Akhir pertemuan ASEM di Hamburg | Fokus | DW | 30.05.2007
  1. Inhalt
  2. Navigation
  3. Weitere Inhalte
  4. Metanavigation
  5. Suche
  6. Choose from 30 Languages

Fokus

Akhir pertemuan ASEM di Hamburg

Para kritik menyebutkan, diplomasi tinggi tak menutupi minimnya hasil pertemuan ASEM. Lalu apa saja yang dihasilkan?

Menteri Luar Negeri Frank Walter Steinmier dan Yang Jiechi di pertemuan ASEM ke-8 di Hamburg

Menteri Luar Negeri Frank Walter Steinmier dan Yang Jiechi di pertemuan ASEM ke-8 di Hamburg

Kali ini dalam pertemuan ASEM, bergabung sejumlah negara baru, yakni India, Pakistan, Mongolia, Bulgaria dan Romania. Hal ini bukannya tak sengaja. Memang ada upaya meluaskan lingkup keanggotaan dengan melibatkan negara-negara Asia Selatan, dan anggota Uni Eropa baru.

Selain ke lima negara itu, Asosiasi Negara-Negara Asia Tenggara, ASEAN juga menjadi anggota baru ASEM. Hal ini menambah pengaruh ASEM, yang menurut Menlu Jerman, Frank Walter Steinmeier kini merupakan representasi dari 58 penduduk dunia dan 60% perdagangan dunia.

Materi yang dibahas kali ini meliputi kebijakan luar negeri, keamanan Timur Tengah dan Afghanistan, masalah energi dan isu-isu sosial budaya lainnya. Hasil yang dicapai di pertemuan ASEM kali ini berada di sektor sosial dan budaya.

Kesepakatan yang dicapai termasuk meningkatkan dialog antar agama, pertukaran ilmuwan dan program-program pendidikan. Komisi Uni Eropa juga telah menyatakan kesediaannya menyediakan 775 juta Euro untuk kegiatan yang akan berlangsung selama 4 tahun itu.

Mungkin karena itu, tuan rumah Menteri Luar Negeri Jerman, Frank Walter Steinmeier menilai perundingan ASEM ini secara positif. Agaknya baik sang Menteri maupun tamu-tamunya dari 42 negara itu sama sekali tidak terganggu demonstrasi yang berlangsung selama perundingan.

Juga Menteri Luar Negeri Cina, Yang Jiechi, menekankan nyamannya atmosfer perundingan itu. Padahal posisi Cina maupun India bertolak belakang dengan keinginan negara-negara Eropa. Diperkirakan pada tahun 2015, kedua negara ini akan menghasilkan lebih banyak gas rumah kaca daripada Amerika Serikat. Namun baik Cina, maupun India menolak pembatasan emisi gas rumah kaca seperti yang dicanangkan Jerman.

Karena alasan-alasan sejarah, kedua negara itu menilai bahwa negara-negara industri harus mengurangi lebih banyak CO2 daripada negara berkembang. Secara diplomatis, Yang Jiechi mengatakan,

„Tentu saja kita tak dapat berharap bahwa setiap negara akan menyetujui semua usulan. Namun secara umum, petemuan ini sangat positif. Kita bergerak menuju tujuan yang sama dan memang, dalam melindungi alam setiap negara harus bisa menyumbang sesuai kemampuan negara itu, agar perubahan iklim bisa dihambat.“

Dari podium demonstran di muka gedung walikota, Manuel Sarazin dari Partai Hijau mengkritik posisi Eropa yang dinilai lemah menghadapi Asia,

„Kami juga menyambut kehadiran para menteri luar negeri di Hamburg, tapi janganlah terlalu sibuk dengan minum-minum kopi, makan udang dan membahas tema-tema yang mudah. Kita juga perlu membicarakan tema yang lebih berat Mengabaikan tema-tema Hak Azasi Manusia dan persyaratan produksi di negara Asia merupakan kesalahan besar.“

Memang dalam keterangan akhirnya negara-negara anggota ASEM mengecam Myanmar, yang juga anggota ASEM, atas penolakannya membebaskan para pengkritik pemerintahan. Namun hal ini tidak disinggung secara terbuka oleh Menteri Steinmeier dalam konferensi pers.

Dan tampaknya dalam pertemuan dua hari itu banyak tema yang tidak disinggung. Seperti peran Cina dalam politik pembangunan Afrika, yang bertentangan dengan upaya negara-negara Eropa. Misanya, posisi Cina yang menghambat Dewan Keamanan PBB yang ingin lebih menekan Sudan untuk menghentikan penghalauan warga di propinsi Darfur dan sejumlah tema lain.

Secara garis besar, sulit menggambarkan hasil pertemuan Eropa dan Asia di Hamburg yang baru berakhir itu. Hampir tidak ada kesepakatan konkrit. Semua berakhir seperti awalnya, ramah, mudah dicerna dan samar-samar.

Diplomasi tinggi hanya berfungsi memperbaiki atmosfir pertemuan antara ke-43 Menlu yang tetap tersenyum, meski masing-masing pihak berusaha mengedepankan kepentingannya.