Abdullah Gül Kandidat Presiden Turki | dunia | DW | 25.04.2007
  1. Inhalt
  2. Navigation
  3. Weitere Inhalte
  4. Metanavigation
  5. Suche
  6. Choose from 30 Languages

Dunia

Abdullah Gül Kandidat Presiden Turki

Hari Sabtu (21/04) lalu sekitar 300 ribu warga Turki memenuhi jalanan di Ankara, menentang Perdana Menteri Recep Tayyip Erdogan, mantan tokoh Islamis, yang diperkirakan akan mencalonkan diri menjadi presiden.

Abdullah Gül (kiri) dan Recep Tayyip Erdogan (kanan)

Abdullah Gül (kiri) dan Recep Tayyip Erdogan (kanan)

Warga Turki kuatir, majunya Erdogan menjadi presiden berarti Turki akan menjadi negara Islam. Tapi Selasa (24/04) kemarin sebuah keputusan mengenai kandidat presiden telah diambil.

Tapi berakhir sudah spekulasi berkepanjangan mengenai siapa kandidat presiden Turki. Dalam sebuah rapat umum partai pemerintah AKP, Perdana Menteri Recep Tayyip Erdogan yang juga ketua partai mengajukan Menteri Luar Negeri Turki Abdullah Gül sebagai kandidat presiden:

„Kandidat untuk pemilihan presiden ke-11, yang terpilih berdasarkan penelitian paling aktual yang saya lakukan, adalah rekan lama saya dan juga pendiri partai Abdullah Gül“

Abdullah Gül saat ini merupakan salah satu politisi favorit di Turki. Sejak kemenangan mutlak partai konservatif islam AKP dalam pemilihan tahun 2002 silam, Gül menjabat sebagai menteri luar negeri.

Seperti ketua partainya Erdogan, Gül berusaha memanfaatkan fungsi negaranya sebagai jembatan penghubung antara dunia barat dan dunia timur, di antaranya membantu perundingan krisis atom Iran. Rabu ini juru runding Uni Eropa Javier Solana dan diplomat nuklir Iran Ali Larijani akan mengadakan pertemuan di Ankara dengan juru penengah Turki. Selain itu Abdullah Gül adalah seorang yang sangat memperjuangkan status keanggotaan Turki di Uni Eropa:

"Kami tetap memperjuangkan cita-cita mendapatkan keanggotaan penuh. Proses reformasi akan terus dilanjutkan, sejak lama proses keanggotaan di Uni Eropa menuntut upaya yang sangat keras. Upaya ini akan terus berlanjut.”

Doktor di bidang ilmu ekonomi ini berasal dari kota Kayseri di daerah Anatolia tengah. Pria berusia 56 tahun ini pernah menuntut ilmu di London dan Exeter. Selain itu, Abdullah Gül merupakan anggota Gerakan Pembaruan Islam. Pada bulan Agustus 2001, organisasi ini berfusi menjadi partai AKP. Sebelumnya Abdullah Gül, seperti Erdogan, adalah pendukung politisi pemimpin Gerakan Pembaruan Islam Necmettin Erbakan. Itu berarti, Gül tidak mendapat dukungan dari kaum yang ingin memodernisasi Turki. Deniz Baykal, ketua Partai Rakyat Republik CHP dari pihak oposisi

„Abdullah Gül nantinya harus menerima kenyataan bahwa jabatan presiden Republik Turki bukanlah jabatan yang diterima atas perintah Perdana Menteri Erdogan dan kepanjangan tangan kader Erbakan. Dia harus menyadari bahwa pemilihan presiden bukanlah kegiatan intern partai pemerintah.“

Presiden baru Republik Turki akan dipilih oleh parlemen di Ankara tanggal 27 April mendatang. Selambatnya dalam penghitungan suara ketiga dibutuhkan suara mayoritas mutlak, yang akan diupayakan oleh Partai AKP. Dan terhitung mulai tanggal 16 Mei, presiden yang baru terpilih tersebut memulai masa jabatannya.

Iklan