Angela Merkel: Ada Harapan, Tapi Tidak Cabut Restriksi Keluar Rumah | JERMAN: Berita dan laporan dari Berlin dan sekitarnya | DW | 04.04.2020
  1. Inhalt
  2. Navigation
  3. Weitere Inhalte
  4. Metanavigation
  5. Suche
  6. Choose from 30 Languages
Iklan

Wabah Corona

Angela Merkel: Ada Harapan, Tapi Tidak Cabut Restriksi Keluar Rumah

Kanselir Jerman, Angela Merkel tolak tetapkan tanggal akhir restriksi atas kehidupan masyarakat di Jerman. Laju infeksi virus corona yang agak melambat adalah sinyal bagus, katanya. Restriksi jadi kunci selamatkan nyawa.

Kanselir Angela Merkel berbicara di hadapan mikrofon (picture-alliance/dpa/M. Kappeler)

Kanselir Jerman Angela Merkel

Saat Jerman dan dunia menghadapai pandemi COVID-19, masa Paskah yang berlangsung minggu depan akan "sangat berbeda dengan perayaan Paskah yang pernah kita jalani selama ini." Demikian dikatakan Kanselir Jerman, Angela Merkel dalam rekaman video yang disiarkan Jumat (03/04) kemarin. 

Merkel memperingatkan, virus corona masih menyebar cepat di Jerman, dan menyebut upaya Jerman untuk menangani pandemi sebagai tugas sangat berat, ibaratnya butuh tenaga seperti yang dimiliki dewa Herkules dalam mitologi Yunani. Tetapi Merkel juga mengedepankan, bahwa kenaikan jumlah orang Jerman yang dinyatakan positif terinfeksi virus corona “sekarang melambat, dibanding beberapa hari lalu." 

"Memang benar, bahwa angka terakhir... walaupun tetap tinggi, bisa memberikan harapan, walaupun sangat kecil."  

Tetapi "untuk mengenali tren tertentu, jelas masih terlalu dini, dan masih sangat dini untuk mulai mengurangi restriksi manapun yang sudah kita tetapkanpada diri kita sendiri." 

Langkah-langkah restriksi sangat penting untuk menyelamatkan nyawa. Demikian dikatakan Merkel. 

Jangan memperburuk situasi 

Pemimpin pemerintahan Jerman yang berusia 65 tahun itu berbicara kepada rakyat Jerman lewat podcast mingguan, pada hari pertama kembali bekerja di kantornya. Sebelumnya Merkel melewatkan dua pekan karantina setelah bertemu dengan seorang dokter yang diketahui kemudian terinfeksi virus corona. Setelah menjalani beberapa tes, Merkel dinyatakan tidak terinfeksi. 

Dalam pidatonya kemarin, Merkel juga mengatakan ia “akan mengambil langkah tidak bertanggungjawab”, jika ia menetapkan tanggal pencabutan restriksi, namun negara kemudian tidak mampu melakukannya. 

Jika itu terjadi "kita ibaratnya pindah dari wajan ke dalam api — baik secara medis, ekonomi, dan sosial," demikian Merkel. 

Politisi dari partai konservatif Kristen Demokrat (CDU) itu mendorong seluruh warga Kristen Jerman untuk tidak merayakan Hari Paskah seperti biasanya. 

"Bagi jutaan orang Kristen, Hari Paskah berarti pergi ke gereja, melewatkan hari itu bersama seluruh keluarga, mungkin jalan-jalan bersama dan merayakan," kata Merkel. "Tapi tahun ini tidak demikian.” 

Masa penuh kekhawatiran 

Berdasarkan kesepakatan antara pemerintah ke-16 negara bagian Jerman dan pemerintah federal yang dipimpin Merkel, restriksi atas kehidupan masyarakat dan penjagaan jarak dengan orang lain akan tetap berlangsung hingga setidaknya 19 April. Pemerintah dan wakil pemerintah negara bagian akan berunding kembali lima hari sebelum tanggal tersebut, dan memutuskan apakah pembatasan akan dilanjutkan. 

Dalam pidatonya Merkel mengakui, saat ini adalah “masa penuh kekhawatiran.” 

Ia mengatakan, "Ada kekhawatiran menyangkut keluarga, pekerjaan, juga sejauh mana negara akan berubah nantinya." Ia menambahkan, "Kami akan melakukan segalanya sebaik mungkin dari sudut pandang negara, untuk menjamin agar sesedikit mungkin kekhawatiran rakyat menjadi kenyataan."

ml/yp (AFP, dpa, Reuters, EPD)

Laporan Pilihan