1. Buka konten
  2. Buka menu utama
  3. Buka situs DW lainnya
Ana Setyastuti
Ana Setyastuti, Peneliti BRIN di BerlinFoto: Sorta Caroline/DW

Ana Setyastuti Meneliti Timun Laut, si Pahlawan Lautan

Sorta Caroline
7 Februari 2022

Peneliti Oseanografi BRIN, Ana Setyastuti, saat ini meneliti timun laut dari perairan Indonesia di laboratorium Museum für Naturkunde Berlin. Menurutnya, timun laut punya banyak potensi yang perlu dieksloprasi.

https://www.dw.com/id/ana-setyastuti-meneliti-timun-laut-di-berlin/a-60521458

Ini adalah tahun ketiga bagi Ana Setyastuti meneliti keanekaragaman timun laut (holothuroidea) Indonesia. Penelitiannya dilakukan di Museum für Naturkunde Berlin. Bagi Ana, menelusuri jenis-jenis timun laut punya daya tarik tersendiri. “Udah jalan pelan, lambat, diambil nggak bisa marah gitu, ya. Tapi dia punya pengaruh besar dalam rantai makanan dan juga bernilai ekonomis. Banyak diremehkan, tetapi mereka adalah the unsung heroes (red. pahlawan tanpa tanda jasa)!“ ujar Ana saat ditemui di ruang kerjanya di Museum für Naturkunde.

Timun laut komersil biasanya dikenal sebagai teripang. Teripang diperdagangkan sebagai bahan makanan juga sebagai bahan dasar obat. Ana pun turut menjelaskan peran penting timun laut yang tak melulu komersil. Pertama, timun laut berperan dalam mencegah ocean acidification (red. pengasaman laut). Timun laut memakan sedimen atau substrat dasar laut, mengambil zat haranya lalu mengeluarkan kembali substrat tersebut dari tubuhnya. Substrat yang dikeluarkan pun menjadikan dasar laut lebih gembur. Saat substrat dasar laut menggembur, oksigen terdistribusi sempurna, laut tidak menjadi asam.

Substrat dasar laut yang menggembur tak hanya mengundang mikro organisme laut datang tapi juga turut menyuburkan tanaman laut disana, seperti halnya lamun laut. Disinilah peran penting kedua dari timun laut, yakni membentuk komunitas kehidupan laut. Komunitas ini menjadi sumber makanan bagi ikan dan jadi rumah bagi ikan-ikan tersebut berlindung dan berkembang biak.

Selain terbentuknya komunitas, terumbu karang pun akan ikut bertumbuh dengan lebih baik. Saat timun laut menggemburkan substrat bawah laut, zat kapur yang mengendap akan terurai, sehingga dapat diserap oleh zooxanthellae untuk membangun terumbu karang dengan lebih cepat.

Timun laut dari Indonesia di laboratorium Berlin
Timun laut dari Indonesia di laboratorium BerlinFoto: Sorta Caroline/DW

Dari ketertarikannya akan timun laut yang kecil tapi punya dampak signifikan itulah, Ana kian bersemangat mengenali lebih banyak ragam jenis timun laut. “Mengenali keragaman timun laut dapat dilakukan melalui taksonomi:  kita identifikasi, kita namai, jadi kita bisa manfaatkan sesuai fungsinya”, jelas peneliti yang juga terdaftar sebagai mahasiswa doktoral di Humboldt Universität Berlin ini.

Baginya, mempelajari ilmu taksonomi seperti membuka sejarah timun laut. Ia mempelajari karakternya, menelusuri literatur tentangnya, memastikan jenisnya, hingga membuat runut cerita penemuannya.

“Wah yang dari Samudra Atlantik ditemukan di Indonesia! Kok bisa? Dari sejarah penemuan itulah kita akan mengetahui pola persebaran timun laut, yang juga dipengaruhi oleh arus laut dan gerak lempeng bumi,” terangnya. “Di sisi lain, menggeluti taksonomi seperti belajar mengenali harta kekayaan kita. Semakin kita tahu apa yang kita punya, akan semakin membantu kita dalam memanfaatkannya dengan bijaksana.”

Perjalanan Ana mengumpulkan timun laut

Sampai saat ini, Ana telah mengumpulkan sekitar 250 ekor timun laut dari berbagai wilayah perairan Indonesia.

’’Saya ikut berbagai ekspedisi dari 2009 untuk mengumpulkan sampel. Selain itu ada juga hibah sampel dari rekan peneliti lain. Terdapat 17 lokasi pengumpulan sampel, hanya 0,1persen dari total pulau di Indonesia,” kisahnya riang. Baginya, semua timun laut yang didapatkannya itu unik, punya karakter sendiri-sendiri.

Timun laut dari Indonesia di laboratorium Berlin
Timun laut dari Indonesia di laboratorium BerlinFoto: Sorta Caroline/DW

’’Yang satu ini, sempat saya kira batu. Saya temukan di Aceh, di daratan yang ternyata adalah batuan karang yang terangkat karena adanya tsunami pada 2004 dulu. Jenis ini kemungkinan sama dengan jenis yang ditemukan di Samudera Atlantik ratusan tahun lalu, tapi bagaimana proses penyebarannya masih perlu dianalisis lebih lanjut,” ujar Ana yang juga adalah penerima beasiswa DAAD ini.

Snorkeling dan berenang malam hari, saat kondisi lapangan aman, adalah rutinitas Ana untuk menemukan timun laut, "Biasanya timun laut paling banyak keluar saat malam," jelasnya.

Selain harus nyemplung ke laut saat matahari sudah tenggelam, risiko bahaya juga harus ditempuhnya. Ana harus terus waspada dengan belut laut, jenis-jenis ikan beracun, dan ular laut.

”Sempat nggak sengaja menginjak ikan lepu batu (stone fish), wah langsung ditali kakiku dan terus dipanasi pakai korek api sepanjang perjalanan naik perahu menuju puskesmas terdekat. Sampai di sana kulit kakiku disobek untuk mengeluarkan racunnya. Pernah juga sudah siap dengan pisau, tetap kena gigit belut laut,” kenang Ana. Kendati demikian, tantangan yang dihadapinya di lapangan tak menyurutkan semangatnya mengoleksi ragam timun laut dari perairan Indonesia.

Museum für Naturkunde di Berlin
Museum für Naturkunde di BerlinFoto: Sorta Caroline/DW

Mengapa melanjutkan studi ke Jerman?

”Lebih ke capacity building, di sini laboratorium dapat diakses secara bebas dan gratis bagi mahasiswa,” jawab Ana. Lebih lanjut, ia pun menjelaskan bahwa alat-alat seperti scanning electron microscope tersedia lengkap dan gratis. Di Indonesia, satu kali foto bisa dibanderol sekitar 300 ribu rupiah, sedangkan peneliti butuh hingga ribuan jepretan.

Selain itu alat untuk penelitian molekuler pun sangat lengkap, bahan penelitian hingga proses sequencing (red. peruntunan) di Jerman jauh lebih murah. Sedangkan di tanah air biaya penelitian molekuler masih mahal, karena tingginya biaya pengadaan bahan penelitian, juga proses sequencing yang biasanya harus dikirim dulu ke luar negeri, satu kali sequencing biayanya berkisar satu juta rupiah. Melanjutkan studi Jerman dipilihnya untuk memperluas jejaringnya di komunitas peneliti marine biology (red. biologi kelautan) internasional serta menambah pengalaman. (sc/hp)