Ancaman Kembalinya Perang Dingin? | Fokus | DW | 27.04.2007
  1. Inhalt
  2. Navigation
  3. Weitere Inhalte
  4. Metanavigation
  5. Suche
  6. Choose from 30 Languages

Fokus

Ancaman Kembalinya Perang Dingin?

Rasa terkejut dan kekhawatiran ditunjukkan Sekretaris Jenderal NATO dan para menteri luar negeri anggota pakta pertahanan Atlantik Utara tersebut dalam pertemuan informalnya di ibukota Norwegia Oslo.

Pertemuan NATO di Oslo

Pertemuan NATO di Oslo

Menteri luar negeri Rusia Sergej Lavrov di Oslo dengan tegas menandaskan bahwa pemerintah di Kremlin serius dengan pernyataannya. Rusia menyatakan membekukan perjanjian pembatasan persenjataan konvensional dengan NATO dan mengancam akan keluar dari kesepakatan tersebut. Kesepakatan ini mengatur pembatasan jumlah pasukan dan senjata konvensional di Eropa seperti panser dan pesawat tempur.

“Ini adalah perkembangan ke arah yang salah, kita memerlukan lebih banyak persenjataan dan pengawasan senjata dan bukan sebaliknya.”

Demikian dikatakan menteri luar negeri Jerman Frank-Walter Steinmeier.

Latar belakang keputusan pemerintah Rusia itu adalah rencana pembangungan sistim penangkal rudal Amerika Serikat. Menurut keterangan Washington sistim tersebut guna berjaga-jaga terhadap serangan roket jarak jauh dari Iran dan Korea Utara. Untuk itu Amerika Serikat akan menempatkan 10 roket anti rudal di Polandia dan stasiun radar di Ceko. Rencana yang membuat Kremlin merasa lebih terancam daripada kemungkinan serangan roket dari Iran. Menteri luar negeri Sergej Lavrov

“Memang ada ancaman peluru kendali tapi tidak dari Iran, karena Iran tidak memiliki roket seperti itu. Dan secara teknik dalam waktu dekat tidak akan mampu membangunnya.”

NATO menuduh Lavrov terus mencari musuh dan menciptakan suasana yang tidak sehat. Pada kenyataannya suasana ini mengingatkan akan masa perang dingin. Sebelumnya menteri luar negeri Amerika Serikat Condoleezza Rice tidak menanggapi serius kekhawatiran Moskow tersebut

“Pemikiran bahwa 10 roket anti rudal di Polandia mengancam Rusia adalah sesuatu yang konyol dan semua tahu itu.”

Demikian dikatakan Rice menjelang pertemuan dalam pembicaraan dengan Lavrov.

Menteri luar negeri Jerman Steinmeier meminta Moskow memperlunak sikapnya

“Kami Eropa memiliki kepentingan terbesar bahwa spiral kecurigaan antara Amerika Serikat dan Rusia berakhir.”

Pada hari kedua pertemuan informal menteri luar negeri NATO di Oslo Jumat ini yang tidak lagi tidak dihadiri Rusia, akan dibicarakan masa depan Kosovo. Penolakan Rusia juga menolak usulan utusan khusus PBB Ahtisaari bagi kemerdekaan provinsi di Serbia itu. Yang membuat pembahasan masalah tersebut di Dewan Keamanan PBB tidak akan lebih mudah. NATO menempatkan 17 ribu tentara di Kosovo dan harus memperhitungkan terjadinya eskalasi situasi di sana. Agenda lainnya adalah keanggotaan Albania, Makedonia dan Kroasia, yang akan diputuskan tahun 2008. Juga pembicaraan dengan menteri luar negeri Ukraina tentang rencana bergabungnya negara itu ke dalam NATO.