Akhirnya Afrika Sepakati Resolusi Darfur | Fokus | DW | 30.03.2007
  1. Inhalt
  2. Navigation
  3. Weitere Inhalte
  4. Metanavigation
  5. Suche
  6. Choose from 30 Languages

Fokus

Akhirnya Afrika Sepakati Resolusi Darfur

Sebuah terobosan berhasil dicapai Di Jenewa, berkaitan dengan krisis Darfur. Berkat berubahnya suara Afrika .

Barak Pengungsi Darfur

Barak Pengungsi Darfur

Dewan Hak Asasi Manusia (HAM) Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) berhasil menyepakati resolusi untuk menangani segera krisis kemanusiaan di Darfur secara segera dan dengan tindakan nyata.

Michael Steiner, duta besar Jerman yang berbicara atas nama Uni Eropa menyatakan, ini sebuah keberhasilan penting. Karena selama ini upaya internasional menangani Darfur selalu menemui jalan buntu. Dikatakan Michael Steiner:

"Ini berarti, hari ini kita berhasil mengesahkan suatu keputusan yang bertujuan untuk mengubah situasi di wilayah krisis itu dengan langkah nyata, dan bukan cuma dengan retorika kata-kata belaka".

Selama ini berbagai upaya internasional untuk menghentikan kebrutalan dan penderitaan di Darfur, Sudan, selalu berhadapan dengan suatu tembok besar. Yakni kekukuhan negara-negara Afrika untuk bersatu dalam solidaritas buta terhadap pemerintah Sudan. Namun kali ini, sejumlah negara Afrika mengendurkan sikap, dan mendukung Resolusi yang diajukan oleh Uni Eropa ini. Kendati dengan sejumlah perubahan khusus. Salah satu perubahan yang oleh halangan pembela HAM sangat disesalkan adalah dihapusnya rumusan kalimat yang secara langsung menyatakan pemerintah Sudan terlibat dalam pelanggaran HAM besar-besaran di Darfur.

Kendati begitu, resolusi ini tetap dianggap sebagai pukulan besar bagi pemerintah Sudan, dan sebuah kemenangan kecil bagi masyarakat dunia. Direktur Human Right Watch, sebuah lembaga pembela HAM internasional, Peggy Hicks menggambarkan:

"Bagaimanapun ini sebuah resolusi yang bermakna. Lebih-lebih, karena sejumlah negara Afrika mengambil peran yang sangat berani. Mereka berdiri dan mengatakan, tidak, tidak bisa lagi berdiam diri. Kita harus bertindak untuk mengatasi masalah ini sekarang. Kami menyaksikan sendiri di persidangan, betapa aktifnya negara-negara seperti Zambia dan Nigeria. Semoga saja mereka bisa terus teguh memegang sikap seperti itu bukan cuma untuk masalah Darfur sekarang ini, tetapi juga mengenai pelanggaran HAM lainnya di seluruh dunia.

Sejauh ini lebih dari 200 ribu orang tewas dan sekitar 2,5 juta warga Darfur jadi pengungsi akibat keganasan milisi Arab dukungan pemerintah dalam apa yang diyakini sebagai pembantaian etnis. Dewan Keamanan PBB telah mengeluarkan resolusi mengenai mendesaknya pengiriman pasukan internasional. Namun pemerintah Sudan terus menerus menolak, dan hanya mengizinkan pasukan Uni Afrika yang perlengkapannya sangat minim.

Dalam salah satu keputusannya, Dewan HAM PBB akan membentuk suatu tim khusus untuk menghentikan pelanggaran HAM di Darfur. Menurut Peggy Hicks, resolusi ini jelas tidak akan serta merta mengubah keadaan Darfur yang begitu parah. Namun jika dijalankan dengan baik, hasilnya bisa berarti untuk rakyat Darfur.

"Jadi yang harus dilakukan sekarang adalah menjalankan rekomendasi-rekomendasinya, dan mencoba melakukan langkah nyata sampai ke urusan kecil. Dan ini bisa membuahkan hasil nyata. Misalnya dalam memberi perlindungan terhadap warga sipil. Atau bahkan terhadap kaum perempuan yang selama ini tak bisa lagi mencari kayu bakar karena kuatir akan diperkosa. Banyak sekali persoalan seperti itu yang harus diperhatikan, agar bisa ditangani."