Amerika Bentuk Komando Afrika | Fokus | DW | 08.02.2007
  1. Inhalt
  2. Navigation
  3. Weitere Inhalte
  4. Metanavigation
  5. Suche
  6. Choose from 30 Languages

Fokus

Amerika Bentuk Komando Afrika

Sebuah proyek baru dari presiden Amerika Serikat George Bush. Suatu komando militer khusus untuk menangani Afrika.

Milisi Islam Radikal Somalia

Milisi Islam Radikal Somalia

Africom, demikian komando ini disebut, akan berpangkalan sementara di Stutgart, Jerman. George Bush mengagendakan operasi penuh Africom mulai September tahun depan. Kendati kegiatan-kegiatan awalnya sudah dimulai bahkan sejak pekan lalu.

Dinyatakan presiden Bush hari Kamis, komando militer baru ini diarahkan untuk menekankan upaya Amerika dalam mendorong perdamaian di Afrika, dan mempromosikan tujuan dasar ihwal pembangunan, pendidikan, demokrasi dan pertumbuhan ekonomi di Afrika. Tetapi Dr. Stephen Ellis, seorang pakar di Pusat Studi Afrika, Universitas Leiden, Belanda, menanggapi pernyataan Bush dengan sinis. Menurutnya, alasan sebenarnya di balik gagasan Africom adalah minyak, dan tentu saja agenda perang melawan teror.

"Amerika memperoleh sekitar 15 persen impor minyaknya dari Afrika, khususnya Afrika Barat. Dan pemerintah AS ingin meningkatkan nilai impor itu hingga 25 persen dalam beberapa tahun mendatang. Itulah alasan utamanya. Yang kedua, apa yang oleh Amerika dilihat sebagai terorisme di Afrika."

Amerika Serikat sebetulnya sudah memiliki sebuah pangkalan militer di Afrika, yakni Camp Lemonier di Djibouti, Afrika Timur. Di pangkalan ini ditempatkan 1700 pasukan gerak cepat Amerika. Salah satu aksi tentara dari Camp Lemonier, adalah operasi penyerbuan terhadap para tersangka Al Kaidah di Somalia Selatan bulan lalu.

Pembentukan Africom juga akan menyatukan gugus tugas tentara Amerika di Afrika, yang sekarang ditangani tiga komando: Komando Eropa, Komando Pasifik, dan Komando Tengah yang mencakup Timur Tengah. Mesir sepertinya akan tetap berada dalam kewenangan Komando Tengah, karena perannya yang sentral dalam upaya penyelesaian konflik Timur Tengah.

Namun pembentukan Africom tidak akan disertai penambahan jumlah pasukan tempur di benua itu. Departemen Pertahanan Amerika menyatakan, yang akan lebih banyak dilibatkan adalah para pejabat sipil. Karena fokus program Africom pelatihan terhadap angkatan bersenjata berbagai negara Afrika. Seorang perwira di pangkalan militer Amerika di Stutgart yang tak mau disebut namanya mengatakan:

"Pembentukan Komando Afrika akan meningkatkan kemampuan Departemen Pertahanan dan elemen pemerintah Amerika lainnya dalam bekerja sama dengan mitra-mitra kami untuk mencapai keadaan yang lebih stabil, membantu opertumbuhzan ekonomi dan politik, mengerahkan bantuan kemanusiaan dan pembangunan. Dan jelas meningkatkan efektifitas tiga Komando yang ada sekarang dan menempatkannya dalam satu komando tempur."

Africom dimasukkan dalam berbagai program pertahanan bernilai trilyunan dolar yang baru saja diajukan anggarannya oleh presiden Bush ke Kongres.

Africom dimaksudkan antara lain sebagai upaya untuk mencegah benua Afrika menjadi kawasan aman bagi kelompok-kelompok radikal bersenjata dan kaum teroris. Karenanya dalam jangka panjang, markas Africom akan dipindahkan dari Stutgart ke Afrika. Kendatti belum ada agenda, kapan Africom akan dipindahkan dan ke negara Afrika mana.

Namun para pengamat menilai, pemindahan Afrikom ke lokasi lain di Afrika akan memakan waktu lama. Karena dalam situasi sekarang negara-negara yang potensial jadi pangkalan Afrikom, akan memperhitungkan betul stigma yang akan muncul jika melakukan kerja sama militer langsung dengan Amerika. Risiko yang akan dihadapi bisa sangat berat, yakni membuat negara itu menjadi sasaran serangan teroris.

Pakar Afrika Stephen Ellis bahkan mecemaskan peningkatan ketegangan di Afrika:

"Peningkatan keterlibatan militer Amerika bisa menimbulkan dampak seperti di masa Perang Dingin. Yakni mengubah konflik lokal yang sebetulnya berskala kecil, menjadi masalah besar internasional. Itulah yang terjadi di kaweasan Tanduk Afrika dan Afrika bagian Selatan semasa Perang Dingin. Dan hal yang persis sama bisa terjadi lagi. Tentu saja dalam konteks yang sekarang oleh orang Amerika disebut Perang Melawan Teror". ***