Aksi Penangkapan di Tepi Barat | Fokus | DW | 24.05.2007
  1. Inhalt
  2. Navigation
  3. Weitere Inhalte
  4. Metanavigation
  5. Suche
  6. Choose from 30 Languages

Fokus

Aksi Penangkapan di Tepi Barat

Hari Kamis kemarin (24/05), tentara Israel menangkap lebih dari 30 tokoh politik organisasi radikal Hamas di Tepi Barat. Menutur keterangan Palestina, di antara yang diciduk terdapat Menteri Pendidikan Nasser al- Shaer, sejumlah anggota parlemen dan walikota-walikota Nablus, Kalkilia dan beberapa kota kecil lainnya.

Menteri Pertahanan Israel Amir Peretz

Menteri Pertahanan Israel Amir Peretz

Seorang jurubicara militer Israel mengatakan, penangkapan dilakukan karena organisasi Hamas membangun infrastruktur teror di Tepi Barat yang serupa dengan di Jalur Gaza. Pemerintah Palestina juga dituduh menyalahgunakan wewenangnya untuk mendukung serangan terhadap Israel. Aksi penangkapan itu dilaksanakan menyusul serangan sekitara 20 roket Kassam ke wilayah Israel sejak lebih seminggu ini.

Setahun lalu, setelah penculikan tentara Israel Gilad Shalit di Jalur Gaza, Menteri Pendidikan Palestina, Nasser Al Din Shaer ditangkap. Padahal dia bukan anggota Hamas dan terpilih di parlemen sebagai kandidat independen. Rabu yang lalu dia ditangkap lagi di Nablus bersama 32 politisi Palestina lainnya. Menteri Informasi Mustafa Barghouti menilai penangkapan itu sebagai penghentian perjanjian Israel dan Palestina. Kepada pemancar televisi BBC World dia mengemukakan:

“Ini merupakan serangan terhadap presiden dan institusi Palestina yang dipilih secara demokratis. Kami mengimbau masyarakat dunia untuk bertindak. Karena kalau tidak, semua kesepakatan internasional tidak berlaku lagi dan ini berarti akhir dari pemerintahan otonomi. Dunia harus melihat kenyataan. Israel tahun lalu menghancurkan semua lembaga Palestina secara sistematis. Dan bersamaan dengan itu pendudukanIsrael kembali dilaksanakan di setiap sentimeter wilayah.“

Sebelumnya Israel memang juga pernah menangkap pemerintah Hamas dan anggota parlemen Palestina. Beberapa di antaranya bahkan ditahan sejak berbulan-bulan ini. Namun, kali ini untuk pertama kalinya seorang menteri dari pemerintahan kesatuan nasional, ditangkap. Pemerintah yang terdiri dari Hamas dan Fatah itu dengan susah payah dibentuk bulan Maret lalu. Melalui pembentukan itu diharapkan ketegangan internal di Palestina berkurang, sehingga dapat menghentikan pemboikotan internasional terhadap Palestina.

Dengan penuh kekhawatiran, Israel mengamati beberapa negara Eropa yang bersedia melakukan kontak dengan pemerintah baru Palestina, setidaknya dengan menteri yang bukan anggota Hamas. Menteri Luar Negeri jJerman Frank-Walter Steinmeier baru-baru ini juga bertemu dengan Menteri Luar Negeri Ziad Abu Amr yang bukan merupakan anggota partai apa pun. Menteri Pertahanan Israel Amir Peretz mengomentari penangkapan di Tepi Barat:

„Pemimpin Palestina mau mengambil untung dari semua pihak. Di satu sisi dari pemerintahan kesatuan yang nyaris mendapat legitimasi internasional dan di sisi lainnya mereka tidak mampu menangani anggota Hamas yang bersenjata. Penangkapan lebih baik daripada menggunakan kekerasan. Kami berharap, melalui penangkapan ini Hamas mengerti bahwa kami tidak membedakan pemimpin politik dari pemimpin militer dan ingin agar tembakan roket ke Israel dihentikan.“

Namun, justru hal ini tampaknya tidak terjadi. Malahan sebaliknya, penangkapan dan razia terhadap media Palestina di Tepi Barat tidak menenangkan situasi. Palestina berulang kali menegaskan, mereka bersedia melaksanakan gencatan senjata bila gencatan itu juga berlaku di Tepi Barat. Menteri Informasi Palestina Barghouti mengatakan, jika Israel menghentikan operasi militer dan penangkapan di Tepi Barat, maka serangan roket ke Israel akan dihentikan.