Militer Myanmar Tembak Mati 8 Demonstran, Indonesia Desak Pertemuan ASEAN | DUNIA: Informasi terkini dari berbagai penjuru dunia | DW | 19.03.2021
  1. Inhalt
  2. Navigation
  3. Weitere Inhalte
  4. Metanavigation
  5. Suche
  6. Choose from 30 Languages
Iklan

Myanmar

Militer Myanmar Tembak Mati 8 Demonstran, Indonesia Desak Pertemuan ASEAN

Situasi di Myanmar kian memanas setelah pihak keamanan menembak mati 8 orang demonstran pada Jumat (19/03). Presiden Jokowi desak ASEAN agar segera mengadakan pertemuan.

Warga Myanmar berjalan di barikade yang dibuat swadaya

Massa penentang kudeta secara swadaya membuat barikade di jalan-jalan di Myanmar

Pasukan keamanan Myanmar menembak mati tujuh pengunjuk rasa pada hari Jumat (19/03) dalam bentrokan dengan pengunjuk rasa yang berdemonstrasi menentang junta militer di pusat kota Aungban, portal berita Myanmar Now melaporkan.

Seorang pengunjuk rasa lainnya sempat dibawa ke rumah sakit, tetapi meninggal karena luka-luka yang diderita, demikian dikonfirmasi seorang pekerja layanan pemakaman setempat kepada kantor berita Reuters.

Pasukan keamanan berusaha menyingkirkan barikade yang dibuat massa di kota itu. Mereka awalnya menggunakan gas air mata untuk membubarkan pengunjuk rasa, tetapi kemudian melepaskan tembakan, menurut laporan saksi.

"Pasukan keamanan datang untuk menyingkirkan barikade tetapi orang-orang melawan dan mereka melepaskan tembakan," kata seorang saksi mata yang menolak disebutkan namanya, kepada Reuters.

Jumlah total korban tewas dalam protes selama beberapa pekan terakhir naik menjadi setidaknya 232, menurut penghitungan yang dilakukan oleh kelompok aktivis Assistance Association for Political Prisoners.

Para saksi melaporkan demonstrasi terjadi di kota Yangon - di mana polisi memaksa pengunjuk rasa untuk menyingkirkan barikade - serta di Mandalay dan pusat kota Myingyan dan Katha. 

Kekerasan di Myanmar, 18 Maret 2021

Massa berlindung dari tembakan proyektil aparat keamanan di balik barikade tumpukan karung di Yangon, Myanmar, pada 18 Maret 2021.

Kamis (18/03) junta militer menangkap juru bicara Liga Nasional untuk Demokrasi (NLD) - partai politik Aung San Suu Kyi, yang secara rutin memberikan informasi terbaru tentang kondisi pemimpin itu. Setidaknya dua anggota NLD tewas dalam tahanan.

Jokowi desak agar ASEAN bertindak

Presiden Indonesia Joko Widodo (Jokowi) dalam pidatonya pada hari Jumat menyerukan pemulihan demokrasi di Myanmar. Jokowi mendesak agar penggunaan kekerasan oleh militer di Myanmar segera dihentikan, sehingga tidak ada lagi korban berjatuhan.

"Keselamatan dan kesejahteraan rakyat harus menjadi prioritas utama. Indonesia juga mendesak agar dialog, agar rekonsiliasi segera dilakukan untuk memulihkan demokrasi, untuk memulihkan perdamaian dan untuk memulihkan stabilitas di Myanmar," ujar Jokowi. 

"Saya akan segera melakukan pembicaraan dengan Sultan Brunei Darussalam sebagai ketua ASEAN agar segera dimungkinkannnya diselenggarakan pertemuan tingkat tinggi ASEAN yang membahas krisis di Myanmar."

Awal Maret lalu, Indonesia telah memulai pembicaraan di antara negara-negara ASEAN untuk mengakhiri kekerasan terhadap demonstran di Myanmar, tetapi gagal mencapai kesepakatan apa pun. Anggota Perhimpunan Bangsa-Bangsa Asia Tenggara (ASEAN) secara umum menghindari mengomentari urusan dalam negeri masing-masing, tetapi krisis yang terjadi Myanmar telah membuat prinsip ini dipertanyakan.

Pasukan keamanan tahan dua jurnalis

Pihak berwenang juga melanjutkan tindakan keras mereka terhadap pers, menangkap dua wartawan termasuk satu reporter BBC. Media Myanmar, Mizzima News, melaporkan bahwa salah satu mantan reporternya, Than Htike Aung, dan jurnalis dari BBC berbahasa Burma, Aung Thura, ditahan oleh orang-orang yang tampaknya adalah aparat keamanan berpakaian preman di luar pengadilan di ibu kota Naypyitaw.

Para jurnalis berada di tempat tersebut untuk meliput proses hukum terhadap Win Htein, seorang pejabat senior yang ditahan dari Liga Nasional untuk Demokrasi. Sekitar 40 jurnalis telah ditangkap sejak kudeta 1 Februari. Sekitar setengahnya masih berada dalam tahanan, termasuk jurnalis Thein Zaw dari kantor berita Associated Press.

Sebuah pernyataan dari BBC mengatakan pihaknya sangat khawatir bahwa Aung Thura telah dibawa pergi oleh orang tak dikenal. "BBC menangani keselamatan semua stafnya di Myanmar dengan sangat serius dan kami melakukan segala yang kami bisa untuk menemukan Aung Thura," kata organisasi itu, seraya menambahkan bahwa dia adalah jurnalis terakreditasi dengan pengalaman pelaporan bertahun-tahun. BBC meminta pihak berwenang "untuk membantu menemukannya dan memastikan bahwa dia selamat."

ae/vlz (Reuters, EFE, dpa, Sekretariat Presiden, AP)

Laporan Pilihan