Aksi Massa di Beirut Mengenang Tewasnya Rafik Hariri | Fokus | DW | 14.02.2007
  1. Inhalt
  2. Navigation
  3. Weitere Inhalte
  4. Metanavigation
  5. Suche
  6. Choose from 30 Languages

Fokus

Aksi Massa di Beirut Mengenang Tewasnya Rafik Hariri

Aksi massa di Beirut untuk memperingati dua tahun terbunuhnya mantan perdana menteri Libanon berlangsung Rabu (14/2) secara damai.

Suasana di Beirut Rabu (14/2) lalu

Suasana di Beirut Rabu (14/2) lalu

Menurut informasi dari pihak keamanan pemerintah, hampir 300 ribu pengunjuk rasa hadir di ibukota Beirut. Sedangkan pihak penyelenggara acara mengklaim 800 ribu simpatisan mendiang Hariri hadir dalam acara peringatan tersebut.

Sehari sebelumnya, terjadi serangan bom terhadap dua bus mini di utara Beirut. Kekhawatiran akan terjadinya sesuatu yang tidak diinginkan dalam acara peringatan itu muncul setelah serangan bom tersebut.

Guna mengamankan jalannya acara peringatan tewasnya Rafik Hariri, sekitar enam ribu serdadu Libanon dan hampir tiga ribu petugas keamanan swasta dikerahkan. Omar Itani, koordinator acara peringatan dua tahun wafatnya Rafik Hariri menuturkan:

„Demonstrasi berlangsung damai, tidak seorang pun yang berbekal senjata atau batu.

Para pengunjuk rasa Rabu kemarin tidak hanya mengenang hari wafatnya Rafik Hariri tapi juga menuntut dibentuknya mahkamah internasional menangani kasus pembunuhan Hariri. Semua orator dalam aksi massa Beirut Rabu lalu melontarkan tuntutan tersebut. Begitu juga Saad, putra Rafik Hariri yang menuntut keadilan:

Perdebatan seputar mahkamah khusus melumpuhkan kehidupan politik Libanon. Pemerintah Perdana Menteri Fuad Siniora menginginkan adanya mahkamah internasional.

Sementara itu, banyak pihak yang menentang mahkamah internasional seperti presiden, yang harus menyetujui mahkamah tersebut, sejumlah kelompok etnis Libanon, khususnya gerakan Syiah Hisbullah dan Amal. Alasan mereka, dasar hukum mahkamah internasional memudahkan politisi tingkat tinggi dilibatkan untuk bertanggung jawab atas tindakan anak buahnya.

Alasan serupa diajukan pemimpin di Suriah, yang selama ini dituduh terlibat dalam pembunuhan Hariri. Kelompok oposisi yang juga dituduh ikut bertanggung jawab atas pembunuhan Hariri disebut sebagai kepanjangan tangan Suriah.

Sejak beberapa bulan, kelompok oposisi menuntut pembubaran kabinet pemerintahan Libanon. Mereka membangun tenda di sekitar kantor pemimpin kabinet. Tak jauh dari situ, pengunjuk rasa yang hadir Rabu kemarin turut memberikan dukungan terhadap Perdana Menteri Siniora.

Pagar berduri yang memisahkan pendukung oposisi dan pengunjuk rasa pro pemerintah menjadi simbol perpecahan bangsa Libanon.

Pemimpin kaum Druz Walid Jumblatt menggunakan demonstrasi besar-besaran itu untuk mengutuk Presiden Suriah Bashar al Assad. Jumblatt menyebut al Assad sebagai Tiran, pembohong dan pembunuh.

Banyak demonstran yang tidak mau menunjukkan secara eksplisit melawan oposisi, misalnya protes melawan HIsbullah. Namun mereka ingin bergerak lebih jauh, untuk memperbaiki kehidupan politik Libanon. Samir Geagea, pemimpin kelompok ekstremis Kristen misalnya, melakukan orasi yang tidak berhubungan dengan acara peringatan Hariri. Geagea mengolok-olok Hisbullah dan itu tidak menguntungkan bagi perdamaian di Libanon.