Adu Kuat Guaido-Maduro di Venezuela Perlu Jalan Tengah | DUNIA: Informasi terkini dari berbagai penjuru dunia | DW | 03.05.2019
  1. Inhalt
  2. Navigation
  3. Weitere Inhalte
  4. Metanavigation
  5. Suche
  6. Choose from 30 Languages
Iklan

Opini

Adu Kuat Guaido-Maduro di Venezuela Perlu Jalan Tengah

Upaya pimpinan oposisi Juan Guaido memaksa Nicolas Maduro mundur tidak berhasil. Kebuntuan politik perlu jalan tengah, jika tidak ingin rakyat jadi korban, tulis pengamat politik Günther Maihold*.

Apa  yang terjadi di Venezuela selama beberapa hari terakhir dapat ditafsirkan dengan berbagai cara. Sejauh ini, situasinya masih belum jelas. Namun satu hal yang pasti: perebutan kekuasaan yang berkelanjutan antara presiden yang mendeklarasikan dirinya sendiri Juan Guaido, dan pejabat presiden Nicolas Maduro akan menuntut banyak korban dari rakyat  biasa, jika tidak bisa menemukan jalan tengah. Kebuntuan politik berkepanjangan akan membuat rakyat semakin apatis.

Sanksi ekonomi terhadap industri Venezuela yang ditetapkan banyak negara industri, kekurangan pasokan makanan dan barang yang terus-menerus, akan mendorong makin banyak warga Venezuela yang melarikan diri ke negara-negara tetangga.

Günther Maihold Quadriga (DW)

Günther Maihold, Berlin

Strategi Juan Guaido selama ini mengandalkan kemampuan pendukungnya untuk melakukan mobilisasi dan menggelar unjuk rasa. Guaido sempat mengklaim bahwa sebagian militer negara itu telah meninggalkan kubu Maduro dan memihak kepadanya, namun klaim itu ternyata tidak benar. Hanya beberapa gelintir serdadu terlihat mendukung oposisi. Klaim palsu itu melemahkan posisi Guaido.

Setelah berminggu-minggu menggelar protes, banyak rakyat Venezuela yang sekarang kelelahan dan mulai kecewa. Mereka juga khawatir akan ada tindakan pembalasan yang brutal oleh aparat keamanan di bawah kendali Maduro.

Konflik politik menguatkan posisi militer

Upaya Washington menggambarkan sekan-akan kejatuhan Maduro akan segera terjadi, tidak menghasilkan apa-apa. Secara bertahap, para pendukung Guaido kini mulai kehilangan kepercayaan pada dukungan luar negeri. Perubahan rezim secara mendadak makin jauh dari kenyataan.

Meski begitu, posisi Nicolas Maduro memang melemah. Presiden yang berkuasa sekaarng perlu dukungan dan jaminan militer yang loyal kepadanya. Posisi kubu militer kini makin lama makin kuat, di tengah perebutan kekuasaan antara Guaido dan Maduro.

Ketika Guaido dan Maduro bersaing untuk mendapatkan dukungan militer, para jenderal kini yang memiliki pengaruh besar dan mampu menentukan arah politik. Tetapi hal ini hanya akan membuat persoalan makin rumit, dan upaya menemukan solusi politik yang sangat dibutuhkan untuk memecahkan kebuntuan saat ini jadi makin sulit.

Perlu jalan tengah

Baik kubu Guaido maupun kubu Maduro kini sama-sama mengambil posisi maksimal dan mau mendikte persyaratan mereka sendiri. Tapi untuk menemukan solusi, diperlukan jalan tengah. Kedua kubu perlu meninjau kembali posisinya dan mencari cara menemukan kompromi.

Jika militer Venezuela mau bertindak penuh tanggung jawab untuk menjamin reformasi politik tanpa berpihak kepada satu kubu, maka di masa depan Juan Guaido dan tokoh oposisi Leopoldo Lopez yang saat ini mencari perlindungan di Kedutaan Besar Sapanyol di caracas, bisa bekerjasama membangun oposisi yang handal. Dalam skenario seperti itu, Guaido misalnya bisa mengambil posisi lebih ekstrem yang terus menentang Maduro, sementara Lopez dapat melakukan diplomasi pintar  mencari jalan tengah. Dialog antara oposisi dan kubu Maduro bisa  berpotensi mengakhiri kebuntuan.

Masyarakat internasional sekarang harus menjelaskan kepada kedua kubu, bahwa dialog adalah satu-satunya pilihan yang layak untuk memecahkan kebuntuan. Konfrontasi yang sedang berlangsung saat ini adalah beban besar bagi rakyat. Jerman, Eropa dan negara-negara Amerika Latin tidak bisa lagi menonton sebagai pentonton adu kuat ini, namun harus membantu rakyat Venezuela. Menteri luar negeri Jefrman sekarang harus mengambil inisiatif untuk mengakhiri konfrontasi yang sia-sia di Caracas.

*Günther Maihold adalah Wakil Direktur yayasan politik "Stiftung Wissenschaft und Politik" (SWP) di Berlin.