Stereotip Jerman-Indonesia, Pengalaman Saya Berkunjung ke Indonesia | BLOG: Eropa menurut warga Indonesia dan Indonesia di mata warga Eropa | DW | 02.10.2020
  1. Inhalt
  2. Navigation
  3. Weitere Inhalte
  4. Metanavigation
  5. Suche
  6. Choose from 30 Languages
Iklan

Blog

Stereotip Jerman-Indonesia, Pengalaman Saya Berkunjung ke Indonesia

Saya sendiri selalu telat. Di Jerman, saya membiarkan teman-teman saya menunggu lama. Jadi gambaran bahwa orang Jerman itu tepat waktu, tidak selalu benar. Oleh Bettina Otto.

Bettina Otto bersama teman-teman di Indonesia

Bettina Otto bersama teman-teman di Indonesia

Berpindah tempat tinggal membuka mata untuk banyak hal yang mungkin sebelumnya hanya diketahui secara tidak sadar. Saya mengalami itu secara langsung waktu saya tinggal di Indonesia selama dua semester dalam program pertukaran pelajar. Salah satu hal yang membuka mata saya pada waktu itu adalah pengalaman dengan berbagai stereotip: stereotip saya tentang orang Indonesia, dan tentang orang Eropa yang pergi ke Indonesia.

Bettina Otto di Indonesia | Bettina Otto

Bettina Otto di Indonesia

Selain itu tentu saja stereotip orang Indonesia tentang orang Eropa dan juga tentang orang Indonesia. Stereotip ada dimana-mana. Welcome to our world. Saya ingin mengajak kalian melihat pengalaman stereotip saya lebih dekat lagi.

1. Orang Jerman tepat waktu

Orang Jerman senang minum bir, kerja efisien, selalu tepat waktu. Saya sendiri tidak suka rasa bir sama sekali . Mungkin saya suka kerja efisien - tapi jangan bertanya saya tentang kemajuan skripsi saya!

Bagaimana dengan stereotip selalu tepat waktu? Kalau saya bertemu dengan teman-teman di Yogya, saya harus belajar dulu bahwa kalau itu pertemuan santai, orang-orang paling awal datang setengah jam setelah janjian. Untuk saya sendiri: itu bagus banget! Saya sendiri uga selalu telat. Di Jerman, saya membiarkan teman-teman saya menunggu lama. Karena itu saya memulai proyek "tepat waktu”: saya tidak boleh telat kalau bertemu dengan teman-teman. Tapi sampai sekarang saya gagal. Stereotip 1: tidak selalu benar. Setidaknya saya adalah pengecualian.

2. Pendidikan di Indonesia mutunya lebih rendah dibandingkan Jerman

Saya sempat kuliah di Universitas Gadjah Mada dalam lingkungan teman-teman internasional dan lingkungan teman-teman dari Indonesia. Jurusan Hubungan Internasional memang diikuti oleh banyak mahasiswa dari berbagai negara Eropa, Australia dan Indonesia. Bagus untuk belajar bahasa Inggris! Pada bulan-bulan pertama saya merasa, sepertijuga  banyak teman dari luar Indonesia, bahwa saya belajar kurang banyak dibandingkan saat kuliah di Jerman.

Tetapi semakin lama saya merasa itu tidak benar. Cara belajar pasti berbeda. Dosen di Jerman ingin menyampaikan hal berbeda dari dosen di Indonesia, karena sejarah suatu negara dan lingkungan aktual di negara-negara memang berbeda. Jadi kenapa saya mengharapkan bahwa pendidikan di Indonesia sama dengan di Jerman? Kenapa saya menilai perbedaan itu sebagai kesimpulan bahwa pendidikan di Jerman lebih baik? Itu bodoh.

Stereotip ini muncul dalam banyak konteks di dunia. Pengetahuan dari Jerman atau "dunia barat” dianggap lebih berharga daripada di negara-negara lain. Dengan sedih saya juga mengalami bahwa teman-teman Indonesia menilai pendidikan dan pengetahuan mereka atau warga-negara Indonesia lain memang rendah. Dengan sedih juga saya sering mengalami orang-orang sombong merendahkan orang lain, walaupun seharusnya mereka yang perlu membuka matanya dan mulai belajar. Stereotip 2: tidak benar. Tapi memang ada di mana-mana.

Papan pengumuman di Indonesia | Über Deutsch-Stereotypen in Indonesien | Hinweisschild

Banyak orang Indonesia juga menjaga lingkungan

3. Orang Jerman menjaga lingkungan

Untuk saya sendiri, hidup ramah lingkungan penting banget dan membuat saya mengubah banyak hal dalam tingkah laku saya. Di Yogyakarta, saya naik sepeda ke mana-mana (saya bisa hampir secepat motor, dan biasanya lebih cepat dari mobil) dan saya berusaha membeli barang-barang tanpa plastik. Tapi kenyataan juga, saya naik pesawat dari Jerman ke Indonesia pulang-pergi. Berarti saya juga gagal.

Ada banyak teman di Jerman yang juga berusaha menjaga lingkungan. Waktu saya di Indonesia misalnya, gerakan Fridays for Future menjadi besar dan mempengaruhi kebijakan pemerintah. Ya, sedikit. Tapi ada juga banyak teman di Indonesia yang berusaha menjaga lingkungan! Khususnya soal penggunaan plastik, saya mengalami bahwa ada perhatian lebih besar di Indonesia. Stereotip 3: Benar. Tapi hanya setengah dari kenyataan. Orang Indonesia menjaga lingkungan juga.

4. Selfie dengan orang bule

"Mba, selfie dulu ya mba!”

"Pake bahasa Inggris, dia bule.”

"Miss, selfie please..”

Saya mendengar percakapan seperti itu mungkin ribuan kali. Biasanya saya menjawab dalam bahasa Indonesia dan mengajak mereka ngobrol. Kalau saya sudah kenal mereka, tidak apa-apa ambil selfie. Yang aneh, ada orang-orang yang malu ngobrol dengan saya. Sampai sekarang saya tidak begitu tahu, kenapa.

Untuk mengatasi situasi seperti itu saya butuh hampir setengah tahun. Sebelumnya saya bingung saja. Kalau ambil foto dengan orang yang saya belum kenal, saya merasa seperti menjadi obyek berkulit putih. Kalau menolak, saya merasa sombong dan merendahkan orang yang mengajak.

Saya dianggap lebih baik hanya berdasarkan rupa tubuh saya. Dalam situasi lain, mungkin ini disebut rasisme. Tapi dalam konteks ini, kata itu tidak pas. Rasisme itu terkait dengan latar belakang kolonial. Latar belakang itu mengatakan bahwa seseorang dengan rupa tubuh yang serupa dengan Eropa dijadikan obyek lebih rendah dibandingkan dengan seseorang yang kita anggap berasal dari Eropa atau dari "dunia barat”.

Dalam kasus saya, hal ini terbalik. Saya juga merasa dijadikan obyek, tapi tidak dengan niat buruk. Saya misalnya dianggap cantik berdasarkan warna kulit saya, dan saya dipanggil "bule” tapi tidak dengan maksud buruk. Namun, tingkah laku dan sebutan  ini membuat saya merasa tubuh saya tidak lagi berisikan manusia yang punya jiwa, tapi berisikan stereotip warna kulit. Stereotip 4: Benar. Semoga suatu hari kita akan menemukan cara pandang bahwa tak seorangpun layak dijadikan obyek apa pun berdasarkan rupa tubuhnya.

Saya yakin, empat stereotip itu dalam beberapa situasi mungkin dibuktikan benar, dan dalam beberapa kasus lain salah. Berdasarkan pengalaman saya sendiri, saya tidak berpikir kesimpulan saya benar. Saya hanya ingin minta kalian berpikir lagi tentang stereotip yang kalian punya - yang lucu maupun yang gawat - kapan dan dimana pun stereotip itu muncul. Karena sikap kita akan turut mendukung stereotip itu, atau juga tidak, dan turut menentukan apakah dunia akan menjadi lebih baik tanpa atau dengan stereotip itu. Saya berjanji, saya akan berusaha bersama-sama kalian.

*Bettina Otto, mahasiswa Jerman yang dapat kesempatan kuliah Antropologi dan Ilmu Politik di Leipzig, Halle dan Yogyakarta.

**DWNesiaBlog menerima kiriman blog tentang pengalaman unik Anda ketika berada di Jerman atau Eropa. Atau untuk orang Jerman, pengalaman unik di Indonesia. Kirimkan tulisan Anda lewat mail ke: dwnesiablog@dw.com. Sertakan 1 foto profil dan dua atau lebih foto untuk ilustrasi. Foto-foto yang dikirim adalah foto buatan sendiri. (hp)

Laporan Pilihan