75 Tahun PBB: Pemimpin Jerman Angela Merkel Serukan Reformasi Menyeluruh | DUNIA: Informasi terkini dari berbagai penjuru dunia | DW | 22.09.2020
  1. Inhalt
  2. Navigation
  3. Weitere Inhalte
  4. Metanavigation
  5. Suche
  6. Choose from 30 Languages
Iklan

PBB 75 Tahun

75 Tahun PBB: Pemimpin Jerman Angela Merkel Serukan Reformasi Menyeluruh

Para pemimpin dunia berkumpul secara virtual memperingati 75 tahun pendirian Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB). Angela Merkel mengatakan badan dunia itu membutuhkan reformasi dan semangat persatuan yang lebih besar.

Angela Merkel berpidato di kantor pusat PBB di New York tahun 2019

Angela Merkel berpidato di kantor pusat PBB di New York tahun 2019

"Pada akhirnya, Perserikatan Bangsa-Bangsa hanya bisa sebaik semangat persatuan para anggotanya," kata Merkel dalam pesan video yang disampaikan Senin malam (21/9) pada acara menandai peringatan 75 tahun pendirian badan dunia itu.

"Terlalu sering Dewan Keamanan PBB diblokir, ketika keputusan yang jelas dibutuhkan," kata Merkel merujuk pada lembaga PBB yang dibentuk untuk memastikan perdamaian dan keamanan internasional, namun sering dikritik karena strukturnya dianggap tidak relevan lagi.

Angela Merkel mengatakan, PBB perlu reformasi mendesak. Dia mengkritik bahwa terlalu sering kepentingan individual satu negara menghalangi lembaga-lembaga PBB mencapai tujuannya, padahal kita hidup di satu dunia.

"Siapa yang merasa dia bisa hidup lebih baik sendirian, adalah keliru. Kita berbagi kesejahteraan, demikian juga penderitaan," kata Merkel. "Kita adalah satu dunia."

Pemimpin Jerman itu menunjuk pandemi global virus corona sebagai contoh masalah yang melintasi batas negara. Masalah seperti itu membutuhkan "komunikasi dan kerja sama" pada semua tingkatan, kata Merkel.

Sekjen PBB Antonio Guterres berpidato (Photo/Imago Images)

Sekjen PBB Antonio Guterres: "Surplus tantangan multilateralisme, tapi kurang solusi"

PBB perlu reformasi, tapi dibuka dengan "skandal"

Acara peringatan 75 Tahun PBB dimulai dengan sebuah skandal kecil, ketika Presiden AS Donald Trump yang dijadwalkan memberi pidato online ternyata tidak hadir, dan hanya mengirim wakil Duta Besar AS di PBB, Cherith Norman Chalet.

Presiden Prancis Emmanuel Macron lalu menyampaikan kritik dengan mengatakan: "Rumah bersama kami sedang kacau. Fondasinya dilubangi, dindingnya kadang-kadang retak karena hantaman orang yang ikut membangunnya."

Presiden China Xi Jinping dalam pidato onlinenya secara tidak langsung mengecam kebijakan perang dagang AS.

"Tidak ada negara yang memiliki hak untuk mendominasi urusan global, mengontrol nasib orang lain, atau meraup keuntungan dalam perkembangan ekonomi untuk dirinya sendiri," kata Xi Jinping. "Bahkan sebaiknya seseorang tidak diizinkan bertindak sesuka hatinya dan menjadi hegemoni atau bos dunia. Unilateralisme adalah jalan buntu."

Banyak tantangan, kurang solusi

Dalam pidato sambutannya, Sekretaris Jenderal PBB Antonio Guterres mengingatkan adanya "surplus tantangan multilateral dan kurangnya solusi multilateral."

"Bencana iklim membayangi, keanekaragaman hayati runtuh, kemiskinan meningkat lagi, kebencian menyebar, ketegangan geopolitik meningkat ... dan pandemi COVID-19 telah mengungkap kerapuhan dunia. Kita hanya bisa mengatasinya secara bersama."

Guterres memuji keberhasilan PBB sejak didirikan pada tahun 1945. "Perang Dunia ketiga, yang ditakuti banyak orang, berhasil dihindari. Tidak pernah dalam sejarah modern kita alami bertahun-tahun tanpa konfrontasi militer antara kekuatan-kekuatan besar selama ini," katanya.

PBB didirikan di tengah reruntuhan Perang Dunia II pada tahun 1945 dengan 50 negara anggota, dengan tujuan utama mencapai perdamaian dunia. Tahun 1973, Jerman Barat dan Jerman Timur secara bersamaan resmi menjadi anggota. Karena pandemi corona, acara peringatan 75 Tahun PBB digelar secara virtual, diikuti oleh 193 anggotanya. Hari Selasa (22/9) acara akan dilanjutkan dengan pertemuan tahunan Majelis Umum PBB.

hp/gtp (dpa, rtr, afp)

Laporan Pilihan