.

Tetapi selama tidak ada keraguan tentang solvabilitas atau kemampuan bayar pemerintah AS, kedigdayaan si Greenback ini kemungkinan masih akan terus berlanjut. (ae/vlz)

Laporan Pilihan