1. Buka konten
  2. Buka menu utama
  3. Buka situs DW lainnya
Sosial

Antara Pasukan Elite dan Pasukan Khusus

14 November 2017

Perkembangan satuan militer seperti misalnya Korps Marinir TNI AL dan Korps Brimob Polri menarik untuk diikuti. Bagaimana isi perutnya, diulas tuntas Aris Santoso.

https://p.dw.com/p/2nT1S
Indonesien Marine Einheiten
Foto: Getty Images/AFP/S. Tumbelaka

Mengikuti perkembangan sebuah satuan militer, khususnya bagi yang berminat, memiliki daya tarik sendiri. Seperti kehidupan manusia, dengan segala jatuh-bangunnya, yang akhirnya tetap tegak, bahkan melegenda. Dua satuan yang akan dibahas dalam tulisan ini adalah Korps Marinir TNI AL dan Korps Brimob Polri.

Secara kebetulan hari kelahiran dua satuan tersebut saling berdekatan, hari jadi Korps Marinir adalah 15 November 1945, sementara Brimob adalah 14 November 1945. Satu kesamaan dari dua satuan ini adalah, meski pernah mengalami pasang-surut yang dahsyat, nama dua satuan ini tetap tersimpan rapi dalam kenangan rakyat . Seperti Brimob misalnya, pada masa yang paling "pahit” pernah hanya dipimpin perwira berpangkat Kombes (kolonel), dan bukan dalam komando tersendiri, namun di bawah Direktorat Samapta.

Penulis:  Aris Santoso
Penulis: Aris Santoso Foto: privat

Pasukan Elite dan Pasukan Khusus

Bila didefinisikan secara ringkas, sebuah satuan disebut pasukan elite apabila sudah membuktikan prestasinya dalam operasi tempur, dan diakui secara terbuka oleh masyarakat. Satuan seperti Yonif 400 Banteng Raiders (Kodam IV/Diponegoro) atau Yonif 328 Para Raiders Kostrad, bisa dijadikan contoh tentang satuan elite. Meski kini jarang lagi ada operasi militer setingkat bataliyon, kecuali pamtas (pengamanan perbatasan), namun berkat prestasi generasi terdahulu, nama dua satuan tersebut sudah terlanjur melegenda. Penjelasan ini juga berlaku bagi satuan lainnya, yang akan terlalu panjang daftarnya bila dituliskan di sini.

Kemudian soal pasukan khusus, adalah pasukan dengan tugas khusus, biasanya dilakukan secara senyap. Pasukan ini juga dibekali persenjataan dan peralatan khusus sesuai dengan karakteristik tugasnya. Satuan seperti Satgultor 81 Kopassus, Denjaka Marinir, Denbravo 90 Paskhas AU, dan seterusnya, merupakan contoh populer tentang sebuah pasukan khusus. Ciri lainnya adalah, anggotanya relatif kecil, namun memiliki kemampuan di atas rata-rata, mengingat tugas mereka umumnya juga berisiko tinggi, semisal pembebasan sandera

Marinir dan Brimob masuk kategori satuan elite, karena jejak mereka yang panjang dalam operasi tempur, sejak masa lalu hingga sekarang. Satuan Brimob misalnya, adalah yang mengawal Presiden Soekarno di masa awal kemerdekaan, ketika satuan seperti Paspampres, belum lagi didirikan. Namun sebagai satuan elite, di bawah komando mereka terdapat pula satuan khusus.

Dalam Marinir misalnya, terdapat Denjaka (Detasemen Jalamangkara) sebagai satuan antiteror. Kemudian ada lagi Yontaifib (bataliyon intai amfibi), yang memiliki kemampuan tempur amfibi. Demikian juga dengan Brimob, yang juga memiliki satuan antiteror, yang di masa lalu disebut dengan Gegana. Di bawah Brimob juga terdapat satuan yang di masa lalu sangat legendaris, yaitu Menpor (Resimen Pelopor).

Satuan Tempur dan Kekuasaan

Dari catatan sejarah kita bisa menyaksikan, bagaimana nama Marinir dan Brimob sempat mengalami pasang surut. Soal performa mungkin tidak ada yang berkurang, semata-mata hanyalah persoalan citra. Di masa Presiden Soekarno, Marinir dan Brimob sangat dengan figur Bung Karno. Begitu dekatnya Bung Karno dengan Brimob, Bung Karno pernah mengorbitkan seorang perwira Brimob berpangkat Kombes (setara kolonel) untuk menjadi Kapolri, yaitu Irjen Sutjipto Danukusumo (Kapolri 1964-1965).

Kedekatan Marinir dengan Bung Karno, saya kira sudah banyak yang tahu, dan kini terulang kembali di masa Presiden Jokowi. Ini terlihat dalam acara nobar (nonton bareng) film G30S/PKI di halaman Korem Bogor, akhir September yang lalu. Dengan alasan dadakan, pendamping Jokowi dari unsur militer semuanya berasal dari Korps Marinir.

Ini sebenarnya tindakan simbolis, sebagai cara menjaga keseimbangan dalam mengendalikan TNI. Jokowi mengulang skema yang biasa dilakukan Bung Karno dulu, bila hubungan dengan TNI AD sedang menghadapi masalah, selalu ada Korps Marinir di belakang Bung Karno.

Pasang-surut Brimob lebih tajam lagi, utamanya  di masa kepemimpinan Pangab Jenderal Benny Moerdani  (1983-1988). Bagi matra darat, era kepemimpinan Benny bisa jadi adalah kenangan manis, namun tidak bagi Korps Brimob. Seperti sudah disebut sekilas di atas, pada era Benny inilah, posisi Brimob seolah mencapai titik nadir, ketika satuan ini hanya dipimpin perwira berpangkat kombes (kolonel), dan struktur komandonya "ditumpangkan” pada Direktorat Samapta Polri, jadi bukan sebagai Korps yang berdiri sendiri.

Sementara pada waktu yang bersamaan, tokoh terkemuka Brimob (khususnya Resimen Pelopor) yaitu Jenderal Anton Sujarwo menjabat Kapolri. Terlihat ada faktor politis di sini, seolah memang ada grand design  Benny untuk mengecilkan peran Brimob. Sementara Anton Soejarwo sebagai sesepuh Brimob, tidak mampu berbuat banyak bagi Brimob yang sedang menghadapi cobaan kala itu. Bagi yang paham zaman itu, memang seolah terjadi saling sandera antara Benny dan Anton, mengingat keduanya adalah segenerasi dan sama-sama tokoh kebanggaan dari satuan asal.

Formasi Infanteri

Dalam praktik di lapangan selalu terbuka potensi konflik antara  anggota Marinir atau Brimob berhadapan dengan anggota satuan Angkatan Darat, mulai konflik kecil-kecilan, hinggga sampai tingkat bataliyon, seperti yang pernah terjadi di Binjai (Sumut), pada Oktober 2002. Bila kita telusuri lebih jauh, salah satu akar konflik adalah latar belakang karakter atau kompetensi yang mirip, yaitu sama-sama sebagai prajurit infanteri. Brimob dan Marinir pada dasarnya adalah satuan infanteri, seperti juga Paskhas, yang juga satuan infanteri, yang menginduk pada TNI AU.

Konflik antara Yonif Linud 100/PS (kini Yonif 100/Raider) dengan Brimob Polda Sumut, seperti sudah disebut sekilas di atas, bisa menjadi contoh menarik. Selain karena eskalasinya yang terbilang tinggi,  peristiwa itu masih berjejak sampai sekarang. Komandan Yonif 100 saat peristiwa terjadi adalah Mayor Madsuni (Akmil 1988A), yang  kini menjabat Danjen Kopassus.

Menilik capaian Mayjen Madsuni hari ini, kita bisa menduga-duga bagaimana pandangan pimpinan TNI atas konflik antar satuan, khususnya terhadap Brimob. Kira-kira begini jalan pikiran pimpinan TNI saat peristiwa terjadi, bila menghadapi Brimob jangan tanggung-tanggung, bila bisa mengatasi Brimob, justru  menjadi faktor pendukung bagi komandan satuan untuk dipromosikan di kemudian hari.

Penulis:

Aris Santoso, sejak lama dikenal sebagai pengamat militer, khususnya TNI AD. Kini bekerja sebagai editor buku paruh waktu.

*Setiap tulisan yang dimuat dalam #DWnesia menjadi tanggung jawab penulis