Apakah Ada Kembang Api Alternatif Ramah Lingkungan? | SOSBUD: Laporan seputar seni, gaya hidup dan sosial | DW | 31.12.2020

Kunjungi situs baru DW

Silakan kunjungi versi beta situs DW. Feedback Anda akan membantu kami untuk terus memperbaiki situs DW versi baru ini.

  1. Inhalt
  2. Navigation
  3. Weitere Inhalte
  4. Metanavigation
  5. Suche
  6. Choose from 30 Languages
Iklan

Sosbud

Apakah Ada Kembang Api Alternatif Ramah Lingkungan?

Jerman melarang penjualan dan menyulut kembang api di malam tahun baru kali ini. Apakah ini menjadi sebuah peluang untuk mencari alternatif pyroteknik yang lebih ramah lingkungan?

Pesta kembang api dan petasan di gerbang Brandenburger Berlin pada malam pergantian tahun lalu.

Kembang api berkontribusi pada polusi udara dan sampah beracun, pada tiap acara pergantian tahun seperti di Berlin ini.

Pesta kembang api dan petasan sejak beberapa abad terakhir menjadi bagian integral beragam perayaan penting di seluruh dunia. Mulai dari yang paling populer, seperti pesta kembang api di malam pergantian tahun hingga perayaan hari kemerdekaan di Amerika Serikat (AS) atau festival Diwali di India. Buncah letupan cahaya berwarna-warni di langit malam, nyaris menjadi simbolisme dari semua perayaan tersebut.

Tapi seiring bertambahnya kesadaran lingkungan, impak dari pertunjukkan cahaya pyroteknik itu makin menjadi sorotan kritis. Dibuat dari plastik dan bahan kimia berbahaya, kembang api tidak hanya memicu polusi tanah tapi juga polusi udara yang bisa berdampak serius pada kualitas udara yang kita hirup saat bernapas.

Dampak negatif kembang api

World Health Organization (WHO) melaporkan, partikel halus berdiameter kurang 2,5 mikrometer atau disebut "PM2.5" sebagai impak dari letupan kembang api, dapat menembus lapisan pelindung paru-paru dan masuk ke dalam sirkulasi darah. Paparan kronis pada PM2.5 memberikan kontribusi pada penyakit kardiovaskular dan penyakit saluran pernafasan hingga kanker paru-paru. Demikian laporan organisasi kesehatan dunia itu.

Jawatan lingkungan federal Jerman dalam laporan paling anyar menyebutkan, lebih dari 2.000 ton partikel amat halus PM 2.5 disemburkan ke atmosfer setiap tahunnya sebagai dampak pembakaran kembang api. Sekitar 75% diproduksi pada tanggal 31 Desember, ketika langit dan setiap sudut jalanan ibaratnya menjadi kanvas buat seni letupan kembang api dan petasan. 

Sementara laporan dari India menyebutkan, di akhir festival Diwali yang dirayakan oleh pemeluk Hindu, Jains dan Sikh selama lima hari pada bulan November yang dipuncaki dengan festival kembang api, menyumbang naiknya kadar PM 2.5 pada tingkat mendekati ambang batas aman. Bahkan pada tahun 2020, di saat pembatasan ketat akibat pandemi corona, di akhir festival Air Quality Index (AQI) di ibukota India menunjukkan level PM 2.5 pada kisaran 481, dengan indeks maksimal berdasar WHO pada angka 500.

Berkontribusi pada polusi

Jürgen Resch, pimpinan kelompok pembela lingkungan Jerman, Deutsche Umwelthilfe (DUH), sejak lama meggelar kampanye untuk penerapan regulasi kembang api yang lebih ketat. Walaupun perkiraan kadar emisi gas rumah kaca yag diproduksi di saat perayaan tahunan di Jerman itu beragam, namun Resch menerangkan, bahwa masalah yang dipicu kembang api tidak lagi sekedar polusi.

"Di Jerman, setelah perayaan malam tahun baru, setiap tahunnya tercipta 10.000 ton plastik dan sampah berbahaya dari kembang api, yang berserakan dimana-mana", papar Resch.

Tonton video 00:46

Kembang Api Leburan Besi di Cina

Georg Alef dari pabrik kembang api terkmuka di Jerman Weco, langsung menjawab bahwa sejauh ini belum ada kembang api yang netral iklim. Namun Alef menambahan, teknologi kembang api modern berdampak berbeda terhadap lingkungan. Perusahaannya juga terus berusaha membuat produknya lebih ramah lingkungan.

"Di dalamnya ada ruang bakar, dan seperti semua teknik ruang bakar, reaksinya memproduksi sesuatu ke udara. Produk kami tidak bebas partikel sangat halus", ujar Alef menambahkan.

"Tapi juga ada pertanyaan terkait penggunaan logam berat atau komponennya, seperti timbal, air raksa, krom dan seterusnya. Ini adalah komponen alamiah yang digunakan sebagai bahan pembuat kembang sampai abad lalu. Tapi sekarang unsur ini dilarang", papar pengusaha kembang api Jerman itu.

Alef mengklaim, Weco sudah melangkah lebih jauh dibanding pabrik kembang api lainnya. Contohnya, mencoba menggunakan serat yang bisa dikompos untuk roket kembang api, atau penggunaan material berbasis tanaman untuk produk lainnya. Kendala utama progres penggunaan material ramah lingkungan yang mudah terurai secara biologis adalah harganya yang lebih mahal dari material konvensional. Selain itu juga terkait masalah keamanan. Perlu bertahun-tahun buat pabrik kembang api untuk mengetes material baru dengan akurat.

"Kami tidak bisa menggunakan sembarangan komponen ramah lingkungan, khususnya jika itu terkait masalah keamanan", tambah Alef. Jika kita ingin punya emisi nol sepenuhnya, cara satu-satunya adalah sepenuhnya jangan gunakan kembang api."

Show drone dan laser

Hal itu sesuai dengan pemikiran Resch. "Mengapa kita masih merayakan peristiwa dengan menembakkan kembang api dan membiarkannya meletup dalam cara primitif?", tanya dia ironis.

Alternatifnya padahal sudah ada. Misalnya di Korea Selatan, show drone di udara saat malam perayaan malam tahun baru lalu menarik banyak perhatian. Juga tampilannya lebih cantik dan lebih cemerlang.

Bahkan di kota Landshut di Jerman, yang sejak beberapa tahun melarang kembang api pada perayaan malam pergantian tahun, ditampilkan show laser yang sangat impresif. Di ibukota Irlandia, Dublin perayaan pergantian tahun, pada tahun-tahun lalu diramaikan show laser yang masih dipadukan dengan pesta kembang api.

Di Jerman sendiri silang sengketa kembang api belum padam. Di satu sisi, pengusaha kembang api seperti Alef tetap meyakini, kembang api adalah bagian penting dari tradisi Jerman, sekaligus bentuk seni yang harus dilestarikan. Sementara di sisi lain, aktivis lingkungan seperi Resch justru mengharapkan, seusai pandemi nanti, negara yang cinta kembang api ini semakin beralih ke alternatif yang lebih ramah lingkungan.

Elliot Douglas (as/pkp)

Laporan Pilihan

Audio dan Video Terkait