9 November, Hari Yang Menentukan bagi Jerman | Sosial | DW | 09.11.2006
  1. Inhalt
  2. Navigation
  3. Weitere Inhalte
  4. Metanavigation
  5. Suche
  6. Choose from 30 Languages

Sosial

9 November, Hari Yang Menentukan bagi Jerman

Tanggal 9 November 1989, tembok Berlin diruntuhkan. Sebuah kejadian yang mengubah dunia.

Tembok Berlin

Tembok Berlin

Kurang dari setahun kemudian, tanggal 31 Oktober 1990, jerman kembali bersatu setelah 41 tahun pemisahan Jerman Barat dan Jerman Timur. Dengan ini berakhir lah konflik antara timur dan barat. 9 November 1989 merupakan hari yang mengubah nasib Jerman dan Eropa.

Tetapi tanggal 9 November mempunyai beberapa arti untuk rakyat Jerman. Pada tahun 1918, Phillip Scheidemann dari partai Sosial Demokrat menyerukan pendirian Republik Jerman dari balkon Dewan Perwakilan Rakyat Jerman di Berlin. Hal ini mengakhiri monarki dibawah Kaisar Wilhelm ke-2.

Republik muda Jerman yang demokratis ini sejak awal sudah mengalami kesulitan. Kelompok sayap kanan dan kiri ingin menyingkirkan Republik ini secepat mungkin. Pada tanggal 9 November 1923, orang-orang dari Partai Nasional Sosialis menyerbu bangsal panglima angkatan perang di München. Pemimpinnya adalah Adolf Hitler, yang 10 tahun kemudian memegang kekuasaan di Jerman secara resmi dan menjerumuskan dunia kedalam becana terbesarnya. Yakni perang dunia ke-2.

Sebelum pecahnya perang dunia kedua ini, secara bertahap hak kaum Yahudi sudah dicabut, sampai akhirnya mereka dimusnahkan secara sistematis pada tahun 1942. Pada tanggal 9 November 1938, di seluruh Jerman, sinagoge-sinagoge dibakar dan toko-toko orang Yahudi dijarah. Sekitar 100 orang Yahudi dibunuh dan sekitar 26.000 dimasukkan ke kamp-kamp konsentrasi. Kerusuhan ini secara sinis dinamakan “Reichskristallnacht”, yang artinya “Malam kristal kekaisaran”, karena banyaknya pecahan kaca dari toko-toko yang dihancurkan dan juga dari lampu-lampu kristal dari sinagoge-sinagoge yang dibakar.

Kejadian ini merupakan semacam gladi resik awal untuk holocaust. Robert Ley, ketua kelompok pekerja nasional sosialistis Jerman tidak menyembunyikan apa-apa tentang hal ini.“Orang Yahudi akan dan harus jatuh. Orang Yahudi akan dan harus dibasmi! Ini adalah kepercayaan suci kami!”

Tanggal 9 November 1938 merupakan tanggal yang paling menakutkan dalam rangkaian hari-hari yang mengubah nasib orang Jerman. Sesuatu yang sangat kontras dari tanggal 9 November 1989, hari runtuhnya tembok Berlin, tidak dapat dibayangkan. “Gila” merupakan kata yang paling sering didengar pada malam ini, ketika perbatasan secara tak terduga dibuka untuk rakyat Jerman Timur. Memang beberapa bulan sebelumnya sudah ada protes melawan kelompok penguasa di Berlin Timur. Ribuan orang melarikan diri melalui Hungaria dan kedutaan Jerman di negara-negara Eropa Timur.

Tekanan untuk mempermudah ijin berpergian bagi rakyat Jerman Timur semakin membesar setiap harinya. Tetapi tidak ada yang memperkiran hal ini: Ketika aturannya diumumkan akan segera berlaku pada konfrensi pers internasional di Jerman Timur, tidak ada yang dapat menghentikannya lagi. Ribuan bergegas menuju perbatasan yang berada di tengah kota Berlin yang masih terbelah. Kegembiraan tanpa batas.

Setelah malam ini, semuanya berubah. Lubang pertama di tembok Berlin meruntuhkan seluruh sistem yang tidak sehat. Untuk keempat kalinya, sejarah ditulis pada tanggal 9 November. Kali ini sebuah keberuntungan.